Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PEMBERANGKATAN haji merupakan momen tahunan yang besar bagi masyarakat Jembrana, karena hampir seluruh umat Muslim di sana ikut mengantar jamaah sampai ke Pelabuhan Gilimanuk untuk bertolak ke Surabaya. Tradisi ini sering disebut dengan “Ninjo Haji”.
Saya tidak tahu kapan tradisi ini dimulai, yang jelas, sejak saya masih kecil, Ninjo Haji sudah ada---bahkan mungkin jauh sebelum saya dilahirkan.
Yang unik dari Ninjo Haji adalah, setelah jamaah haji Kabupaten Jembrana dilepas untuk diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo di Surabaya, masyarakat yang ikut Ninjo Haji pun melanjutkan perjalannannya ke tempat-tempat rekreasi bersama sanak keluarga secara rombongan.
Menurut informasi yang saya dapat, dulu, pengantar jama’ah haji bisa sampai ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, setelah itu pengantar akan berekreasi di kota tersebut. Namun, sekarang, hampir semua jama’ah mengantar, paling jauh, hanya sampai di Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.
Tapi sebagaian besar hanya mengantar sampai di Pelabuhan Gilimanuk atau di Masjid Besar Al-Mubarok saja. Meski jarak mengantar bergeser cukup jauh---yang awalnya sampai Surabaya sekarang hanya sampai Gilimanuk, tapi kebiasaan lama tidak berubah, yakni mengunjungi tempat wisata secara beramai-ramai.
Karena tradisi ini sudah mendarah daging, yang terasa wajib diikuti setiap tahunnya, biasanya para anak-anak yang bersekolah justru memilih untuk meliburkan diri, termasuk juga pekerja non formal seperti buruh, anak buah perahu di Desa Airkuning, Pengambengan, maupun sekitarnya.
Kalau sudah tiba hari untuk Ninjo Haji, kebanyakan murid sekolah atau madrasah di desa tersebut banyak yang tidak masuk, mereka lebih memilih untuk dimarahi gurunya karena membolos ketimbang tidak dapat ikut Ninjo Haji yang hanya berlangsung satu kali setiap tahunnya.

Menurut sejarah, tradisi Ninjo Haji ini dimulai berkaitan dengan tradisi sebelum keberangkatan yang sering disebut dengan Ziarah Haji. Di mana masyarakat terlebih dahulu berziarah haji di rumah masing-masing calon jama’ah haji yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekah, baik secara perorangan maupun secara berjama’ah.
Tradisi Ninjo Haji---meninjau haji---sudah berlangsung sejak lama dan masih berlanjut setiap tahun di musim haji. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga, sanak famili dari calon jama’ah haji, dan juga masyarakat Muslim Jembrana.
Pada zaman dulu, rombongan calon jama’ah haji Jembrana menunaikan ibadah haji melalui jalur laut. Mereka pergi dengan naik kapal laut, sehingga rombongan diantar menuju pesisir selatan Kota Negara, tepatnya di Dusun Muara, Desa Pengambengan.
Setelah adanya pesawat udara yang berembarkasi di Bandara Juanda Surabaya, sejak saat itu para keluarga dan sanak famili mulai mengantarkan rombongan jama’ah haji melalui jalur darat menuju Surabaya melalui Pelabuhan Gilimanuk. Jama’ah haji dan rombongan peninjau bersama-sama menyeberang menaiki kapal laut ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Di masa sekarang, apabila sudah ada penetapan haji untuk tanggal keberangkatan haji, maka pada umumnya seluruh calon haji se-Kabupaten Jembrana itu berkumpul di suatu tempat yang telah ditetapkan oleh pihak Panitia Haji Kementerian Agama Kabupaten Jembrana. Di tempat yang telah ditentukan itulah, biasanya para rombongan jama’ah haji akan diberikan kata pelepasan oleh Bupati Jembrana selaku kepala daerah.
Di sisi lain, Tradisi Ninjo Haji juga ditunggu-tunggu oleh para pedagang, baik para pedagang di kawasan rekreasi Gilimanuk, maupun pedagang di pesisir pantai lainnya seperti lesehan ikan bakar di Desa Candikusuma, Pebuahan, dll.
Karena sudah menjadi kebiasaan turun temurun, para jamaah peninjo haji akan menjajakan makanan sekitar di tempat rekreasi atau saat perjalanan pulang ke rumah masing-masing secara rombongan, sehingga mendatangkan berkah bagi para pedagang.[T]
Reporter: Ananta Kurnia
Penulis: Ananta Kurnia
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...