Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PADA saat Dewa-Dewi yang diikuti para Apsara-Apsari ditugaskan turun ke bumi, Dewa yang paling bersemangat ikut adalah Dewa Rudra.
Dewa yang memiliki kemampuan di bumi serupa Siwa itu, sangat tak sabar untuk ikut mengambil peran. Sebenarnya Mahadewa ragu mengijinkan Rudra untuk menjelma menjadi manusia, karena kesaktiannya bisa membuat Rudra melupakan kedewataannya.
"Sebagai Panglima Perang Sorga, kesaktianmu tanpa tanding. Bali hanya pulau kecil yang disorgakan, kehadiranmu memang bisa memberi kebaikan, tetapi juga keburukan. Hanya kamu Dewa yang bisa beralih menjadi Kala, " Mahadewa berusaha membendung hasrat Rudra yang berapi-api.
"Panglima Perang Sorga, hanya simbol, bukankah sudah ada Mahadewa yang maha tahu dan maha segala, perkenankan hamba turun ke bumi. Jika tuanku khawatir dengan kesaktian hamba yang bisa menghancurkan Bali, hamba akan menjelma menjadi tiga orang manusia yang berbeda, sebagai brahmana/pendeta, ksatria /raja dan wesya/sudra, " jelas Rudra, langsung menciptakan dirinya sendiri, mengambil peran sebagai Brahma.
Pada arah mata angin Bali, Dewa Rudra ditempatkan di arah Barat Daya, tempat pertemuan pertiwi (material) dan teja (panas). Beliau bersenjatakan mosala, senjata yang berasal dari perpaduan esensi material yang dipanaskan, tajam di kedua ujungnya berwarna jingga.
Sebagai jelmaan Dewa Rudra Tiga itu sama-sama memiliki wajah dan tubuh yang nyaris sempurna. Gagah, berwibawa dan tampan. Rudra satu menjadi petani dan pengusaha yang sukses kaya raya, yang mengantarnya menjadi penguasa. Rudra Dua, menjadi raja dan Rudra Tiga menjadi pendeta.
Kehadiran Rudra Tiga yang terpisah sangat dipuja dan disanjung. Benar-benar dipuja bak Dewa di dunia, karena bisa memberi cahaya penerang, memelira dan menghancurkan keangkaraanmurkaan.
Rudra satu suka memberi materi, sehingga banyak dipuji. Rudra dua mengandalkan sakti sehingga tak ada yang berani. Rudra tiga menampakkan suci, sehingga dihormati.
Tetapi secara sendiri-sendiri Para Rudra itu gelisah, tak percaya diri, sehingga sibuk mencari-cari lawan untuk diajak berkelahi.
"Akulah Rudra, penguasa dunia, semua harus tunduk padaku. Sebagai Rudra aku bisa mencipta, memelihara juga melebur, " Para Rudra mulai lupa kedewaannya.
Yang raja merasa suci, yang pendeta merasa sakti, yang wesya merasa menguasai.
Hentah kenapa yang suci dan sakti, pecah kongsi, saling caci, saling maki, paling mau menang sendiri. Merasa diri paling mumpuni.
Saat raja dan pendeta berkelahi, yang jadi korban keluarga sendiri. Kesucian dan kesaktian dipakai membohongi. Tinggal Rudra Satu bermain sendiri, sesuka hati. Sebagai penguasa, dengan memberi materi Rudra Satu merasa sakti dan suci.
Niatnya menguasai Bali, bersama para sakti dan yang berlagak suci. Seperti penjudi, mengira semua bisa dibeli.
Bali, Bali duh Bali, Mahadewa tersungging, , sesungging senyumnya memberi cinta kasih, Padma yang menjelma trisula, menikam pikiran, kata-kata dan perbuatan.
Kala Rudra meraung, memohon pengharmonisan, pahyangan (sistem peyakinan), pawongan (kemanusiaan) dan palemahan (alam lingkungan). Saatnya manusia Bali beritual juga dengan darma laksana selain darma wacana. [T]
[][][]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...