Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
IKUT TERPUKAU bersama penonton saat menikmati pentas “AH” dari Teater Mandiri pimpinan sastrawan maestro Putu Wijaya dalam rangka Festival Seni Bali Jani di Ksirarnawa Taman Budaya, 29 Juli 2023.
Kehebatan akting para pemain dan kekhasan lakon yang menteror mental gaya Putu Wijaya merupakan dua unsur utama penampilan Teater Mandiri yang membuatnya menjadi memukau selama hampir dua jam. Karena terpukau, waktu serasa cepat selesai atau terlampau tak terpantau.

Pentas "AH" Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, 29 Juli 2023 | Foto: Darma Putra
Relatif sedikit yang datang menonton pertunjukan hebat itu. Di barisan kursi depan, ada Bunda Putri Suastini Koster dan beberapa sahabat lamanya di Teater Mini Badung. Di belakang itu, ada budayawan, dosen, mahasiswa yang berminat pada teater, atau merupakan sahabat dan fans sastrawan maestro Putu Wijaya. Di sebelah saya duduk, misalnya, ada ahli filsafat Tommy F. Awuy, yang pensiun di Bali sambil terus meneliti kebudayaan.
Pentas ditayangkan lewat Youtube, jadi sebagian lainnya menonton secara daring.
Sedikit atau banyak penontonnya, pentas “Ah” Teater Mandiri benar-benar menghipnotis audiens. Pentas diawali dengan monolog oleh Putu Wijaya sendiri, di sisi utara panggung, di atas kursi roda. Dalam kondisi usia dan kesehatan yang agak akut, Putu Wijaya masih hebat tampil dengan konten cerita yang membolak-balik pikiran pendengarnya. Istilah Putu adalah konten yang disampaikan berupa ‘teror mental’, tujuannya mengganggu orang untuk berfikir dan terus berfikir.
Berhenti berpikir adalah sesuatu yang tidak diinginkan Putu Wijaya. Pesannya seolah bahwa siapa berhenti berpikir akan dilanda beku, sebaliknya siapa terus berfikir, inovasi kiranya akan hadir.

Pentas "AH" Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, 29 Juli 2023 | Foto: Darma Putra
Lakon ‘Ah’ ditulis dan dimuat dalam buku kumpulan naskah drama Putu Wijaya berjudul Tontonan Teror Mental (2021), diterbitkan dalam rangka HUT ke-50 Tahun teater Mandiri. Lakon “AH” tertuang dalam 42 halaman, dibagi ke dalam beberapa babak. Lewat sahabat dramawan Putu Satria, saya mendapat bingkisan buku ini dari Putu Wijaya. Tahun 1992/3 saya pernah jumpa dan ditugaskan mengantar Putu Wijaya di Sydney oleh Prof. Peter Worsley, terutama menjelang melakukan rekaman wawancara untuk korpus data pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing di Australia.
Ketika beliau masih sehat, Putu sesekali bertukar kabar dan pokok pikiran lewat SMS/WA. Kalau dia ada karya yang terbit, atau link video yang layak saya sebar untuk mahasiswa, Putu Wijaya suka-cita membagi untuk saya teruskan.

Lakon ‘Ah’ ditulis dan dimuat dalam buku kumpulan naskah drama Putu Wijaya berjudul Tontonan Teror Mental (2021) | Foto: Darma Putra
Sekitar 20 hari sebelum pentas ‘AH’, Putu Wijaya juga mengirim flyer ke WA saya untuk saya teruskan ke kawan-kawan atau mahasiswa lewat berbagai grup WA. Dalam WA itu, Putu menulis “Senang sekali bila berkenan hadir”. Dalam situasi kesehatan yang terbatas, tulisan WA sepotong itu sangat berharga.
Kembali ke “Ah”. Kisah aktual, tema universal, dan pemain yang berpengalaman membuat pentas Tetaer Mandiri senantiasa memukau.
Teater Mandiri sudah tampil beberapa kali di arena Festival Seni Bali Jani, membuat festival yang dirintis oleh Bunda Putri Suastini Koster ini berkelas.
Pertunjukan Puncak
Dramawan, pemain, penulis naskah, dan sutradara teater terkemuka Bali, Putu Satria Kusuma dalam status FB-nya menyampaikan, Teater Mandiri menjadi pertunjukan puncak Festival Bali Jani V melalui lakon “AH”
Permainan yang cepat dengan teknik bermain yang cukup rumit dibawakan secara apik oleh para aktor dari awal adegan sampai akhir. Pingpong dialog pendek pendek sambil melakukan aktivitas yang disuguhkan oleh dokter, pembantunya, kakek, lalu ke dukun, kepala suku, anak perempuan, anak kepala suku, menunjukan kematangan aktor yang mumpuni, yang hanya bisa diekspresikan dengan keren oleh aktor-aktor yang sudah terlatih.

Selain itu, sentuhan surealis yang mengingatkan pada gaya teater rakyat hadir menarik dan unik dalam adegan telepon-menelpon kakek dan cucunya si dokter yg bertugas di pedalaman. Si cucu yg menerima telepon dari ruang berbeda bisa nyelonong masuk meninggalkan ruangnya yg jauh lalu masuk ke ruang kakek untuk memutus pembicaraan. Ini menarik dan dahsyat.
“Bagi saya Putu Wijaya sebagai penulis lakon dan sutradara melalui pertunjukan ini memberi pelajaran yang berharga untuk semua pelaku seni teater, khususnya di Bali, tentang teknik bermain, dan capaian capaian artitistik pengadegan teater,” tulis Putu Satria.
Di akhir komentarnya, Putu Satria yang banyak terlibat dan membantuk suksesnya Festival Bali Jani menyampaikan: “Suksma Bli Putu Wijaya dan semua anggota Teater Mandiri. Suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster, Kadisbud Bali, dan semua kurator atas pertunjukan ini.”
Tahun 2019, Putu Wijaya diundang tampil dan saat itu mereka mementaskan ‘kisah klasik’ “Bila Malam Bertambah Malam”. Tak tanggung-tanggung, pemain yang muncul memperkuat waktu itu adalah Ninik L. Karim, pemain teater yang sukses menjadi bintang film, antara lain main dalam film “Ibunda”.

Dari kiri: Putri Suastini Koster, Dewi Pramunawati (istri Putu Wijaya), Putu Wijaya, dan Putu Satria Kusuma | Foto FB Putu Satria
Tahun 2018, Putu WIjaya dan Teater Mandiri menampilkan “JPRUTTT” pentas dalam dalam rangka Proklamasi Kemerdekaan 19 Agustus 2018. Lakon juga dibangun dengan tema ‘teror mental’ itu menyenggol, menyayat, mengkritik berbagai hal dalam konteks, politik, kejujuran, keterbukaan, dan juga kepalsuan.
Menurut penyair sastrawan Warih Wisatsana, salah seorang kurator Festival Seni Bali Jani, Putu Wijaya dan Teater Mandiri-nya setiap tahun hadir, selama 5 tahun.
“Teater Mandiri sudah tak ada soal teknis lagi, perangkat aktor sudah organis dengan diri masing-masing,” ujar Warih.
Warih menambahkan,bahwa bagi Putu Wijaya absurditas bukan lagi kehampaan ala Albert Camus, Sarte dll sudah menjadi bagian kekinian kita kini. “Dan Putu berhasil menghadirkannya ke panggung sebagai pengalaman penciptaan yang mempesona,” ungkap Warih.

Ninik L Karim (kanan) dalam “Bila Malam Bertambah Malam”
Untuk Bali, Putu Wijaya (kelahiran Puri Anom, Tabanan, 11 APRIL 1944) yang rendah hati dan murah hati itu selalu sedia tampil baik berbagi mutiara sastra dan budaya. Dulu, saat masih sehat, dia sering datang ke Bali baik untuk seminar, diskusi, atau syuting film. Di sela-sela kesibukan acara pokoknya, Putu juga sudi memenuhi fans atau mahasiswa untuk berbagi.
Dalam pentas di Taman Budaya 29 Juli 2023, saya terharu ketika usai pentas, tatakala semua kru diperkenalkan, tersebut pendukung Teater Mandiri dari Bali. Di antara mereka, tampak mahasiswa kami ari Prodi Sastra Indonesia FIB Unud. Senang melihat mereka bergabung dan yakin akan bisa belajar banyak dari Putu WIjaya dan Teater Mandiri.
Suatu kali dulu awal 2000-an, kami mengundangnya ke kampus Fakultas Sastra dan di sana dia membaca cerpen, monolog, membaca cerpen “Merdeka”, isinya juga teror, tentang seorang anak bernama “Merdeka” yang berjalan terbalik karena dia memasang kelamin almarhum ayahnya di dahi, sebuah teror terhadap pikiran normal. Dari sana, berbagai tafsir tentang norma, nilai, kebenaran diungkapkan, itulah proses berfikir-dan berfikir yang didambakan Putu agar selalu terjadi pada setiap orang.

Bintang dan kru Mandiri, termasuk mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unud | Foto: Darma Putra
Selain selalu ditemani istrinya, Putu juga dalam pentas-pentas di Bali belakangan ini, didampingi anaknya, Taksu Wijaya. Taksu memiliki bakat hebat, senantiasa memainkan (salah satu peran) tokoh utama, termasuk saat mementaskan “Bila Malam Bertambah Malam” (2019) dan “AH” (2023).
Dalam usianya memasuki 80 tahun dan kondisi fisik yang rentan seperti terlihat mesti memakai kursi roda, Putu Wijaya terus berkarya, menulis cerita dengan satu jari di HP, terus menyuburkan sawah ladang kehidupan sastra budaya teater Indonesia.
Sehari setelah pementasan, Putu Wijaya yang rendah hati itu pun kembali berkabar ringaks lugas: “Matur sukma atas kehadiran dan apresiasinya. Salam hormat.”
Saya membalasnya di WA dan di sini: Salam hormat kembali Putu Wijaya. Sehat selalu happy senangtiasa teriring doa PUJA untuk Putu Wijaya. [T]

Suka-cita usai pentas, penulis (kiri) dan penyair kurator Warih Wisatsana (baju kotak-kotak) | Foto Diah Suthari
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...