Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian telah mengungkapkan keprihatinannya terhadap masalah tenaga honorer di lingkungan pemerintah daerah (Pemda) yang cenderung diisi oleh tim sukses (timses) atau keluarga kepala daerah.
Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Penguatan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang dihadiri oleh puluhan kepala daerah di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pusat.
Apa yang disampaikan oleh Tito Karnavian benar adanya. Pejabat daerah merupakan hasil dari proses politik. Sukses tidaknya seorang calon kepala daerah bergantung pada tim sukses. Setelah yang bersangkutan menjadi pejabat, dia mulai memikirkan diapakan tim suksesnya. Ini merupakan politik transaksional. “Aku dapat apa setelah kau jadi pejabat.”
Untuk membalas budi baik dari tim suksesnya, kepala daerah menempatkan tim suksesnya (termasuk keluarganya yang membutuhkan pekerjaan) di jabatan yang cukup strategis. Kalau tim suksesnya mempunyai kecakapan sesuai dengan kecakapannya tentu dapat diterima. Bagaimana jadinya apabila tim suksesnya tidak memiliki kecakapan dalam melaksanakan programnya. Ini yang bermasalah.
Celakanya lagi, kerabat kepala daerah diangkat menjadi tenaga honorer, tetapi instansi tersebut tidak membutuhkan tenaga honorer. Justru yang dibutuhkan adalah tenaga honorer yang mempunyai kualifikasi yang lain. Ini memang ironis.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di instansi pemerintahan tetapi juga terjadi di Lembaga Pendidikan Tinggi (PT). Pimpinan PT akan merekrut tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan kerabat atau para kroninya. Istilahnya adalah membangun sebuah dinasti dalam dunia pendidikan.
Masyarakat berpandangan sangat sulit menembuh dinasti itu. Perlu dicatat, tidak semua perekrutan melalui sistem dinasti tetapi ada juga yang lolos karena kemampuannya. Tetapi persentasenya kecil. Perekrutan melalui dinasti masih cukup besar.
Pendidik (dosen) yang bertugas di suatu perguruan tinggi, anaknya juga bekerja sebagai pendidik di PT tersebut. Kalau kerabat atau anaknya memang mempunyai kemampuan akademis dan kecakapan yang baik---bahkan sangat baik---hal ini tidak menimbulkan pertanyaan. Hal itu akan menjadi masalah apabila anak dan kerabat dosen tersebut tidak memiliki kompetensi yang baik.
Fakultas kedokteran merupakan fakultas yang favorit. Masyarakat menganggap fakultas kedokteran sulit tertembus. Anak yang mempunyai kemampuan akademis sangat bagus, kadang sulit juga menembusnya. Memang tidak semua anak yang pintar tidak diterima di Fakultas Kedokteran, cuma persentasenya kecil dibandingkan yang lulus melalui sistem dinasti.
Sistem dinasti memang tidak memberikan akses yang mulus bagi anak yang mempunyai kemampuan baik bahkan yang sangat baik. Lalu, kapan sistem dinasti ini akan hilang?
Sistem ini tentu sangat menghambat bagi anak yang memang mempunyai prestasi akademik sangat bagus. Ini bisa menimbulkan rasa skeptis dan keputusasaan bagi anak tertentu. Anak itu, tidak dapat meraih angannya. Padahal, anak tersebut telah belajar dengan baik, apalagi berprestasi dalam berbagai ajang perlombaan yang bergengsi.
Kapan dinasti ini bisa dieliminasi? Masyarakat mengharapkan, anak-anaknya mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk mengikuti pendidikan di fakultas favorit. Mutiara-mutiara itu hendaknya jangan dibuang dan disia-siakan.[T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...