Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
DENPASAR | TATKALA.CO --- Penari itu gerak tarinya sederhana saja, tapi begitu memikat. Jari-jarinya yang lentik dan senyumannya yang manis seolah mengajak setiap orang untuk ikut menari. Matanya yang besar bergerak ke kanan dan kekiri. Sedang kipasnya terus bergerak dengan indah selaras dengan alunan suara bungbung yang merdu.
Ya, itulah penampilan joged bungbung Sekaa Joged Adi Semara, Banjar Tangguntiti, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara Duta Kota Denpasar, pada Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV di Kalangan Madya Mandala, Selasa (27/6/2023) sore.
Sekaa joged ini menampilan 4 penari dan didukung oleh 17 orang penabuh. “Kami mengucapkan terima kasih diberikan kesempatan untuk tampil dalam ajang PKB. Sekaa joged ini merupakan generasi ketiga, di mana sekaa ini sudah ada sejak tahun 1982,” kata Ketua Sanggar, Putu Sunanta.

Penampilan Sekaa Joged Adi Semara di atas panggung / Foto: Ist
Jogged pertama menyajikan tabuh Tari Nautika Rasa, berikutnya Tari Akupara Prasatya, lalu Mina Semara dan terakhir menyajikan Tari Nila Chandra.
Meski para penari tersebut tak semuanya berasal dari Banjar Tangguntiti, tetapi kekompakan mereka dalam menyajikan seni tampak penuh semangat.
“Dalam ajang PKB ini, kami menampilkan panabuh muda-muda sebagai penesus kesenian Bali. Kami, yang tua-tua, hanya mendukung. Apalagi pentas di PKB kali ini merupakan kali pertama bagi kami,” ujar Sunanta.
Setelah Tabuh Goo Langoon dimainkan, satu persatu penari joged memikat penonon untuk “ngibing” (menari bersama). Para penari menebar ekspresi gerak yang indah mengikuti alunan musik gamelan.
Tak semua penonton memiliki keberanian menari bersama joged, memang, hanya penonton yang memiliki dasar menari saja yang berani maju dengan percaya diri.[T][Jas/*]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...