MEMASUKI pertengahan bulan Agustus selalu menjadi momen spesial bagi seluruh masyarakat Indonesia, pun dengan saya. Dan tentu kita sepakat bahwa 17 Agustus adalah hari peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)---harga mati!
Pada momen-momen seperti sekarang ini, saya selalu teringat masa-masa saat masih duduk di bangku sekolah---dari SD sampai SMA---dulu. Saat kegiatan gerak jalan serius maupun kocak menjadi parade utama dan begitu semarak. Tak hanya itu, lomba-lomba seperti karnaval, sepade hias, makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, tarik tambang, hingga panjat pinang begitu melekat dalam ingat saya.
Dekorasi-dekorasi khas kemerdekaan: bendera merah putih, umbul-umbul, poster hingga banner-banner besar tampak berdesakan di gang-gang, jalan Besar, depan rumah, di kantor, dan di gedung-gedung. Guru-guru di sekolah sibuk melatih siswa-siswi terbaik mereka baris-berbaris untuk mengikuti lomba gerak jalan yang diadakan pemerintah daerah maupun kecamatan. Semua bergembira menyambut hari kemerdekaan.
Tak hanya perlombaan, diskusi atau pameran bertajuk pembangunan dan kemerdekaan pun banyak digelar.
Saya juga mengingat kembali saat menyelenggarakan acara Tegal Sari Ceria di Desa Les beberapa tahun silam. Saya menyelenggarakan acara tersebut sebanyak dua kali.
Melalui acara tersebut, saya beranggapan akan memberi kebahagian untuk meningkatkan produktivitas anak-anak di Desa Les yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Menurut saya, generasi juga perlu regenerasi. Pun begitu juga dengan perayaan, saya kira harus ada inovasi.
Waktu itu Tegal Sari Ceria mengadakan lomba lari, hitung tepat cermat cepat, panjat pisang, hingga lari kampil (atau balap karung), dengan hadiah berupa alat tulis, sembako, pisang dan hal-hal yang unik lainnya. Anak-anak hingga orang dewasa bergembira dalam menyambutnya---dan itu dianggap sebagai sebuah kecintaan terhadap tahah air.
Tapi itu semua hanya masa lalu. Beberapa tahun belakangan saya pikir seremonial semacam itu tak bisa sepenuhnya dianggap sebagai rasa cinta tanah air. Sebab, bagi saya hari ini, mencintai tanah air lebih dari sekadar memasang bendera, mengadakan lomba-lomba, atau diskusi refeleksi kemerdekaan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hal tersebut akan segera hilang ditelan waktu saat bulan sudah berganti---semua hilang dan tak ada sari yang tersisa.
Padahal, idealnya, mencintai tanah air itu berkelanjutan, berkesinambungan, terus-menerus, sampai akhir hayat. Merayakan kemerdekaan hanyalah sebagian kecil dari nasionalisme. Lantas, apa yang lebih besar dari seremoni perayaan kemerdekaan?
Sebagai orang yang suka jalan-jalan sekaligus anak petani garam, rasa cinta terhadap tanah air itu saya tunjukkan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu membeli dan menggunakan produk-produk lokal olahan para petani, pedang kecil, dan nelayan. Saya mencoba konsisten dengan hal ini.
Tak hanya membeli, saya juga terus membicarakan perjuangan para petani garam, petani gula juruh, petani arak, pembuat lengis tanusan, pembuat jajan Bali, sampai pelestari tradisi. Dengan begitu, saya berharap apa yang mereka lakukan bisa terlihat dan didengarkan.
Sekali lagi, bagi saya, menggunakan produk lokal adalah salah satu cara mencintai Indonesia. Dan Ini pula yang mendasari saya membuat wadah Roemah Usaha Cerik yang mempromosikan olahan-olahan lokal desa dan menghubungkan aktifitas petani dengan pemandangan alam Desa Les dalam program "Tourdeles".
Akhirnya, perayaan harus terus dirayakan sepanjang waktu dengan banyak hal. Kalau sampai diperingati saja tanpa ada tindakan nyata, itu namanya cinta monyet---cintanya para remaja labil yang menye-menye. Ayo, 17 Agustus tahun ini kita mulai mengurangi seremoni dan memperbanyak aksi. Merdeka Indonesiaku![T]
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi Tahun 2024 di lingkung...
DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens agar tetap antusias. Tiba-tiba terdenga...
JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), ratusan pasang mata fokus membaca, memahami,...
ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi Bali. Meja lipat tegak di depannya, dilengkapi berbagai...
Om Swastyastu,
Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, menghaturkan Selamat...
PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang berjalan teratur mempersembahkan ka...
MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna agar mem...
SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubu...
MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa betah tinggal di Ind...
TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.
"Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara...