BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL (BRIN), menggagas Program Sembari (Sekolah/Madrasah Berbasis Riset dan Inovasi) yang merupakan program prioritas dari Pusat Riset Pendidikan. Program ini diharapkan dapat menjembatani pemikiran kritis siswa dalam menjawab rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan di lapangan.
Program Sembari hadir membersamai sekolah/madrasah untuk menanamkan kultur serta menerapkan struktur riset dan inovasi bagi ekosistem sekolah bisa terus berlanjut dan berkesinambungan.
Program ini diharapkan memberikan kebebasan berkreasi untuk mengeksplorasi riset dan inovasi dalam kehidupan. Membiasakan anak-anak mencari proyek-proyek riset yang kecil-kecil, menumbuhkan minat anak pada riset dan inovasi perlu diperkenalkan sejak dini.
Salah satu kunci utama yang diperlukan untuk belajar riset dan inovasi adalah rasa ingin tahu yang besar. Hal ini sejalan dengan memberikan keleluasaan dan kebebasan anak-anak dalam merancang kegiatan riset dan inovasi yang berkaitan dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah.
Berbagai macam poster riset dan inovasi yang berisikan kreativitas siswa beradu keunikan, keindahan, dan tentunya kejelian dalam menggali konsep-konsep riset dan dan inovasi yang ada di lingkungan mereka.
Dan benar, untuk menggalakkan kecintaan anak-anak pada dunia riset dan inovasi, dimulai dengan memperkenalkan anak-anak pada proyek-proyek riset dan inovasi yang sederhana namun menantang bagi mereka.
Model kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan kreativitas guru dan siswa, secara lambat laun budaya riset dan inovasi akan bergeser kepada siswa sebagai subjek dan guru sebagai fasilitator, sehingga siswa terkondisikan menjadi kritis, kreatif, dan dapat mengeksplorasi alam sesuai dengan kemampuannya.
Tetapi, konsekuensi lanjutannya adalah terjadinya proses alienasi siswa dari lingkungannya. Siswa tidak paham untuk apa riset dan inovasi itu dilakukan, karena konsep-konsep riset dan inovasi yang mereka pelajari tidak bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Maka, muncullah anggapan, melakukan riset dan inovasi hanya akan menjadi beban bagi mereka dan akhirnya siswa akan merasa bahwa riset dan inovasi merupakan momok yang menakutkan dalam pembelajarannya. Padahal, semestinya proses pembelajaran riset dan inovasi dimulai dari mengamati fenomena-fenomena alam secara terstruktur.
Membutuhkan Guru yang Ahli
Proses pembelajaran yang menekankan pengamatan secara terstruktur itu tentunya memerlukan guru yang memahami bidang keilmuannya secara mendalam, luas, dan menjiwainya serta menguasai ilmu pedagogi secara baik. Karena itu peningkatan kompetensi guru, baik dalam pemahaman akan riset dan inovasi sesuai dengan bidang ilmunya, juga dalam pedagoginya merupakan sesuatu yang mutlak.
Rasa ingin tahu yang ada dalam diri remaja jangan dibiarkan berlalu tanpa bekal yang berarti dalam perjalanan hidup selanjutnya. Maka, sekali lagi, kuncinya terletak pada kreativitas guru untuk menggugah siswa menjawab rasa ingin tahu mereka. Guru yang ahli harus mampu melakukan aksi nyata dalam menjembati kegemaran siswa dalam melakukan penelitian dan penulisan.
Peneliti dunia rata-rata memulai kegiatan penelitiannya sejak usia muda. Thomas Alva Edison, misalnya, saat menginjak usia 12 tahun sudah mendapatkan paten dan saat usianya mencapai 81 tahun telah mengumpulkan 1.033 paten.
Benar, panggilan hidup seorang ilmuwan adalah menemukan pengetahuan baru. Semuanya itu adalah suatu proses berkreasi dan pengetahuan baru itu sendiri adalah suatu kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta demikianlah yang dikatakan memiliki sikap kreatif.
Inovasi yang siswa tampilkan minimal dapat menyelesaikan masalah mendasar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kita perlu bercermin pada pernyataan seorang pakar pertanian Jepang bernama Shoichi Nakata: “Kehidupan kanak-kanak adalah khayalan, kehidupan remaja adalah mimpi, kehidupan setengah baya adalah kenyataan, kehidupan manula adalah kenangan”.
Sudah saatnya penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran membutuhkan guru sekaligus peneliti yang jeli dan tangguh---yakni guru yang mampu melaksanakan tugas dan mengadopsi strategi baru dalam pengajarannya. Bukan guru yang statis, tapi yang dinamis, sesuai dengan tuntutan zaman/kurikulum.
Disadari atau tidak, masyarakat yang lebih maju memiliki sejarah yang runtut mengenai perkembangan budayanya. Mulai dari budaya lisan, bergerak maju seiring kebutuhan dengan budaya menulis. Baru menanjak pada penggunaan teknologi. Mereka memahami bahwa teknologi adalah perangkat, pada sisi yang lain budaya menulis telah dan tetap terbentuk.
Sedangkan di sini, budaya tulis dikembangkan di antara budaya lisan yang begitu kuat. Belum tuntas pekerjaan ini, masuk budaya menggunakan teknologi. Hal ini menyebabkan tugas membudayakan masyarakat menulis semakin berat, sebab melihat dan mendengar lebih mudah untuk dilakukan.
Kesulitan sekolah dalam melakukan aktivitas penelitian sebenarnya amat terkait dengan faktor budaya ini. Ada lompatan besar pada budaya pendidikan di Indonesia, dari budaya lisan melonjak pada budaya pemanfaatan teknologi informasi.
Sementara budaya menulis yang seharusnya lebih dulu dilalui, malah terlewatkan. Mencita-citakan peningkatan profesionalitas guru harus sejak awal dikemas dalam rangka pembentukan pengembangan sistem pendidikan, di mana workshop/pertemuan ilmiah, menulis, dan meneliti adalah tiga serangkai kegiatan yang akan memberikan kemampuan pembentukan pengetahuan tersebut.
Harapan atmosfer budaya meneliti di kalangan guru tumbuh secara kondusif, pelan tapi pasti, para guru akan tampil percaya diri.
Sekolah juga perlu bekerja sama dengan beberapa komunitas belajar untuk melakukan proses riset dengan melibatkan anak-anak dan para guru. Dengan demikian, laporan dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2022 tentang kesadaran pelajar Indonesia pada lingkungan belum cukup baik akan mulai terkikis.
Sebuah Pemantik
Program Sembari ini dapat mendorong siswa tidak hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga peduli kepada lingkungan, dan menjadi awal entry point (titik masuk) mengembangkan sekolah berbasis riset.
Oleh karenanya, upaya menumbuhkan semangat riset dan inovasi di kalangan siswa tidak akan optimal bila sistem pembelajaran kita masih menggunakan pola hafalan. Bagaimana meningkatkan kemampuan yang tidak sekadar mengajar, tetapi juga harus bisa menggali daya imajinasi siswa, tidak memasung dan membunuh daya kreativitas siswa.
Guru harus memegang titik sentral dalam proses pembelajaran di sekolah dan memainkan peran secara profesional dan cukup inovatif---inovatif karena mampu mengintegrasikan konsep-konsep pembelajaran dengan fakta-fakta nyata yang ada di alam semesta.
Hal ini sangat sejalan dengan filosofi kontruktivisme bahwa strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Sekolah berinovasi dengan lebih banyak melakukan penelitian ilmiah yang melibatkan siswa. Dalam tatanan lebih lanjut, diharapkan proses pembelajaran di kelas, tidak mengkerucut pada satu disiplin keilmuan, melainkan terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain.
Mewujudkan sekolah berbasis riset dan inovasi sejalan dengan ungkapan alam merupakan guru terbaik, karena setiap adegan petualangan pasti akan mengajarkan ilmu yang sangat berharga untuk kita.
Layaknya seorang anak, alam adalah hal yang perlu selalu kita jaga keindahannya, agar anak dan cucu kita kelak tetap dapat menikmati keindahan yang telah dikreasi oleh Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam.
Program Sembari yang digagas oleh BRIN dapat menjadi pemantik bagi sekolah untuk mengembangkan suasana akademis yang berdasarkan penalaran dan berpikir kritis. Berharap budaya riset dan inovasi dengan pemikiran yang tajam tumbuh dari anak-anak sejak dini.[T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...