Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
TAK boleh leha-leha. Bali menghadapi serangkaian tantangan serius terkait krisis air. Ini diperparah oleh perubahan iklim dan pertumbuhan industri pariwisata yang tidak terkendali.
Tantangan serius terkait krisis air, antara lain tingkat air tanah yang terus menurun, eksploitasi sumber daya air, dan kurangnya kesadaran akan keberlanjutan lingkungan menciptakan ketidakseimbangan yang mengancam ketersediaan air tanah di pulau ini.
Apa yang harus dilakukan? YayasanIDEP memperkenalkan Bali Water Protection (BWP). Program ini bertujuan memperkuat model manajemen sumber daya air di Provinsi Bali, dengan fokus pada komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat. BWP menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan air dan membangun kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kelangkaan air dan dampak perubahan iklim.
Tindakan nyata dilakukan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng. Di Munduk, Yayasan IDEP bekerjasama dengan Politeknik Negeri Bali didukung oleh Save the Children Indonesia membangun dua sumur pemanen air hujan (sumur imbuhan).
Dengan adanya sumur di desa tersebut, langkah-langkah konservasi ekosistem air tanah yang berkelanjutan tetap dibutuhkan. Bersaman dengan perayaan Hari Air Sedunia pada hari Jumat, 22 Maret 2024, IDEP juga menyelenggarakan kegiatan sosialisasi sumur pemanen air hujan, penanaman pohon, temu jurnalis, dan diskusi publik di Pura Desa/Puseh Desa setempat.
“Fungsi dari sumur ini adalah mengembalikan air hujan ke dalam tanah yang selama ini menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki daya serap tanah yang tidak begitu baik di beberapa lokasi. Munduk termasuk lokasi yang memiliki area serapan yang baik. Selain itu, air tanah yang diserap di lokasi Munduk akan diterima dan dimanfaatkan oleh Buleleng bagian utara dan bagian selatan,” kata Muchamad Awal selaku Direktur Eksekutif Yayasan IDEP.
Penanaman pohon dilakukan dengan melibatkan masyarakat desa setempat secara aktif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi langsung dalam pelestarian air tanah. Ada pun kelompok masyarakat yang terlibat adalah Kelompok Tani (Poktan) lokal dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Melalui keterlibatan kelompok ini ada harapan supaya tercipta sinergi yang berkelanjutan antara pelestarian tanah, pertanian berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, kegiatan tersebut menjadi model inovatif yang dapat diadopsi oleh komunitas di wilayah-wilayah Bali yang menghadapi tantangan serupa. Pemilihan varietas tanaman juga Menyesuaikan dengan karakteristik lingkungan lokal dan penerapan teknik penanaman yang efektif akan menjadi fokus utama untuk menciptakan model yang terukur dan berhasil.
“Di hari ini kita juga melakukan kegiatan penanaman, bagi-bagi bibit kopi, dan diskusi. Kenapa memilih bibit kopi untuk dibagikan, karena masyarakat setempat merasa perlu untuk melengkapi varietas yang lain yakni kopi sebagai tanaman yang dapat menahan dan menyerap air sehingga bisa memperkuat permukaan tanah dan menghindari dari longsor,” katanya. [T][ado/Rls]
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...