Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
MASIH dalam suasana Aktivasi Subak di Desa oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI. Hujan turun di sebuah merajan keluarga, tempat berstana-nya Sanghayang Dedari di Desa Rejasa, Penebel, Tabanan, Bali. Di sana sudah ada para sesepuh yang akan melakukan upacara Mapiuning. Mereka mengenakan baju putih suci, lengkap dengan udeng di kepalanya.
Upacara itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan atau meminta izin sebelum syair dari gending-gending Sangyang ditembangkan dan sebelum film dokumenter tentang ritual nangiang Ida Sanghyang Dedari akan digelar di sebuah layar. Ditonton bersama.
Dupa telah dinyalakan. Penghormatan menguar keluar wangi di sana. Dari seorang mangku, Made Subawa, genta atau kleneng berbunyi dengan mantra dalam hati. Bunga dilempar kemudian dan jatuh ke tanah. Air tirta menyusul jatuh ke tanah.

Made Subawa memimpin upacara sebelum kegiatan dimulai | Foto: tatkala.co/Rusdy
Begitulah upacara itu digelar sebelum Aktivasi Program Penguatan Ekosistem Kebudayaan di Desa-Desa Warisan Dunia Subak Tari Sanghyang Dedari di Desa Rejasa akan dimulai pada Minggu, 8 Desember 2024 di Balai Serba Guna Desa Rejasa. Sakral.
Di sana, terdapat beberapa kegiatan sebagai potensi pertunjukan atau sesuatu yang penting sebagai kebudayaan leluhur, antara lain nonton bersama video dokumenter tentang ritual Nanjang Ida Sanghyang Dedari, menembangkan syair gending-gending Sangyang, serta megibung tum dan timbungan, kuliner khas Desa Rejasa.
“Sudah kita ketahui bersama, di dalam pengelolaan subak, tidak dapat terlepas dari unsur sekala dan ritual niskala,” jelas I Gede Wayan Wihastra, Perbekel Desa Rejasa.

Kegiatan Aktivasi Program Penguatan Ekosistem Kebudayaan di Desa-Desa Warisan Dunia-Subak di Desa Rejasa | Foto: tatkala.co/Rusdy
Kemudian ia melanjutkan, bagaimana pemutara dokumenter itu memiliki tujuan untuk mempertahankan kawasan pertanian mereka. Karena hasil pertanian merupakan kebutuhan pokok untuk kelangsungan hidup. Pun memiliki fungsi lain, yaitu untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan alam dan ekosistemnya demi kelangsungan hidup di masa yang akan datang.
“Mengenal lebih jauh dan mencintai budaya yang ada kaitannya dengan tradisi pertanian serta dapat menjaga kelestariannya,” lanjut Wihastra.
Tak kalah pentingnya, pula untuk menambah pengetahuan generasi muda Desa Rejasa tentang pentingnya kegiatan ini dilakukan tanpa melanggar norma-norma yang telah ada. Sebab ritual penghormatan sudah digelar.

Ibu-ibu sedang melantunkan gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa dalam kegiatan Aktivasi Program Penguatan Ekosistem Kebudayaan | Foto: tatkala.co/Rusdy
Dalam sebuah dokumentar, terlihat bagaimana ritual Nangiang Ida Sanghyang Dedari di Desa Rejasa itu dilakukan oleh beberapa orang, pergi memberi banten di subak, mengelilingi setiap rumah warga di banjar itu, tentu dalam rangka meminta rahmat, tolak bala, dan menghormati Sang Hyang Dedari di sana.
Kemudian, bagaimana gending-gending Sanghyang ditembangkan oleh enam ibu dan delapan bapak di atas panggung setelah menonton bersama itu. Syair berbunyi indah dilantunkan mereka serempak dengan tangga nada mereka yang khas.
Audiens tenggelam pada bunyi. Menyimak. Biasanya, Tari Sanghyang Dedari dilakukan mereka dengan cara berjalan kaki. Para warga mengitari subak atau tempat tinggal mereka dengan melantunkan gending-gending Sanghyang ketika ritual Nangiang Ida Sanghyang Dedari, barangkali itulah yang membedakan ritual adat Sangyang Dedari di Rejasa dengan daerah lain di Bali.[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...