Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
DI PANTAI, di antara pasir batu dan gelombang laut, di areal Pura Ponjok Batu, terdapat lima mata air suci. Airnya menyembul dari pasir di bawah air laut, lalu menyatu dengan air laut. Itu sebuah tempat suci dengan peristiwa alam yang unik, barangkali tak banyak ada tempat seperti itu di Bali.
Pura Ponjok Batu masuk dalam wilayah di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Tempatnya memang di tepi pantai, di atas karang yang menonjol, dengan hamparan pasir berbatu-batu halus.
Pura Ponjok Batu termasuk Pura Dang Kahyangan. Selain sebagai tempat sembahyang sebagaimana dilakukan di Pura lain, di tempat itu juga biasa dijadikan tujuan bagi umat yang hendak melukat, membersihkan diri secara lahir dan batin.
Tempat melukat itu disebut Pura Segara Taman Beji. Pura Segara Taman Beji ini merupakan tempat untuk menyucikan diri (melukat), berobat dan memohon rezeki. Lima mata air yang ada di areal Pura itu disebut Panca Tirta.

Prosesi melukat di Pura Taman Beji Pnjok Batu | Foto: Ist
Mangku Nengah Widi, pengempon Pura Ponjok Batu, mengatakan Pura Segara Taman Beji banyak didatangi oleh umat Hindu di Bali untuk sembahyang sekaligus melukat di sumber mata air tersebut. Mata air itu berada tepat di areal pesisir pantai.
"Tidak hanya umat Hindu, wisatawan mancanegara yang berwisata ke sini juga melakukan persembahyangan sekaligus melukat," kata Mangku Widi, Rabu, 26 April 2023.
Mangku Nengah Widi menyebutkan banyak orang yang datang melukat mempunyai berbagai tujuan salah satunya untuk nunas ubad atau nunas tamba karena mengalami sakit non medis.
"Biasanya umat Hindu (pemedek) yang melukat ke sini untuk meminta keselamatan, mensucikan diri dan untuk memohon kesembuhan," jelasnya.
Melukat di Pura Segara Taman Beji Ponjok Batu tidak dipungut biaya, cukup membawa banten pejati, kelungah nyuh gading dan bunga berjumlah ganjil. [T][Ado/*]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...