Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
GOTAWA punya dua kebiasaan: mengikuti kegiatan sosial dan melukis. Kebiasaan yang pertama paling tidak ia lakukan beberapa kali setiap bulan. Kebiasaannya yang kedua ia curahkan setiap ada kesempatan, atau kapan pun Gotawa mau.
Kala itu adalah hari terakhir pelaksanaan pameran Arscademia #3 yang bertajuk “Spectrum of Hope”. Pameran yang dihelat di Gedung Kriya Taman Budaya Bali (Art Centre) ini melibatkan 42 mahasiswa dari 7 perguruan tinggi seni dan desain di Bali.
Sebagai orang yang gemar melukis, Gotawa tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia juga turut memamerkan lukisannya dalam pameran itu. Ini bukanlah pameran pertama yang diikuti olehnya, ia juga sempat mengikuti pameran di berbagai event. Tetapi untuk pameran Arscademia ini, adalah kali pertama ia bergabung.
Gotawa merupakan mahasiswa semester lima di program studi Pendidikan Seni Rupa, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Nama lengkapnya Putu Agus Gotawa, kawan-kawannya kerap menyapa dengan panggilan ‘Go’.
Pemuda yang lahir di Denpasar pada 11 April 2004 ini dikenal sebagai orang yang selalu aktif berkegiatan, ia selalu ingin mencoba hal-hal baru, tak jarang juga nyeleneh. Namun, itulah yang membuatnya menjadi unik, beda dari yang lain. Tentu saja ia masih muda, tetapi orang-orang terkadang terkecoh dengan usianya, karena penampilannya yang sering kali nyentrik.

Suasana pameran Arscademia #3 pada hari pertama | Foto: akun Instagram @guratinstitute
Pada pameran Arscademia #3 yang lalu, Gotawa menyajikan lukisan ekspresif yang ia beri judul “Wayang Muncul Lagi”. Sepenglihatan saya selama berkeliling di pameran itu, lukisan Gotawa adalah salah satu lukisan yang bernuansa tradisi dan satu-satunya lukisan yang menggunakan wayang sebagai objeknya.
Saya beberapa kali sempat menyambangi pameran-pameran yang diikuti oleh Gotawa, satu hal yang baru saya sadari adalah, ia merupakan pelukis yang menganut aliran ekspresif (ekspresionisme) dan cenderung menggunakan wayang sebagai objek lukisannya. Tentu, ini menjadi identitas dan ciri khas dari karya-karyanya.
Saat saya memasuki ruang pameran Arscademia #3, dari kejauhan saya sudah bisa mengenali yang mana lukisan Gotawa, saya pun langsung menghampiri lukisan tersebut untuk memastikan. Dan benar saja, lukisan wayang berukuran A3 itu adalah lukisan miliknya, tak ada partisipan lain yang melukis seperti itu.
Saya jadi teringat dengan novel Senja di Candidasa karya Gde Aryantha Soethama, sebuah novel yang menceritakan tentang lukisan wayang klasik yang lenyap dicuri. Barangkali lukisan wayang memang sebernilai itu, bisa saja suatu saat nanti lukisan wayang Gotawa menjadi lukisan yang dicari-cari dan diburu.
Pameran Arscademia #3 ini merupakan giat kolaborasi antara Taman Budaya Bali (Art Centre) dengan Gurat Art Project (Gurat Institute). Pameran tersebut dibuka pada 5 November 2024, dan berlangsung sampai 7 November 2024 lalu.
Mengutip dari akun Instagram @guratinstitute, gagasan awal pameran Arscademia yakni hendak menjembatani pertukaran ide dan pengalaman, serta memantik dialog dan inspirasi antara mahasiswa satu dengan lainnya. Juga bagi beberapa mahasiswa, sebagai tahap awal menata langkah mereka memasuki lebih dalam dunia seni rupa.

Lukisan “Wayang Muncul Lagi” karya Putu Agus Gotawa. Foto: tatkala.co/Dede
Hari terakhir pameran tampak sepi pengunjung, barangkali sudah banyak yang terpuaskan sedari hari pertama dan kedua. Awalnya saya hanya seorang diri menikmati pameran itu, hanya sendiri bersama 42 lukisan yang terpajang di dinding ruangan.
Tak berselang lama, Gotawa pun datang, rasanya seperti bertemu sahabat lama, Kami memang satu kampus, namun berbeda angkatan dan program studi. Kami amat jarang bertemu, tetapi sekalinya bersua, kami bisa bercakap-cakap panjang lebar, walaupun biasanya hanya obrolan ngalor-ngidul, tak jelas arahnya.
Gotawa ternyata memang ada di sana selama tiga hari pelaksanaan pameran tersebut. Ia selalu datang setiap harinya untuk melihat situasi pameran. Saat itu, kami berbincang tentang berbagai hal, termasuk membicarakan karya yang dibuatnya.
Kami bercakap-cakap begitu intim, pameran itu serasa milik kita berdua. Bercakap-cakap dengan dikelilingi puluhan lukisan, entah sudah berapa banyak camilan yang dihabiskan oleh Gotawa saat berbincang sembari berkeliling dengan saya.
Gotawa mengatakan, lukisan “Wayang Muncul Lagi” menceritakan kisah Kresna dan Arjuna. “Artinya, disetiap proses kehidupan, selalu ada Kresna dan Arjuna, ada yang menuntun dan ada pula yang dituntun,” jelasnya.
“Apalagi pascapandemi Covid 19, pasti banyak orang yang terbelenggu, merasa tidak bebas, dan dibaluti kesedihan. Artinya dengan “Wayang Muncul Lagi” ini, ada pembelajaran bagi semua mahluk, meski ditimpa kemalangan atau kesusahan, pasti selalu ada hal baik yang muncul,” sambungnya.
Bagi Gotawa, lukisan “Wayang Muncul Lagi” adalah karya yang belum jadi. Menurutnya, lukisan itu masih bisa ia sempurnakan lagi. “Bagi saya ini belum jadi, apalagi saya mengerjakannya dalam waktu yang lumayan mepet,” kata Gotawa.
“Terkadang pelukis itu menyelesaikan karyanya walaupun belum jadi. Ketika kita bilang hari ini jadi, besok hari bisa belum jadi. Karena ada banyak hal yang bisa ditambahkan. Semua seniman bisa menyebut karyanya tidak jadi. Tetapi, ‘tidak jadi’ juga bisa diartikan sebagai tanda ‘ketidakpuasaan’,” ujar Gotawa sembari menunjuk lukisannya.
Biasanya, lukisan yang dipajang di pameran selalu terjual setelahnya. Jadi, setiap ada pameran, Gotawa selalu membuat lukisan yang baru. Lukisan yang dibuatnya selalu memiliki kisahnya tersendiri. Terkadang, ia juga mengaitkan tema kegiatan dengan lukisannya.
“Untuk sekarang memang lebih cenderung melukis ekspresif dengan objek wayang. Ya bagi saya, kita kan harus punya identitas atau karakter. Sebetulnya bisa membuat yang lain, tetapi belum dapat feel-nya, jadi untuk saat ini saya mau memaksimalkan di ekspresif dulu. Mungkin memang perlu pengalaman dan jam terbang yang lebih lama.” jelasnya.

Gotawa di depan lukisan “Wayang Muncul Lagi”. Foto: tatkala.co/Dede
Selain melukis, Gotawa juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Kini ia bergabung bersama Social Project Bali, sebuah organisasi nonprofit yang bergerak di bidang pendidikan, lingkungan, dan sosial kemanusiaan.
“Jujur saja, kalau bersosial itu memang cita-cita saya. Tetapi dulu belum ada wadahnya. Sekarang sudah ada wadahnya seperti di Social Project Bali, jadi ya saya manfaatkan,” ujarnya.
Sebelum mengakhiri obrolan, Gotawa mengatakan berencana ingin membuat karya-karya dalam bentuk instalasi dan membuat pameran tunggal suatu saat nanti. Mendengar hal itu, tentu saya juga berharap agar itu benar-benar terjadi, hitung-hitung saya bisa punya teman seorang pelukis yang terkenal.
“Kedepannya ingin buat karya-karya dalam bentuk instalasi, dilengkapi dengan visualisasi karya. Begitupun pameran, tidak hanya pameran mainstream yang hanya diam, yang hanya dinikmati sekilas. Intinya saya berniat membuat sesuatu yang berkesan bagi banyak orang. Jadi ada sesuatu yang melekat setelah menyaksikan pameran, tidak hanya lewat begitu saja,” pungkasnya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...