Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
DRESTARASTA sebagai raja kerajaan Hastina sadar betul bahwa dirinya tidak pernah dinobatkan secara langsung menjadi raja. Ia adalah pengganti adiknya yang bernama Pandu. Raja Pandu memutuskan untuk mengasingkan diri ke tengah hutan karena terkena kutukan dari Resi Kindama yang tanpa sengaja dipanahnya ketika sedang bersenggama dalam wujud kijang. Pandu dikutuk akan langsung mati apabila ia bersenggama dengan istrinya. Karena situasi inilah ia mengasingkan diri dan meninggalkan tahta kerajaan.
Meski dalam kondisi fisik yang buta, Drestarasta tetap berusaha memutar roda pemerintahan sebaik-baiknya, seperti pula adiknya dulu. Ia bersikap adil kepada rakyatnya dengan cara memberikan imbalan dan hukuman yang setimpal atas perilaku mereka. Drestarasta memimpin Kerajaan Hastina dengan landasan sastra.
Situasi kerajaan mulai berubah ketika istri Pandu yang bernama Kunti diketahui melahirkan lima orang putra. Putra Kunti tersebut memang tidak langsung berasal dari hasil hubungan suami-istrinya dengan Pandu, tetapi kekuatan memanggil para dewata untuk memberikannya keturunan. Kekuatan ini adalah anugerah dari Resi Durwasa, pendeta pemarah yang berhasil dilayaninya dengan sangat sempurna. Mantra pemanggil para dewata itu bernama Aditya Hredaya. Dengan kekuatan mantra tersebut, Kunti memanggil Bhatara Dharma, Bayu, Indra, dan Aswina. Dari para dewa ini lahirlah Panca Pandawa yaitu Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa.
Kelahiran Putra Pandu membuat hati Drestarasta gusar. Ia ketakutan jika tampuk kekuasaan Negeri Hastina akan segera baralih ke tangan Panca Pandawa, meski itu memang hak anak-anak Pandu seutuhnya. Kegusaran inilah yang mendorong Drestarasta kemudian menyuruh paksa agar istrinya dengan cepat melahirkan. Bantuan dari Bhagawan Byasa menyebabkan kelahiran para putra Drestarasta berhasil.
Haus kekuasaan yang dirasakan oleh Drestarasta ternyata terwaris kepada anaknya, terutama tampak jelas dalam perangai Duryodhana dan Dursasana. Demi meraih kedudukan sebagai pangeran, sejak kecil dua putra laki-laki Drestarasta itu sesungguhnya sudah melakukan berbagai tindakan kriminal.
Dengan hasutan dari Sangkuni, Duryodhana berani mencampurkan racun di makanan Bhima hingga putra kedua Pandu itu terkulai lemas. Dalam situasi seperti itu, Duryodhana menghanyutkan Bhima ke dalam sungai yang dalam dan deras. Meski terbukti bersalah atas kejadian ini, Drestarasta tidak berani memberikan hukuman kepada anaknya. Ia sangat sayang kepada putranya dan ingin agar Duryodanalah yang menjadi raja Hastina.
Tindakan pembiaran yang dilakukan Drestarasta justru semakin membuat Duryodana merasa kebal hukum. Ketika dewasa, ia dengan Sangkuni merencanakan jebakan untuk membakar Panca Pandawa.
Pembakaran ini dilakukannya dengan melibatkan tuan rumah tempat anak-anak Pandu menginap. Walaupun rencananya berjalan lancar, Panca Pandawa berhasil menyelamatkan diri dari amukan api. Sekali lagi, Drestarasta tidak bergeming. Ia dengan kekuasaannya sama sekali tidak menghentikan tindakan brutal anaknya.
Tindakan bengis Duryodhana semakin memuncak ketika dua kerajaan yaitu Hastina dengan Indraprasta telah dibagi. Dalam suatu undangan persahabatan di Negeri Hastina, putra tertua Drestarasta itu mencurangi Pandawa ketika bermain dadu. Karena terlalu konservatif terhadap aturan, Yudhistira akhirnya mempertaruhkan kerajaan, saudara, dan istrinya sendiri.
Hal itulah yang menyebabkan Dewi Drupadi-istri Pandawa hampir saja dipermalukan dan diperkosa di balai persidangan Kerajaan Hastina. Untuk kesekian kalinya, Drestarasta cuci tangan terhadap keadaan. Meskipun seorang perempuan dipermalukan di hadapan balai siding. Ia bungkam.
Keseluruhan tindakan Duryodhana secara tidak langsung mendapatkan dukungan dari Raja Hastina. Drestarasta tidak bisa membedakan kedudukan dirinya, sebagai orang tua bagi Duryodhana atau menjadi orang tua bagi seluruh rakyat di negerinya. Hasrat menjadikan Duryodhana sebagai raja menjadikan Drestarasta mengalami situasi buta total. Ia tak mampu melihat dengan mata fisik sekaligus mata hati. Oleh sebab itulah berbagai tindakan kriminal yang dilakukan putra-putranya seolah mendapat restu darinya.
Tujuan utama nepotisme yang dilakukan Drestarasta terhadap Duryodhana adalah pembentukan dinasti yang ingin dibangun dari trahnya sendiri. Jika kekuasaan berada di bidak keluarga maka segala nikmat berupa materi dan kekuatan mengatur orang lain ada di genggamannya. Meski banyak pustaka Nitiraja sasana telah mengingatkan bahaya melimpahkan kasih (norana sih manglewihana sih ikang atanaya) yang berlebih kepada anak, Drestarasta tetap melakukannya.
Maka pada bagian akhir kisah Bharata Yuddha kita menyaksikan kehancuran kerajaan Hastina, termasuk pula kematian seluruh anak kesayangannya. Nepotisme sebagai laku yang lebih memilih hubungan kekerabatan daripada kemampuan seseorang dalam titik terekstrimnya pasti mengantarkan pada kehancuran.
Hal ini juga akan terjadi dalam tatanan suatu negara apabila sistem nepotisme menyusup seperti hantu di dalamnya. Dalam ruang kebudayaan Bali, nepotisme diungkapkan dengan nada yang satir, buka bantene masorohan ‘seperti banten yang disesuaikan dengan jenis/golongannya’. Di mana benih nepotisme ditiup, di sana badai kehancuran siap dituai. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...