SETIAP mendengar kabar seorang pemain drama gong meninggal, suara-suara kehilangan pasti terdengar lagi.
Banyak orang, pada tahun 1980-an dan 1990-an, begitu kesengsem dengan pemain-pemain drama gong yang begitu hidup di tengah panggung. Dan ketika pada tahun 2010 hingga tahun 2020-an, ada kabar seorang pemain drama gong meninggal dunia, orang-orang seperti kehilangan masa lalu yang begitu romantis.
Begitu juga terjadi ketika Ni Ketut Yudhani berpulang, Sabtu, 7 Oktober 2023 , orang-orang seperti mendengar kabar bahwa dunia panggung di Bali benar-benar telah mati.
“Tiang (saya) merasa kehilangan sekali atas berpulangnya Ibu Mangku Yudhani. Mogi beliau amor ing acintya, polih genah sane becik,” ujar Anak Agung Gede Oka Aryana, SH.,M.Kn., yang dikenal sebagai Ketua Paguyuban Drama Gong Lawas.
Bagi pemain drama gong yang kini tergabung dalam Paguyuban Drama Gong Lawas, sosok Yudhani termasuk salah satu pengelingsir yang banyak memberikan masukan, nasehat dan juga semangat kepada para anggota paguyuban berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan demi ajegnya seni drama gong di Bali.
Yudhani adalah pemeran permaisuri atau pendamping raja dalam seni drama gong yang begitu tenar pada masanya. Sebagai seseorang yang memerankan tokoh permaisuri, ia punya karakter sebagai pemain yang selalu bisa menghidupkan cerita, terutama dengan dialog-dialognya yang penuh makna.
Dalam keseharian di masa hidupnya, ia juga dikenal sebagai wanita yang berkarakter, punya sifat yang teduh, sabar, dan setia.
Ni Ketut Yudhani meninggal karena sakit. Sebelum menghembuskan nafas terakhir ia sempat dirawat sejak 30 September 2023 di RSUD Bangli.
Istri dari Wayan Kajeng ini meninggal diusia 70 tahun dengan meninggalkan seorang suami, 2 anak, dan 3 cucu,
Yudhani dikenal memiliki pengabdian tinggi dan gigih dalam melestarikan seni drama gong, serta gigih melestarikan. Untuk itulah ia diberikan tanda Penghargaan Adi Sewaka Nugraha oleh Pemerintah Provinsi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tahun 2022.
Darah seni wanita kelahiran Bangli, 26 Juni 1953 ini mengalir dari alm. ayahnya yang seorang penari Legong Terompong.
Oleh sang ayah, ia diajarkan menari legong dengan menggunakan gamelan pengiring dari kursi yang dipukul-pukul, sekitar tahun 1961. Ketika itu, ia belajar tari lepas, yakni Tari Margapati yang menceritakan gerak-gerak raja hutan.
Selanjutnya, ia berlatih di puri setelah diketahui oleh Dewa Agung Regent yang tinggal di Denpasar.
Ni Ketut Yudhani lalu ikut berlatih di puri setiap hari. Pada tahun 1963, ia diajak ikut festival menari legong di Denpasar. Ketika pentas di GOR Lila Bhuana ia baru merasakan pentas di atas panggung untuk pertama kalinya.
Ketika duduk di bangku SMP tahun 1967, ia baru mengenal drama sandiwara yang menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Berawal dari modal seni itu, ia kemudian bergabung dengan Drama Gong Blumbang Kabupaten Bangli. Di sana ia didapuk menjadi pemeran putri dan pentas pertama di Pura Dalem.
Seiring berjalannya waktu, Ni Ketut Yudhani selanjutnya bergabung di beberapa grup drama gong. Seperti, Drama Gong Bon Bali, Bintang Bali Timur selama setahun, Bali Dwipa, hingga yang paling lama yakni di Bara Budaya.
Selama menjadi pemain drama gong, ia kerap memerankan seorang permaisuri yang tersiksa. Namun, dengan kekuatan peran serta penjiwaan, ia berhasil menghipnotis penonton sehingga ikut masuk dalam peran yang dibawakan.
Sekitar 40 tahun hidupnya diabdikan untuk menghidupkan drama gong. Terakhir, ia pentas drama gong pada tahun 2009. Selain menjadi seorang seniman drama gong, selama hidupnya, Yudhani juga dulu bekerja sebagai pegawai administrasi di salah satu SMA di Bangli. [T][Pan/*]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...