Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
TIDAK dapat dipungkiri, bahwa pembangunan dan pengembangan pariwisata di suatu negara selalu akan membawa dampak. Postifnya, pariwisata dianggap mendatangkan keuntungan ekonomi, devisa negara, maupun pendapatan nasional. Secara sosial, pariwisata juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi penduduk.
Dampak negatif pariwisata juga tidak dapat dihindari. Pariwisata sering dituding sebagai sumber terjadinya kerusakan lingkungan. Pencemaran air laut dan sungai, sampah, erosi tebing, dan abrasi pantai merupakan masalah lingkungan sebagai dampak buruk pariwisata.
Mengantisipasi terjadinya dampak negatif pariwisata, beberapa negara menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Konsep ini bertujuan agar pengembangan pariwisata di satu destinasi berwawasan lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan. Bukan hanya secara ekologis, keberlanjutan juga diharapkan secara ekonomis, sosial, dan budaya.
Sayangnya, konsep pariwisata berkelanjutan itu menjadi macan ompong, di atas kertas belaka. Perkembangan pariwisata sulit dikendalikan. Apalagi hasrat pembangunan pariwisata bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja, tetapi juga merambah ke pelosok pedesaan.
Kritik Berkelanjutan
Konsep pariwisata berkelanjutan yang sebenarnya cukup ideal tidak dapat berjalan dengan baik. Hal ini terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Eksploitasi terhadap lahan tetap terus terjadi atas nama pariwisata.
Konflik kepentingan yang ditimbulkan oleh pengembangan pariwisata di daerah juga kerap terjadi. Lembaga sosial di desa sebagai representasi masyarakat yang mestinya sebagai pemilik sah pariwisata di daerah juga sering bertikai. Semua ingin berperan di garda depan pengelolaan pariwisata.
Kucuran kue pariwisata pun tak begitu deras mengalir ke masyarakat. Sebab pariwisata yang seharusnya mendatangkan pemerataan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi terganjal oleh kekuatan ekonomi yang datang dari luar.
Atas dasar kenyataan itu, konsep pariwisata berkelanjutan mendapat kritik. Salah satu kritik dilontarkan oleh Bellato dkk ( dalam Yesaya Sandang, 2023). Bellato menyatakan, paradigma berkelanjutan dalam pariwisata menghasilkan perspektif yang melihat manusia tetap terpisah dari alam. Pariwisata tetap menciptakan hubungan persaingan antara manusia dengan alam maupun antara sesama manusia.
Dimensi ekonomi masih tetap dominan dalam pembangunan pariwisata ketimbang dimensi sosial dan lingkungan. Dominasi sektor swasta dan pemerintah membuat kerangka kerja pariwisata bergerak dari atas ke bawah. Pariwisata berkelanjutan pada akhirnya menjadi rezim yang terpusat, terstandarisasi, dan tersegmentasi.
Orientasi pembangunan pariwisata pada pertumbuhan ekonomi banyak menimbulkan masalah. Eksploitasi terhadap alam akibat dominasi perusahaan besar di sektor pariwisata sulit dikendalikan. Apalagi dalam beberapa kasus, pemerintah cenderung berpihak pada korporasi dibanding kepada masyarakat ketika terjadi sengketa pembangunan pariwisata.
Satu masalah yang sulit dihindari juga dari pariwisata yang mengagungkan pertumbuhan ekonomi adalah over tourism. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke satu destinasi terlalu banyak. Dampaknya, pariwisata semakin tidak terkelola dan terkendali dengan baik. Kerusakan lingkungan dan kemerosotan kualitas hidup masyarakat adalah konsekuensinya.
Pariwisata Regeneratif
Menanggapi tumpulnya konsep pariwisata berkelanjutan, muncul pariwisata regeneratif (regenerative tourism). Konsep pariwisata regeneratif dianggap melampaui pariwisata berkelanjutan. Bahkan pariwisata regeneratif dianggap sebagai solusi dengan fokus pada pemulihan, regenerasi lingkungan, dan peran masyarakat lokal.
Dapat dikatakan, regenerative tourism merupakan evolusi dari konsep sustainable tourism dengan fokus yang lebih kuat pada restorasi dan pemulihan. Pariwisata regeneratif memiliki prinsip utama berupa keterlibatan komunitas, konservasi dan restorasi lingkungan, keberlanjutan ekonomi, serta pendidikan dan kesadaran (Nurdin Hidayah, 2023).
Komunitas lokal perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan mendukung partisipasi mereka dalam manfaat ekonomi pariwisata. Kerusakan lingkungan perlu diperbaiki melalui kegiatan pemulihan, penghijauan, dan praktik keberlanjutan.
Pariwisata regeneratif memastikan keberlanjutan kegiatan ekonomi lokal dengan mengurangi ketergantungan pada pariwisata massal dan memprioritaskan produk lokal lewat UMKM. Pemahaman tentang arti penting konservasi lingkungan perlu ditingkatkan kepada wisatawan dan penduduk lokal.
Beberapa negara telah sukses menerapkan pariwisata regeneratif. Taman Nasional Bwindi di Uganda berhasil melindungi dan memulihkan populasi gorila gunung sambil memberdayakan komunitas lokal dan memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Negara lain yang sukses mengembangkan pariwisata regeneratif adalah Inggris, Slovenia, Kanada, dan Australia.
Indonesia banyak memiliki potensi alam, sosial, dan budaya. Saatnya pariwisata regeneratif diterapkan, agar masa depan alam dapat dipertahankan, kehidupan sosial budaya terlestarikan, dan manfaat ekonomi dapat menyejahterakan masyarakat. [T]
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...