Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
HAMPIR SEMUA orang saya pikir pernah mengalami fase gabut. Ya, gabut merupakan salah satu bahasa populer yang kerap digunakan anak muda dalam bahasa sehari-hari. Kira-kira kata ini memiliki arti sebuah keadaan di mana seseorang merasakan kejenuhan dan bosan untuk melakukan sesuatu. Hal tersebut bisa saja mengakibatkan produktivitas seseorang menurun.
Tak jarang saya mendengar teman-teman di kampus berkata: “Duh, gabut banget, nih”, ketika mereka sedang merasa bosan di rumah atau di kampus atau di mana saja. Alhasil, dalam kondisi seperti itu, biasanya mereka akan mengajak saya untuk sekadar keluar main atau nongkrong di beberapa minimarket di Kota Singaraja.
Kalau sudah begitu, biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan obrolan panjang masalah percintaan teman saya dan tentu dibumbui dengan gosip (kadang lebih banyak mengada-ada) tentang anak-anak berpengaruh di kampus. Kami akui sering menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting.
Padahal, daripada menggosipkan hal yang tidak jelas, sebenarnya banyak hal positif yang bisa kami lakukan untuk mengganti kegabutan. Hal yang mungkin saja lebih bermanfaat, seperti misal, membicarakan tentang bagaimana rencana perkuliahan ke depan.
Atau, jika mau lebih serius, sebagai mahasiswa komunikasi, barangkali tak ada salahnya jika kami berdiskusi tentang industri sinetron Indonesia yang akting para artisnya terkesan asal-asalan dan cenderung buruk---atau jalan ceritanya yang sering tidak masuk akal---sehingga tak jarang pesan yang hendak disampaikan mentah di tengah jalan.
Namun, pada kenyataannya, tak jarang ketika merasa gabut, alih-alih melakukan aktivitas yang bermanfaat, anak muda saat ini---tentu saja termasuk saya dan beberapa teman---akan mengalihkannya dengan menghabiskan bahan bakar, boros, berkendara motor mengelilingi kota sambil berdalih self healing di story media sosial.
Seperti yang kita ketahui, self healing merupakan kata yang belakangan banyak digunakan anak muda di tanah air. Kata tersebut biasa diartikan sebagai sebuah proses penyembuhan diri yang disebabkan oleh gangguan kondisi emosi seseorang.
Dengan begitu, aktivitas atau kegiatan self healing yang dilakukan tentu harus memiliki manfaat. Dalam artian, aktivitas tersebut tidak semata-mata dilakukan hanya untuk menghabiskan waktu saja, tetapi, sekali lagi, harus ada manfaat yang didapat setelahnya.
Sekadar menyebut satu contoh, seperti Fiersa Besari, misalnya, seorang penulis, pemusik, sekaligus traveller---ia memang memiliki hobi berkelana menjelajah alam Indonesia---yang melakukan self healing tanpa kesia-siaan, dan tentu saja, menghasilkan secara ekonomi.
Bung Fiersa suka mendaki gunung, berkelana, mengunjungi kota-kota pelosok di Indonesia. Dari sana ia banyak menghasilkan karya, baik berupa musik (lagu), video perjalanan, maupun buku. Dan, ia menjadi tokoh, punya fans, sebab tidak sedikit yang meminati karya-karyanya---karya Fiersa dirasa relate bagi kehidupan anak muda.
Saya pernah membaca salah satu kutipan Fiersa Besari dalam bukunya yang berjudul Garis Waktu: “Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya”.
Duh, bikin meleleh. (Setelah membaca kutipan tersebut, secara kebetulan, saya bertemu dengan salah satu orang yang mampu mengubah pola pikir saya terhadap arti kata gabut.)
***
Sampai di sini saya tekankan sekali lagi, banyak hal bermanfaat (postif) untuk mengisi kegabutan.
Jika kita tidak bisa seperti Fiersa Besari yang mengisi kegabutannya dengan menghasilkan karya musik, video dan buku, setidaknya kita dapat memanfaatkan waktu yang membosankan itu dengan membaca buku sambil mendengarkan musik dari pelantun lagu favorit daripada membuang-buang waktu dengan bergosip, menghambur-hamburkan uang, atau berkendara yang tak jelas tujuannya.
Hal ini pernah saya rasakan sendiri. Suatu kali saat merasa gabut, saya mencoba untuk membaca buku (kadang menggambar), dan benar saja, rasanya jauh lebih meninggalkan kesan puas dibandingkan dengan sekadar nongkrong, bergosip, atau keliling kota yang, sekali lagi, tidak jelas tujuannya.
Namun, jika terlalu malas untuk membaca buku, kita bisa menonton film untuk mengatasinya. Sedikit saran dari saya, tontonlah film yang mudah dipahami tapi tetap mempunyai value yang dapat mengubah cara berpikir kita atau film yang dapat menumbuhkan pikiran kritis dalam diri kita. Bukan film yang hanya sekadar keren di permukaan, tapi dangkal isi, plot, dan ceritanya.
Jika boleh merekomendasikan sebuah film, maka saya akan menyebut satu film berjudul “Three Idiots”---film India yang sampai saat ini masih saya ingat ceritanya.
Sekadar informasi, film yang dirilis tahun 2009 dan disutradarai Vidhu Vinod Chopra itu, bercerita tentang tentang 3 orang mahasiswa---Farhan Qureshi (Madhavan), Raju Rastogi (Sharman Joshi) dan “Rancho” Shamaldas Chanchad (Aamir Khan)---jurusan teknik mesin yang kulian di Imperial College of Engineering (ICE).
Mereka menjalani suka duka dunia perkuliahan yang keras di ICE, sambil bertahan dari penindasan dan tekanan Direktur ICE, Dr. Viru Sahastrabuddhe---atau yang biasa dipanggil Virus/Virus Komputer oleh para mahasiswa.
Film ini mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi mahasiswa yang kritis, inovatif, berani, menjunjung tinggi idealisme dan rasa kemanusiaan, juga sedikit menyinggung soal sistem hafalan (tahu teori jauh dari konteks) di sekolah atau perguruan tinggi yang sudah ketinggalan zaman.
Banyak pesan positif dalam film ini, seperti misalnya kuliah itu bertujuan mendapat ilmu pengetahuan, keterampilan, bukan hanya sekadar mengharap selembar ijazah. Film semacam inilah yang dapat kita manfaatkan (tonton) untuk mengisi waktu gabut itu.
Dan, bukan hanya itu saja, kalau malas menonton film, tak ada salahnya juga kita mencoba melakukan aktivitas di luar ruangan sebagai self healing yang nyata dan memiliki manfaat seperti berolahraga atau mengunjungi tempat wisata alam.
Semua itu tentu akan memberi manfaat untuk menjernihkan pikiran kita dari padatnya jadwal sehari-hari dan juga dapat menambah pengetahuan terhadap daerah-daerah yang belum pernah kita jangkau sebelumnya.
Dengan begitu, akan lebih banyak pelajaran yang bisa diambil ketika kita melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat. Lebih bagus lagi kalau aktivitas bermanfaat tersebut adalah hal yang saya atau kalian sukai sehingga tidak akan menjadi beban bagi kita dalam menjalaninya.
Seperti kata pepatah, “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui” atau “menyelam sambil minum air”. Melakukan hobi, self healing, syukur-syukur menghasilkan secara ekonomi. Seperti layaknya Fiersa Besari yang memiliki hobi menulis di Twitter dan berkelana. Hasilnya, banyak orang terinspirasi oleh tulisannya.
Dan hal ini juga yang menjadi motivasi saya agar mampu bergerak dan berkembang seperti Fiersa dan orang-orang yang mengisi kegabutannya dengan soal-soal yang bermanfaat. Ya, walaupun tidak sama, setidaknya ada hal positif yang bisa dipetik hikmahnya.
Jadi, terakhir, kawan-kawan harus bisa membedakan mana aktivitas yang murni self healing dengan aktivitas gabut yang hanya berkedok self healing, ya![T]
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...