Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
“Apa yang membuat sesuatu
tampak indah atau buruk?”
tanyamu pada sebuah jalan.
Arah keluar
Arah masuk
Rasa cemas akan tersesat.
Menjelang pesta besar,
Orang-oang mabuk
Senantiasa sibuk
Akan was-was
Kita siapkan tungku sedini mungkin
Di awal pesta pernikahan, di upacara perkawinan
Suka-duka itu, Bu
kita masak dan bumbui. Sedap jadi tawa
Sebab esok, yang kenyang tak boleh hanya perut
Tapi hati kita juga.
Anak-anak menaruh bahagia dan sedih pada peluk, pada peluk
Karena ia lugu,
Peluk:
seperti lapar yang mengenyangkan
rumah yang menenangkan
Esok hari anak-anak menunggu bapak datang, menjemput
mengajak pulang,
Sambil berharap
bapak tanya:
“Besok mau Bapak datang lagi?”
Ulian sepagi ini bunga-bunga ladang mekar
senyum
Bapak di pintu rumah
Adakah yang hendak ia tawar kepada ibu
yang sibuk menata harap ke arah sujud?
Jangan terburu gugup, lalu takut, Pak
Ada sebagian perjalanan hidup
akhir lahirkan awal
Rasa lapang,
Terbuka bagi segala harap
Bagi segala cemas yang datang atau
berpulang.
Sampai laut,
anak-anak menawar
selembar harap kain tenun
ulatan gelang tangan,
“Untuk bekal,” serunya
Angin mengulum pintanya,
melebar buntalan ucap ke tengah-tengah laut
Lalu matahari berulang datang dan pulang ke arah yang pasti,
Ke tempat misteri
Anak-anak hari,
Jadi harap
setiap nanti
Jadi kelak
penuh mimpi
KLIK untuk BACA puisi-puisi lain
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...