Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
DRESTARASTA sebagai raja kerajaan Hastina sadar betul bahwa dirinya tidak pernah dinobatkan secara langsung menjadi raja. Ia adalah pengganti adiknya yang bernama Pandu. Raja Pandu memutuskan untuk mengasingkan diri ke tengah hutan karena terkena kutukan dari Resi Kindama yang tanpa sengaja dipanahnya ketika sedang bersenggama dalam wujud kijang. Pandu dikutuk akan langsung mati apabila ia bersenggama dengan istrinya. Karena situasi inilah ia mengasingkan diri dan meninggalkan tahta kerajaan.
Meski dalam kondisi fisik yang buta, Drestarasta tetap berusaha memutar roda pemerintahan sebaik-baiknya, seperti pula adiknya dulu. Ia bersikap adil kepada rakyatnya dengan cara memberikan imbalan dan hukuman yang setimpal atas perilaku mereka. Drestarasta memimpin Kerajaan Hastina dengan landasan sastra.
Situasi kerajaan mulai berubah ketika istri Pandu yang bernama Kunti diketahui melahirkan lima orang putra. Putra Kunti tersebut memang tidak langsung berasal dari hasil hubungan suami-istrinya dengan Pandu, tetapi kekuatan memanggil para dewata untuk memberikannya keturunan. Kekuatan ini adalah anugerah dari Resi Durwasa, pendeta pemarah yang berhasil dilayaninya dengan sangat sempurna. Mantra pemanggil para dewata itu bernama Aditya Hredaya. Dengan kekuatan mantra tersebut, Kunti memanggil Bhatara Dharma, Bayu, Indra, dan Aswina. Dari para dewa ini lahirlah Panca Pandawa yaitu Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa.
Kelahiran Putra Pandu membuat hati Drestarasta gusar. Ia ketakutan jika tampuk kekuasaan Negeri Hastina akan segera baralih ke tangan Panca Pandawa, meski itu memang hak anak-anak Pandu seutuhnya. Kegusaran inilah yang mendorong Drestarasta kemudian menyuruh paksa agar istrinya dengan cepat melahirkan. Bantuan dari Bhagawan Byasa menyebabkan kelahiran para putra Drestarasta berhasil.
Haus kekuasaan yang dirasakan oleh Drestarasta ternyata terwaris kepada anaknya, terutama tampak jelas dalam perangai Duryodhana dan Dursasana. Demi meraih kedudukan sebagai pangeran, sejak kecil dua putra laki-laki Drestarasta itu sesungguhnya sudah melakukan berbagai tindakan kriminal.
Dengan hasutan dari Sangkuni, Duryodhana berani mencampurkan racun di makanan Bhima hingga putra kedua Pandu itu terkulai lemas. Dalam situasi seperti itu, Duryodhana menghanyutkan Bhima ke dalam sungai yang dalam dan deras. Meski terbukti bersalah atas kejadian ini, Drestarasta tidak berani memberikan hukuman kepada anaknya. Ia sangat sayang kepada putranya dan ingin agar Duryodanalah yang menjadi raja Hastina.
Tindakan pembiaran yang dilakukan Drestarasta justru semakin membuat Duryodana merasa kebal hukum. Ketika dewasa, ia dengan Sangkuni merencanakan jebakan untuk membakar Panca Pandawa.
Pembakaran ini dilakukannya dengan melibatkan tuan rumah tempat anak-anak Pandu menginap. Walaupun rencananya berjalan lancar, Panca Pandawa berhasil menyelamatkan diri dari amukan api. Sekali lagi, Drestarasta tidak bergeming. Ia dengan kekuasaannya sama sekali tidak menghentikan tindakan brutal anaknya.
Tindakan bengis Duryodhana semakin memuncak ketika dua kerajaan yaitu Hastina dengan Indraprasta telah dibagi. Dalam suatu undangan persahabatan di Negeri Hastina, putra tertua Drestarasta itu mencurangi Pandawa ketika bermain dadu. Karena terlalu konservatif terhadap aturan, Yudhistira akhirnya mempertaruhkan kerajaan, saudara, dan istrinya sendiri.
Hal itulah yang menyebabkan Dewi Drupadi-istri Pandawa hampir saja dipermalukan dan diperkosa di balai persidangan Kerajaan Hastina. Untuk kesekian kalinya, Drestarasta cuci tangan terhadap keadaan. Meskipun seorang perempuan dipermalukan di hadapan balai siding. Ia bungkam.
Keseluruhan tindakan Duryodhana secara tidak langsung mendapatkan dukungan dari Raja Hastina. Drestarasta tidak bisa membedakan kedudukan dirinya, sebagai orang tua bagi Duryodhana atau menjadi orang tua bagi seluruh rakyat di negerinya. Hasrat menjadikan Duryodhana sebagai raja menjadikan Drestarasta mengalami situasi buta total. Ia tak mampu melihat dengan mata fisik sekaligus mata hati. Oleh sebab itulah berbagai tindakan kriminal yang dilakukan putra-putranya seolah mendapat restu darinya.
Tujuan utama nepotisme yang dilakukan Drestarasta terhadap Duryodhana adalah pembentukan dinasti yang ingin dibangun dari trahnya sendiri. Jika kekuasaan berada di bidak keluarga maka segala nikmat berupa materi dan kekuatan mengatur orang lain ada di genggamannya. Meski banyak pustaka Nitiraja sasana telah mengingatkan bahaya melimpahkan kasih (norana sih manglewihana sih ikang atanaya) yang berlebih kepada anak, Drestarasta tetap melakukannya.
Maka pada bagian akhir kisah Bharata Yuddha kita menyaksikan kehancuran kerajaan Hastina, termasuk pula kematian seluruh anak kesayangannya. Nepotisme sebagai laku yang lebih memilih hubungan kekerabatan daripada kemampuan seseorang dalam titik terekstrimnya pasti mengantarkan pada kehancuran.
Hal ini juga akan terjadi dalam tatanan suatu negara apabila sistem nepotisme menyusup seperti hantu di dalamnya. Dalam ruang kebudayaan Bali, nepotisme diungkapkan dengan nada yang satir, buka bantene masorohan ‘seperti banten yang disesuaikan dengan jenis/golongannya’. Di mana benih nepotisme ditiup, di sana badai kehancuran siap dituai. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...