Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
DESA ADAT Sukawati menggelar pementasan Calonarang di Jaba Pura Dalem Gede Sukawati saat piodalan ageng, Jumat 1 September 2023.
Pementasan calonarang di Pura Dalem Desa Adat Sukawati memang selalu ditunggu pecinta calonarang. Seperti juga pada malam itu, penonton berdesa-desakan.
Selain karena calonarang dikenal sebagai pertujukan mistis, seniman yang terlibat juga mempertujukan penampilan yang sangat apik di dalam kalangan atau ditengah panggung. Masyarakat selalu berbondong-bondong agar dapat menonton pertunjukan yang ditampilkan secara rutin, sekali dalam setahun, itu.
Dalam pementasan itu adegan nguying atau mandung (menusuk rangda) dan bangke-bangkean (pemeran mayat), serta lawakan, sering menjadi soroton penonton. Namun ada sesuatu yang juga kerap menjadi perhatian, yakni Patih Madri.
Pada pementasan calonarang di Jaba Pura Dalem Desa Adat Sukawati itu Patih Madri diperankan I Kadek Budi Setiawan.
Patih Madri biasanya keluar, atau masuk ke tengah panggung, di babak-babak awal pementasan.
Kadek Budi Setiawan adalah pria asal Banjar Babakan Sukawati. Ia akrab disapa Dek Capung. Sepertinya hampir 20 tahun lebih ia memerankan Patih Madrid an tidak tergantikan oleh siapa pun.
Seingat saya, sejak masih disunggi di pundak bapak agar dapat menonton calonarang dengan tenang di tengah penonton yang berjubel, nama Dek Capung sangat familiar di telinga saya.
“Oh Dek Capung Madri ne!” Begitu biasanya guman penonton ketika Patih Madri masuk panggung.

I Kadek Budi Setiawan memerankan Patih Madri | Foto: Ist
Tidak tergantikannya Dek Capung sebagai pemeran Patih Madri tentu memiliki beberapa alasan. Sebagai penikmat seni calonarang dari berbagai pementasan yang pernah saya tonton, lengkingan suara Dek Capung dalam memerankan Patih Madri sangat khas. Belum ada yang memiliki suara yang demikian khas yang layak menggantikan Dek Capung sebagai Patih Madri.
Melalui suara itu penonton seakan dibawa untuk melihat sosok Patih Madri “nyata” di hadapan mereka.
Tandang, tangkep, tangkis Dek Capung sangat metaksu. Ditambah nyanyian dan bicaranya menggunakan bahasa kawi yang matang dengan bernada meninggi-merendah pada penggalan atau akhir kalimat, seakan penonton diajak menyelami masa lalu. Diimbuhi dengan wajah yang memumpuni Capung bak sosok Madri nyata yang ada dalam imajinasi penonton.
Calonarang dengan Patih Madri yang diperankan dek Capung ini memang selalu ditunggu-tunggu.
Disamping itu, kemampuan punakawan menghidupkan suasana membuat penonton tak merasa mengantuk dan tetap berada di depan panggung.
Tata letak kalangan (panggung) yang mendukung, khas kalangan Bali yang menyatu dengan penonton, juga membuat pementasan menjadi lebih hidup, sekaligus menambah kewibawaan Madri sebagai “bintang” dalam pertunjukan tersebut.
“Dari semua saya pernah tonton calonarang, disini paling bagus,” ujar seorang bule suatu kali ketika duduk menonton di samping saya.
Sedikit Tentang Patih Madri
Patih Madri adalah salah satu patih yang dimiliki Kerajaan Kadiri, di bawah penguasa Prabu Airlangga. Dalam masa pemerintahannya, sebuah Desa bernama Dirah, dilanda wabah. Masyarakat dilanda grubug (pandemi) banyak yang sakit dan mati mendadak.
Setelah diselidiki, penyebar teluh atau grubug ini adalah Ni Calonarang atau dalam pementasan calonarang disebut Walu Nateng Dirah (Janda Dari Dirah). Untuk menghadapi Walu Nateng Dirah, karena telah membuat rakyat Dirah menderita, diutuslah salah satu patihnya yakni Madri untuk menghadapi.
Singkat cerita, dalam perjalanan menuju Dirah, Patih Madri bertemu dengan Ni Rarung, salah satu murid Walu Nateng Dirah. Terjadilah pertempuran antara Mandri dan Rarung.
Dalam beberpa kesempatan Madri unggul menujukan dirinya sebagai punggawa Kerajaan Kediri yang bukan kaleng-kaleng.
Namun sayang saat Rarung mengubah dirinya menjadi Garuda Mas, Rarung berhasil mematuk mata Madri. Patih Madri pun dikalahkan.
Banyak yang berharap ke depannya ada lebih banyak lagi lahir Dek Capung-Dek Capung lain yang memerankan karakter Madri dengan sangat apik. Hingga Sukawati pun ke depan tidak kekurangan Mandri lagi. Para generasi Z akan bisa menikmati tontonan yang berkualitas. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...