Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
TRANSFORMASI guru agar ke depan menjadi lebih adaptif dan fleksibel sehingga mendorong siswa lebih maju dalam rangka melaksanakan merdeka belajar.
Itulah yang dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng Gede Suyasa saat membuka kegiatan Puncak Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun ke-78 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja, Sabtu, (25/11).
Melalui Tema HGN, "Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar," Sekda Suyasa menggambarkan perlunya guru memotivasi siswa untuk maju dalam menyukseskan merdeka belajar, dan siap menghadapi perubahan, terutama di era digitalisasi.
"Guru, sebagai faktor strategis, memiliki peran penting dalam keberhasilan pendidikan yang membentuk dasar dan mengembangkan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Buleleng I Made Astika menjelaskan bahwa peringatan setiap tanggal 25 November adalah bentuk apresiasi terhadap peran, dedikasi, dan jasa guru di seluruh Indonesia.
Guru, sebagai pendidik profesional, memiliki tugas mulia dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didiknya.
"Dengan semangat Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-78, Kabupaten Buleleng berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan guru," terangnya.
Disisi lain, Ketua PGRI Kabupaten Buleleng, Nyoman Purnayasa, melaporkan bahwa PGRI Kabupaten Buleleng telah menyelenggarakan berbagai kegiatan di bidang olahraga, seni, akademik, dan kemanusiaan.
"Program "PGRI Berbagi" melibatkan guru berprestasi untuk meningkatkan profesionalisme, termasuk memastikan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah-sekolah Kabupaten Buleleng," katanya. [T][Ado/*/Adv]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...