17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
TIDAK dapat dipungkiri, bahwa pembangunan dan pengembangan pariwisata di suatu negara selalu akan membawa dampak. Postifnya, pariwisata dianggap mendatangkan keuntungan ekonomi, devisa negara, maupun pendapatan nasional. Secara sosial, pariwisata juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi penduduk.
Dampak negatif pariwisata juga tidak dapat dihindari. Pariwisata sering dituding sebagai sumber terjadinya kerusakan lingkungan. Pencemaran air laut dan sungai, sampah, erosi tebing, dan abrasi pantai merupakan masalah lingkungan sebagai dampak buruk pariwisata.
Mengantisipasi terjadinya dampak negatif pariwisata, beberapa negara menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Konsep ini bertujuan agar pengembangan pariwisata di satu destinasi berwawasan lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan. Bukan hanya secara ekologis, keberlanjutan juga diharapkan secara ekonomis, sosial, dan budaya.
Sayangnya, konsep pariwisata berkelanjutan itu menjadi macan ompong, di atas kertas belaka. Perkembangan pariwisata sulit dikendalikan. Apalagi hasrat pembangunan pariwisata bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja, tetapi juga merambah ke pelosok pedesaan.
Kritik Berkelanjutan
Konsep pariwisata berkelanjutan yang sebenarnya cukup ideal tidak dapat berjalan dengan baik. Hal ini terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Eksploitasi terhadap lahan tetap terus terjadi atas nama pariwisata.
Konflik kepentingan yang ditimbulkan oleh pengembangan pariwisata di daerah juga kerap terjadi. Lembaga sosial di desa sebagai representasi masyarakat yang mestinya sebagai pemilik sah pariwisata di daerah juga sering bertikai. Semua ingin berperan di garda depan pengelolaan pariwisata.
Kucuran kue pariwisata pun tak begitu deras mengalir ke masyarakat. Sebab pariwisata yang seharusnya mendatangkan pemerataan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi terganjal oleh kekuatan ekonomi yang datang dari luar.
Atas dasar kenyataan itu, konsep pariwisata berkelanjutan mendapat kritik. Salah satu kritik dilontarkan oleh Bellato dkk ( dalam Yesaya Sandang, 2023). Bellato menyatakan, paradigma berkelanjutan dalam pariwisata menghasilkan perspektif yang melihat manusia tetap terpisah dari alam. Pariwisata tetap menciptakan hubungan persaingan antara manusia dengan alam maupun antara sesama manusia.
Dimensi ekonomi masih tetap dominan dalam pembangunan pariwisata ketimbang dimensi sosial dan lingkungan. Dominasi sektor swasta dan pemerintah membuat kerangka kerja pariwisata bergerak dari atas ke bawah. Pariwisata berkelanjutan pada akhirnya menjadi rezim yang terpusat, terstandarisasi, dan tersegmentasi.
Orientasi pembangunan pariwisata pada pertumbuhan ekonomi banyak menimbulkan masalah. Eksploitasi terhadap alam akibat dominasi perusahaan besar di sektor pariwisata sulit dikendalikan. Apalagi dalam beberapa kasus, pemerintah cenderung berpihak pada korporasi dibanding kepada masyarakat ketika terjadi sengketa pembangunan pariwisata.
Satu masalah yang sulit dihindari juga dari pariwisata yang mengagungkan pertumbuhan ekonomi adalah over tourism. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke satu destinasi terlalu banyak. Dampaknya, pariwisata semakin tidak terkelola dan terkendali dengan baik. Kerusakan lingkungan dan kemerosotan kualitas hidup masyarakat adalah konsekuensinya.
Pariwisata Regeneratif
Menanggapi tumpulnya konsep pariwisata berkelanjutan, muncul pariwisata regeneratif (regenerative tourism). Konsep pariwisata regeneratif dianggap melampaui pariwisata berkelanjutan. Bahkan pariwisata regeneratif dianggap sebagai solusi dengan fokus pada pemulihan, regenerasi lingkungan, dan peran masyarakat lokal.
Dapat dikatakan, regenerative tourism merupakan evolusi dari konsep sustainable tourism dengan fokus yang lebih kuat pada restorasi dan pemulihan. Pariwisata regeneratif memiliki prinsip utama berupa keterlibatan komunitas, konservasi dan restorasi lingkungan, keberlanjutan ekonomi, serta pendidikan dan kesadaran (Nurdin Hidayah, 2023).
Komunitas lokal perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan mendukung partisipasi mereka dalam manfaat ekonomi pariwisata. Kerusakan lingkungan perlu diperbaiki melalui kegiatan pemulihan, penghijauan, dan praktik keberlanjutan.
Pariwisata regeneratif memastikan keberlanjutan kegiatan ekonomi lokal dengan mengurangi ketergantungan pada pariwisata massal dan memprioritaskan produk lokal lewat UMKM. Pemahaman tentang arti penting konservasi lingkungan perlu ditingkatkan kepada wisatawan dan penduduk lokal.
Beberapa negara telah sukses menerapkan pariwisata regeneratif. Taman Nasional Bwindi di Uganda berhasil melindungi dan memulihkan populasi gorila gunung sambil memberdayakan komunitas lokal dan memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Negara lain yang sukses mengembangkan pariwisata regeneratif adalah Inggris, Slovenia, Kanada, dan Australia.
Indonesia banyak memiliki potensi alam, sosial, dan budaya. Saatnya pariwisata regeneratif diterapkan, agar masa depan alam dapat dipertahankan, kehidupan sosial budaya terlestarikan, dan manfaat ekonomi dapat menyejahterakan masyarakat. [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...