Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MASA lalu adalah satu keniscayaan dari setiap orang, masyarakat, bangsa, dan negara. Masing-masing memiliki kisah masa lalu yang menjadi bagian dari sejarah. Bentuknya bisa berupa peristiwa, bangunan, tempat ibadah, maupun ketokohan.
Sejarah bukan hanya berupa catatan maupun dokumentasi yang ditulis dalam buku. Sejarah juga bukan sekadar cerita dari generasi tua kepada yang muda. Orang dapat menikmati sejarah dalam bentuk perjalanan wisata.
Indonesia banyak memiliki objek wisata sejarah yang terbentang dari ujung barat hingga ke timur. Minat orang untuk mengunjungi objek wisata sejarah pun belakangan mulai meningkat. Artinya, perjalanan wisata tidak semata mengeksplorasi alam, tetapi juga merekonstruksi masa lalu.
Banyak ragam objek wisata sejarah. Paling populer dikenal dan dikunjungi wisatawan adalah candi. Borobudur merupakan candi terbesar di dunia yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra, memiliki nilai sejarah besar bagi bangsa Indonesia. Borobudur menjadi tempat ibadah umat Budha dari berbagai negara.
Candi Prambanan merupakan objek wisata sejarah sekaligus budaya dan agama. Legenda Roro Jonggrang dan sendratari Ramayana menjadikan Prambanan menjadi incaran wisatawan. Selain bernilai sejarah, Prambanan juga merupakan tempat ritual bagi umat Hindu.
Benteng peninggalan kolonial menjadi objek wisata sejarah yang sering dikunjungi wisatawan. Indonesia banyak memiliki objek wisata sejarah berupa benteng. Sebut saja Benteng Fort Rotterdam di Makassar, Benteng Vredeburg di Yogya, serta benteng pendem yang ada di beberapa daerah.
Kota tua banyak diminati wisatawan. Apalagi kini kota tua dikemas menjadi objek wisata sejarah yang instagramable. Kota Tua di Jakarta merupakan objek wisata sejarah yang terdiri dari berbagai spot, seperti museum, taman, dan pelabuhan. Kota Tua Semarang, Jawa Tengah memiliki bangunan kuno yang bersejarah dan ikonik.
Tempat ibadah berbagai agama di Indonesia juga menjadi tujuan wisata sejarah. Banyak masjid peninggalan Walisongo di Jawa yang ramai dikunjungi wisatawan, baik untuk kepentingan rekreasi maupun ibadah. Begitu pula dengan Pura, Kelenteng, maupun gereja yang bernilai sejarah karena dibangun ratusan tahun silam.
Motif Berwisata
Wisatawan mengunjungi objek wisata sejarah dengan berbagai alasan. Motif kognitif menjadi salah satu alasan. Wisatawan ingin mempelajari kehidupan suatu masyarakat atau bangsa di masa lalu. Ada tambahan wawasan yang diperoleh wisatawan.
Motif imajinatif juga menjadi alasan orang berwisata ke tempat-tempat bersejarah. Orang akan membayangkan heroisme tokoh yang terlibat dalam peristiwa sejarah masa lalu. Imajinasi tentang objek wisata sejarah akan membuat wisatawan seolah menjadi bagian dari pelaku sejarah.
Objek wisata sejarah mampu membangkitkan motif afektif wisatawan. Muncul perasaan bangga pada perjuangan tokoh ketika mengunjungi objek wisata. Diorama yang ada di museum maupun monumen perjuangan dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan bangga pada sosok pahlawan.
Mengunjungi objek wisata sejarah juga dapat membangkitkan motif aktualisasi diri. Wisatawan merekonstruksi sejarah melalui tempat, peristiwa, maupun tokoh di masa lalu. Melalui heroisme tokoh yang disaksikan di satu monumen atau museum, wisatawan terinspirasi untuk menjadi seperti tokoh itu. Wisatawan kemudian ingin mengaktualisasikan diri dengan membuat sejarah baru; misalnya ingin menjadi tokoh atau pahlawan di bidang keahlian yang dimilikinya.
Do’s and Don’ts
Wisata sejarah sangat sensitif terhadap kerusakan benda-benda bersejarah serta perilaku negatif wisatawan selama berkunjung. Oleh karena itu perlu langkah-langkah pemajuan dan pelestarian wisata sejarah, baik oleh pengelola maupun wisatawan.
Pengelola objek wisata sejarah perlu menjaga keaslian benda-benda peninggalan sejarah. Jangan sampai, lantaran tergoda oleh tren wisatawan yang ingin swafoto di objek wisata, tampilan bangunan bersejarah dipugar atau ditambahi spot foto yang justru mengurangi nilai keasliannya.
Peningkatan angka kunjungan objek wisata sejarah juga perlu diupayakan pihak pengelola. Hal itu bermanfaat untuk mengenalkan warisan sejarah kepada wisatawan. Selain itu, retribusi yang diperoleh dari wisatawan dapat memberi kontribusi pada perawatan benda-benda bersejarah.
Do’s and Don’ts berupa aturan atau larangan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wisatawan perlu dinformasikan. Wisatawan wajib menjaga kebersihan di objek wisata sejarah, agar tidak menimbulkan kesan kotor dan kumuh.
Perilaku negatif wisatawan dapat dicegah dengan adanya Do’s and Don’ts. Kadang terjadi vandalisme yang dilakukan wisatawan di objek wisata sejarah. Vandalisme bisa dalam bentuk corat-coret di objek wisata, merusak benda bersejarah, maupun mencuri.
Tata tertib berkunjung perlu dilakukan secara ketat kepada wisatawan. Objek wisata sejarah biasanya memiliki waktu operasional yang berbeda dengan objek wisata lain. Begitu pula dengan benda-benda yang boleh dan tidak boleh dibawa ke dalam objek wisata.
Objek wisata sejarah biasanya mewajibkan wisatawan untuk bersikap, berkata, dan berperilaku yang sopan. Apalagi banyak objek wisata sejarah yang disakralkan oleh masyarakat. Begitu pun wisata sejarah yang bernilai agama, perlu adab yang baik dari wisatawan. Melalui wisata sejarah wisatawan bukan hanya menyaksikan warisan sejarah yang tak ternilai harganya, tetapi juga dapat mempelajari jati diri suatu bangsa. Sejarawan Amerika David McCullough menyebutkan, sejarah adalah siapa kita, dan mengapa kita seperti ini.[T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...