Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
“JANGAN pernah merasa hidup down sendiri, jangan pernah merasa hidup paling sial sendiri. Semua orang pernah mengalami quarter life crisis,” ujar perempuan muda itu dengan penuh semangat.
Quarter life crisis merupakan periode kebingungan, ketidakpastian, dan pencarian jati diri yang sering dialami oleh individu di usia sekitar 20-30-an. Ini adalah fase transisi yang normal, di mana banyak orang mulai mempertanyakan pilihan hidup mereka, tujuan masa depan, dan makna hidup secara keseluruhan.
Pengertian tersebut diungkapkan langsung oleh Gusti Ayu Ryana Mahasari dalam kegiatan pembukaan musyarawah mahasiswa yang di selenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja di aula Rektorat Kampus Menjangan, Jumat (9/8/2024).
Dalam diskusi yang dihadiri oleh seluruh ketua organisasi kemahasiswan STAHN Mpu Kuturan Singaraja, perempuan yang akrab disapa Ryana itu menjelaskan bahwa ada enam ciri-ciri dari individu yang mengalami quarter life crisis. Pertama, sering mengalami ketidakpastian seperti contohnya merasa apa yang diperbuat tidak sesuai dengan yang direncanakan.

Ryana sedang menjelaskan quarter life crisis | Foto: Panitia
Kedua, perasaan terjebak. Manusia pasti pernah berada dalam lingkungan yang toxic atau terjebak pada pilihan yang salah. Ketiga, keraguan diri. Ragu akan kemampuan yang dimiliki itu menandakan sedang mengalami Quarter life crisis.
Keempat, perbandingan diri. Sering mengadu nasib dengan orang lain dan suka membandingkan diri sendiri. Kelima, merasaketakutan akan masa depan. Dan keenam, perubahan minat.
Ryana yang merupakan lulusan S2 psikologis sains di Universitas Surabaya itu juga menjelaskankan bahwa ada ciri-ciri lain yang sedang mengalami quarter life crisis.
“Ada empat hal yang menjadi penyebab terjadinya quarter life crisis di ¼ umur manusia ini. Di antaranya tekanan sosial, perubahan besar, kurangnya arah, dan pengembangan diri,” jelas perempuan yang berprofesi sebagai konselor itu.
Ryana menarik benang merah dari isu tersebut bahwa jika tidak memiliki pondasi yang kuat saat masa kecil dan remaja, maka ketika dewasa pondasi kehidupan akan goyah hingga cepat runtuh.
Guru BK di SMKN 3 Singaraja itu juga memberikan solusi bagaimana cara mengatasi quarter life crisis.
Menurutnya, ada enam yang bisa dilakukan untuk mengatasi quarter life crisis seperti selalu bersyukur atas hidup yang diberikan, menerima perasaan yang sedang dialami, dan mencari dukungan ke pergaulan yang bisa membawa hal yang positif.
“Ke empat menjaga kesehatan, membuat perencanaan dalam kehidupan, dan mengembangkan minat yang dimiliki,” ujar perempuan yang berumur 31 tahun itu.
Di akhir penjelasannya, Ryana berpesan kepada mahasiwa STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang hadir pada kegiatan tersebut agar jangan menikah di usia muda.
“Saya berpesan kepada teman-teman yang hadir di sini, agar tunda dulu planing nikah muda. Karena dunia rumah tangga itu bukan cuma tentang enaknya aja, tapi ada banyak hal yang harus disiapkan,” ungkapnya.[T]
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
Reporter: Gede Agus Eka Pratama
Penulis: Gede Agus Eka Pratama
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...