Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
---Catatan KKN STAHN Mpu Kuturan Singaraja di Desa Gerokgak
DESA GEROKGAK, salah satu desa di Kecamatan Gerokgak yang menjadi pilihan saya menjalani kegiatan Kuliah Kerja Nyata selam lima minggu ke depan. Bersama dua puluh dua teman dari program studi yang berbeda, kami akan tinggal di satu tempat yang sama, yaitu aula kantor desa gerokgak.
Perasaan canggung tentu menyelimuti saya di awal pertemuan, belum lagi dari dua puluh dua teman KKN, tidak ada satu pun yang saya kenal dengan akrab. Afirmasi-afirmasi positif terus saya tanamkan---setidaknya mengurangi sedikit penyesalan saya, karena harus berpisah dengan teman-teman sekelas lainnya.
“Setelah penyerahan mahasiswa KKN, nametag dan almamater kampus bisa kalian tinggalkan di posko. Kalian bebas eksplore Desa Gerokgak; kalian harus menyatu dengan warga lokal, agar tidak sia-sia mengikuti KKN,” ucap Pak Adi, selaku dosen pembimbing kami selama melakukan KKN di Desa Gerokgak.
Pak Adi banyak memberikan saran dan masukan terkait kegiatan KKN yang akan kami laksanakan ke depannya. Ya, bertemu dosen pembimbing yang mengerti mahasiswa menjadi poin lebih bagi saya, ketika harus menyesuaikan diri kembali dengan teman-teman yang belum saya kenal.

Beberapa mahasiswa STAHN Mpu Kuturan yang sedang KKN di Desa Gerokgak / Foto: Dewa Ayu
Minggu pertama di Desa Gerokgak kami isi dengan menelusuri batas-batas wilayah di Desa Gerokgak, kami juga melakukan observasi ke tempat-tempat wisata, melakukan ngayah dan mengunjungi rumah-rumah kepala dusun yang ada di Desa Gerokgak untuk mengetahui potensi yang ada di desa tersebut.
Bendungan Gerokgak merupakan salah satu tempat wisata yang menarik dikunjungi yang ada di Desa Gerokgak. Selain itu, air panas yang bersumber dari sumur bor juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang saat ini sedang diperjuangkan izinnya untuk dijadikan tempat wisata.
Sebagai mahasiswa yang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Hindu, tidak lengkap rasanya jika tidak mengulik wisata religi yang ada di Desa Gerokgak. Pura Niang Ayu, Pura Kahyangan Tiga, dan Pura Taman sudah kami kunjungi sebelumnya untuk melaksanakan mepiuning, sekaligus ngayah.

Pura Base Desa Gerokgak / Foto: Dewa Ayu
Selain beberapa pura yang sudah kami kunjung, ada salah satu pura yang disarankan untuk kami datangi, yaitu Pura Base. “Kalo bisa, nanti cewek-cowok boncengan, jalannya lumayan ekstrem, usahakan bawa motor yang memadai, dan siapkan tenaga karena perjalanan lumayan jauh,” saran dari Pak Mangku Kepala Dusun Gerokgak ketika kami berkunjung ke rumahnya dua hari sebelum melakukan perjalan ke Pura Base.
“Pura Base ini cukup unik, karena berada di hutan. Pura Base ini memiliki sumber air yang tidak pernah surut, air bendungan Gerokgak itu asalnya dari Pura Base,” ungkap Istri Pak Mangku turut bergabung dalam percakapan waktu itu.
Berbekal rasa penasaran kami memilih Pura Base sebagai salah satu tujuan wisata religi kami ketika melaksanakan KKN di Desa Gerokgak. Sebelum berangkat, sehari sebelumnya, kedua teman saya melakukan pengoleman ke Jro Mangku Pura Base, agar besoknya bisa ikut mendapingi kami ke Pura Base sekaligus juga nganteb banten pejati yang kami bawa.
***
Dering alarm bersahut-sahutan membangunkan kami di sekretariat KKN Desa Gerokgak. Satu per satu dari kami mulai bergegas bersiap-siap; ada yang langsung memilih mandi, ada yang sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat, beberapa lainnya memilih pergi ke pasar untuk membeli pejati, canang, rarapan, dan sarana persembahyangan lainnya.
Sementara yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing saya masih duduk memperhatikan mereka, pikiran saya masih melayang mengingat yang disampaikan istri dari Pak Mangku, barangkali ada hal yang harus dan yang tidak boleh saya lakukan sebelum melakukan persembahyangan ke Pura Base, dan membayangkan perjalan yang nantiya akan kami lalui.
Setengah sembilan tepat, kami sudah selesai dengan persiapan masing-masing. Semua sudah mendapatkan pasangannya cewek-cowok. Sialnya, hanya saya yang belum mendapatkan pasangan. Bagaiman tidak, hari itu sisa kami berduapuluh di posko. Bahkan salah satu dari kami harus membonceng Jro Mangku.
Sehingga, dengan modal nekat saya memilih untuk mengendarai motor sendiri. “Niat baik, semoga diikuti hal-hal baik juga,” ucap saya kepada diri sendiri untuk mengurangi ketakutan harus melewati perjalanan jauh menuju Pura Base.
Dari Aula Kantor Desa Gerokgak, tempat yang kami jadikan sekretariat KKN, kami menuju Pura Base dengan menempuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Dari lamanya perjalan ke Pura Base, lebih banyak perjalan kami melewati hutan dan juga sungai yang airnya sudah sedikit mengering.
Kanan kiri jalan yang kami lewati terdapat pohon-pohon menjulang tinggi---jalan yang hanya cukup untuk satu motor. Di beberapa jalan yang kami lewati, mereka yang berboncengan terpaksa harus turun berjalan kaki karena jalan yang tidak memungkinkan untuk dilewati.

Sungai yang harus dilewati saat menuju Pura Base / Foto: Dewa Ayu
Benar kata Pak Mangku dua hari yang lalu, jalan yang kami lewati cukup ekstrem, beberapa jembatan terbuat dari kayu yang tampak sudah sedikit lapuk. Perasaan takut menghinggapi kala melewati jembatan tersebut. Syukurnya, di perjalanan salah satu teman saya mengajukan diri untuk membonceng saya, mengingat saya sendiri takut harus melewati jembatan yang sama di depan.
Tiga puluh menit kami lalui dengan berboncengan, dan kurang lebih sekitar lima belas menit harus kami lewati dengan berjalan kaki karena ada aliran sungai yang tidak terdapat jembatan. Jembatan yang sudah ada sebelumnya tampak sudah roboh sehingga tidak memungkin untuk kami lewati menggunakan motor.
Setelah menempuh perjalanan yang membuat kami hampir menyerah, kami tiba di Pura Base. Hawa sejuk menyambut kami ketika memasuki area pura. Dan seperti pura pada umumnya, Pura Base memiliki wantilan sebagai tempat untuk para pemedek beristirahat sejenak setelah melalui perjalanan yang cukup jauh. Di wantilan tersebut kami juga mempersiapkan sarana persembahyangan.

Sembahyang bersama di Pura Base / Foto: Dewa Ayu
Pura Base, dari pandangan saya cukup unik. Begini. Pada umumnya, ketika memasuki pura kita akan melalui tiga pembagian wilayah yang sering disebut tri mandala (konsep pembagian wilayah yang membagi bangunan pura menjadi tiga bagian yakni Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala).
Namun, di Pura Base kita langsung memasuki utama mandala, di mana antara nista dan madya mandala hanya dibatasi daun-daunan sebagai pagar pembatas. Kelian Subak Desa Gerokgak menyebutkan bahwa Pura Base merupakan tempat ngayat sembahyang ke Pura Subak sehingga hanya ada utama mandala saja.
Memasuki utama mandala Pura Base, dipandu langsung oleh Jro Mangku kami melakukan persembahyangan dengan khidmat, rasa lelah kami perlahan sirna digantikan rasa syukur karena dapat melalui perjalanan yang beberapa hari sebelumnya kami pikir tidak dapat lalui, namun pada akhirnya dapat kami lewati dengan selamat.
Perjalan ke Pura Base mengajarkan saya, sesulit apa pun perjalan yang saya akan hadapi ke depanya, barangkali tidak serumit yang ada dipikiran saya, sehingga saya perlu melewatinya agar tahu sejauh mana saya bisa melangkah menuju puncak tujuan saya.[T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...