Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
malam kian letih
engkau gadisku, tertidur di pangkuan sajak
kau baringkan segenap penat
kilau rambutmu membias dihembus angin liar
mengalun bagai orkestra rindu
menari-nari dalam gesekan harpa
begitu lembut,
seakan lentik jemarimu menghitung garis-garis cahaya
engkau gadisku, hadirkan pesona rindu
menyusup di antara larik malam
kutuangkan desah napasmu dalam cawan mimpi
meski puisiku lebih hidup dalam nafasmu
entah di mana bedanya, rindu dan gelisah
sama-sama memancar makna di bening matamu
ingin kusatukan itu dalam rak ingatanku
mengudapnya, hingga sayap sajakku patah
engkau gadisku, tidurlah dalam buaian sajakku
mengarungi hari demi hari
biarkan matahari yang menghitungnya
Malang, 2024
melingkar malam
di sepi bangkumu
wajah rembulan menyapa tatapanmu
seakan membaca keresahanmu
engkau gadisku, menebar rindu
merebak di cahaya malam
sinar itu, menikam keindahan aromamu
hingga serangga malam terkesima
rentangkan jejaring angin, satukan cahaya
engkau gadisku, panorama malam
tak lekang didera angin
tak pupus dibasuh cemas
tak goyah diterpa prahara
sekujur tubuhmu, meluap kenangan
semerbak wangi, hilangkan keraguanku
engkau gadisku, di benang rindu
kusulam kegelisahanmu
menggelar bingkai, kupuisikan namamu
hingga bait-baitku jatuh terlelap
aku memeluk bayanganmu di tempayan mimpi
Malang, 2024
senja melangit, tatapanmu rapuh
aroma bulgari terhempas angin
jenjang lehermu membasah peluh
biru langit mulai beranjak
meninggalkan sebongkah gelisah
nyanyikan syair langit
yang belum sempat kutulis
engkau gadisku, lekuk tubuhmu serupa diksi
meramu mimpi menuju kesempurnaan
dan kueja sebatang mawar, tinggalkan tradisi
kusatukan cahaya di lentik matamu
hitam dan putih, menjadi bait rindu
di setiap kalimat yang menggigil kuyup
hingga kabut sutera malam
bagaikan selimut rindu
berlari pancarkan pesona rembulan
seperti rona wajahmu
bersembunyi di kolong-kolong mimpiku
Malang, 2024
senja rapuh, rebah di pangkuan cakrawala
lalu lalang manusia serupa gemintang tanpa cahaya
kata-kata pun beranjak merangkai diksi
memurkai lorong-lorong persembunyian
haruskah puisi berdiam diri
menatap kelap-kelip lampu
di setiap sudut kota
yang mungkin tak pernah tertidur
menyala membara di tungku perapian
bangkitkan gairah ingatan
seakan ingin membakar langit
dari bisingnya jelaga
waktu pun beringsut penat
tinggalkan pematang jalan
di simpang jalan, bangku-bangku mulai sepi
angin hening tertunduk malu
bertirakat dalam kata-kata
lalu mengeja, kota Jakarta
kelak langit merah memayunginya
Malang, 2024
terkadang ada pagi yang indah
ditinggalkan embun
menguap tanpa jejak
hanya tersisa aroma bunga
menusuk di lekuk tubuhmu
hingga tatapanku terkesima
sekuntum cahaya datang menyapa lembut
dan aku tahu, angin akan mencabiknya
Malang, 2024
tatapanmu terkesima langit
seakan ingin menerobos putihnya sinar
pikiranmu berkelana menggapai angan
menelungkup di tepian telaga bertilam angin
perlahan beranjak, tinggalkan sutera selimut malam
setelah melumat semua keindahan mimpi
di tengah kerinduan itu, engkau gadis berpita jingga
matamu menghunjam batas pandang
berkelindan menembus pekatnya malam
hingga lentik alis matamu terkulai
‘kaubaringkan segenap penat
pada tempayan mimpi
setelah waktu tersungkur, ringkih
rebah di pangkuan senja
di tepian telaga, riak air mulai membisu
engkau gadis berpita jingga menerka arah angin
kemarau pergi, terlunta-lunta di atas bahu angin
genggaman aroma tubuhmu mulai rapuh
tertusuk rindu di antara garis-garis cahaya
kini, anganmu tertidur pulas
sebelum pesona malam hadir kembali
dan gesekan biola mengalun lembut mengiringinya
bagai embuskan buaian rindu di antara jemari ilalang
senandungkan asmaradana dalam dekapan kegelisahan hatimu
air telaga pun menyusup disela jenjang kakimu
menghentak lamunan kunang-kunang
seakan ingin menerka apa yang tersimpan dalam dadamu
malam terlalu letih untuk bersimpuh
seringkas mimpi, menjemput sinar pagi
cahaya melesat, hangatkan rerumputan
di kejauhan atap rumah, sepasang merpati bercengkerama
seperti membaca keresahan hatimu
lalu dituangkan ke dalam bejana waktu
hingga puisiku tersungkur, tak mampu lagi mengeja makna cinta
Malang, 2024
dekaplah keraguanku
mengudar dari sepasang ingatan retak
semusim aku telah linglung berjalan
menyusuri kota yang tertidur
mataku senantiasa terantuk, puing-puing distopia
hari-hari berlari
jadi pengembaraan panjang
aku menengadah, di atas sana
bangkai matahari menghunus tajam
sorotnya perih dan sesakkan dada
seakan menjelma mantra sihir
entah datang dari mana
kerikil pun mendera telapak kaki
bagai segumpal aksara luka
aku mulai kehilangan makna
wajahmu samar, seperti lukisan abstrak
semua rindu berganti rupa, sunyi
jari-jari tanganku serupa tarian delusi
apakah sajak telah menisbatkan kemurkaan
hari ini, sisa-sisa musim
menyampul waktu dari lorong kesunyian
asap-asapnya menggaris aksara
mengalir, lenyap di hujan legam
parasnya, tembok-tembok pengap
tidak ada lagi lisan mampu kuucapkan
nalar menjelma sketsa angan tak berwujud
kerinduan menggumpal, tersekat di pangkuan cemas
sajakku terkulai, berulang kali kubaca:
--- engkau adalah akhir dari awal ceritaku, dan aku adalah penggalan duka, saat engkau menyudahi rindu —
Malang, 2024
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...