Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
HARI RAYA Galungan dan Kuningan merupakan hari besar umat Hindu di Bali, selain Nyepi. Mengenai arti kata Galungan, seperti yang tertulis dalam laman Desa Sangeh, Kabupaten Badung, kata Galungan diambil dari bahasa Jawa Kuna yang berarti bertarung. Galungan disebut juga “dungulan” yang artinya menang. Dalam Kalender Saka Bali, Galungan jatuh setiap Buda Kliwon wuku Dungulan---di Jawa wuku kesebelas dikenal dengan sebutan wuku Galungan.
Dilansir dari laman Disperkimta Kabupaten Buleleng, perayaan Galungan dimaknai sebagai hari perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Pada perayaan Galungan, umat Hindu mengikuti persembahyangan untuk menghaturkan rasa syukur kepada Sanghyang Widhi Wasa atas terciptanya dunia serta segala isinya.
Sedangkan Hari Raya Kuningan---atau sering disebut juga Tumpek Kuningan---jatuh 10 hari setelah perayaan Galungan. Pada Hari Raya Kuningan umat Hindu akan melakukan pemujaan kepada para Dewa dan Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir batin.
Pada hari di mana Kuningan dirayakan, umat Hindu Bali menyakini para Dewa, Bhatara, yang diiringi para Pitara, turun ke bumi hanya sampai tengah hari. Oleh karenanya pelaksanaan upacara dan persembahyangan pada Hari Raya Kuningan dilakukan hingga tengah hari saja.
Dalam kesempatan yang berbahagia tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, Gede Supriatna, SH, bersama pimpinan dan seluruh anggota dewan mengucapkan selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan yang jatuh pada tanggal 2 Agustus dan 12 Agustus 2023 kepada seluruh masyarakat Kabupaten Buleleng.
“Om Swastiastu, titiang ngayanin pimpinan lan anggota DPRD Kabupaten Buleleng, ngaturang rahajeng rahina Galungan lan Kuningan. Dumogi semeton titiang sami, krama Buleleng, ngemanggihin kerahayuan lan kerahajengan. Tetap semangat untuk Buleleng yang lebih maju, lebih baik, dan sejahtera. Satyam Eva Jayate,” ucap Ketua DPRD Buleleng, Gede Supriatna, SH.
Supriatna, yang merupakan kader PDI Perjuangan Buleleng itu, meminta seluruh masyarakat Buleleng--- terutama umat Hindu---untuk tetap bersama-sama menciptakan dharma di dalam hati demi tercapainya kedamaian diri dan masyatakat. “Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan, dan perlindungan oleh Sang Hyang Widhi Wasa. Di hari yang penuh Dharma ini, mari kita selalu menyebarkan kebaikan kepada semua umat, agar bumi jauh dari mara bencana,” papar Supriatna.
Benar. Memang begitu seharusnya. Di hari yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan, di hari yang suci, doa-doa baik memang harus terus dipanjatkan, mantra-mantra baik harus terus dirapalkan. Bukan saja untuk diri, tapi juga untuk alam semesta. Bagimanapun, sesuai dengan kepercayaan umat Hindu, manusia hidup bersama yang sekala dan niskala.
Oleh karena itu, Supriatna berharap, melalui Hari Raya Galungan dan Kuningan ini, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, selalu memberikan tuntunan kepada semua umat manusia di Pulau Dewata---pulau yang kita tinggali, yang memberi kita harapan dan kehidupan.[T][Jas/Adv/*]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...