Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL (BRIN), menggagas Program Sembari (Sekolah/Madrasah Berbasis Riset dan Inovasi) yang merupakan program prioritas dari Pusat Riset Pendidikan. Program ini diharapkan dapat menjembatani pemikiran kritis siswa dalam menjawab rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan di lapangan.
Program Sembari hadir membersamai sekolah/madrasah untuk menanamkan kultur serta menerapkan struktur riset dan inovasi bagi ekosistem sekolah bisa terus berlanjut dan berkesinambungan.
Program ini diharapkan memberikan kebebasan berkreasi untuk mengeksplorasi riset dan inovasi dalam kehidupan. Membiasakan anak-anak mencari proyek-proyek riset yang kecil-kecil, menumbuhkan minat anak pada riset dan inovasi perlu diperkenalkan sejak dini.
Salah satu kunci utama yang diperlukan untuk belajar riset dan inovasi adalah rasa ingin tahu yang besar. Hal ini sejalan dengan memberikan keleluasaan dan kebebasan anak-anak dalam merancang kegiatan riset dan inovasi yang berkaitan dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah.
Berbagai macam poster riset dan inovasi yang berisikan kreativitas siswa beradu keunikan, keindahan, dan tentunya kejelian dalam menggali konsep-konsep riset dan dan inovasi yang ada di lingkungan mereka.
Dan benar, untuk menggalakkan kecintaan anak-anak pada dunia riset dan inovasi, dimulai dengan memperkenalkan anak-anak pada proyek-proyek riset dan inovasi yang sederhana namun menantang bagi mereka.
Model kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan kreativitas guru dan siswa, secara lambat laun budaya riset dan inovasi akan bergeser kepada siswa sebagai subjek dan guru sebagai fasilitator, sehingga siswa terkondisikan menjadi kritis, kreatif, dan dapat mengeksplorasi alam sesuai dengan kemampuannya.
Tetapi, konsekuensi lanjutannya adalah terjadinya proses alienasi siswa dari lingkungannya. Siswa tidak paham untuk apa riset dan inovasi itu dilakukan, karena konsep-konsep riset dan inovasi yang mereka pelajari tidak bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Maka, muncullah anggapan, melakukan riset dan inovasi hanya akan menjadi beban bagi mereka dan akhirnya siswa akan merasa bahwa riset dan inovasi merupakan momok yang menakutkan dalam pembelajarannya. Padahal, semestinya proses pembelajaran riset dan inovasi dimulai dari mengamati fenomena-fenomena alam secara terstruktur.
Membutuhkan Guru yang Ahli
Proses pembelajaran yang menekankan pengamatan secara terstruktur itu tentunya memerlukan guru yang memahami bidang keilmuannya secara mendalam, luas, dan menjiwainya serta menguasai ilmu pedagogi secara baik. Karena itu peningkatan kompetensi guru, baik dalam pemahaman akan riset dan inovasi sesuai dengan bidang ilmunya, juga dalam pedagoginya merupakan sesuatu yang mutlak.
Rasa ingin tahu yang ada dalam diri remaja jangan dibiarkan berlalu tanpa bekal yang berarti dalam perjalanan hidup selanjutnya. Maka, sekali lagi, kuncinya terletak pada kreativitas guru untuk menggugah siswa menjawab rasa ingin tahu mereka. Guru yang ahli harus mampu melakukan aksi nyata dalam menjembati kegemaran siswa dalam melakukan penelitian dan penulisan.
Peneliti dunia rata-rata memulai kegiatan penelitiannya sejak usia muda. Thomas Alva Edison, misalnya, saat menginjak usia 12 tahun sudah mendapatkan paten dan saat usianya mencapai 81 tahun telah mengumpulkan 1.033 paten.
Benar, panggilan hidup seorang ilmuwan adalah menemukan pengetahuan baru. Semuanya itu adalah suatu proses berkreasi dan pengetahuan baru itu sendiri adalah suatu kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta demikianlah yang dikatakan memiliki sikap kreatif.
Inovasi yang siswa tampilkan minimal dapat menyelesaikan masalah mendasar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kita perlu bercermin pada pernyataan seorang pakar pertanian Jepang bernama Shoichi Nakata: “Kehidupan kanak-kanak adalah khayalan, kehidupan remaja adalah mimpi, kehidupan setengah baya adalah kenyataan, kehidupan manula adalah kenangan”.
Sudah saatnya penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran membutuhkan guru sekaligus peneliti yang jeli dan tangguh---yakni guru yang mampu melaksanakan tugas dan mengadopsi strategi baru dalam pengajarannya. Bukan guru yang statis, tapi yang dinamis, sesuai dengan tuntutan zaman/kurikulum.
Disadari atau tidak, masyarakat yang lebih maju memiliki sejarah yang runtut mengenai perkembangan budayanya. Mulai dari budaya lisan, bergerak maju seiring kebutuhan dengan budaya menulis. Baru menanjak pada penggunaan teknologi. Mereka memahami bahwa teknologi adalah perangkat, pada sisi yang lain budaya menulis telah dan tetap terbentuk.
Sedangkan di sini, budaya tulis dikembangkan di antara budaya lisan yang begitu kuat. Belum tuntas pekerjaan ini, masuk budaya menggunakan teknologi. Hal ini menyebabkan tugas membudayakan masyarakat menulis semakin berat, sebab melihat dan mendengar lebih mudah untuk dilakukan.
Kesulitan sekolah dalam melakukan aktivitas penelitian sebenarnya amat terkait dengan faktor budaya ini. Ada lompatan besar pada budaya pendidikan di Indonesia, dari budaya lisan melonjak pada budaya pemanfaatan teknologi informasi.
Sementara budaya menulis yang seharusnya lebih dulu dilalui, malah terlewatkan. Mencita-citakan peningkatan profesionalitas guru harus sejak awal dikemas dalam rangka pembentukan pengembangan sistem pendidikan, di mana workshop/pertemuan ilmiah, menulis, dan meneliti adalah tiga serangkai kegiatan yang akan memberikan kemampuan pembentukan pengetahuan tersebut.
Harapan atmosfer budaya meneliti di kalangan guru tumbuh secara kondusif, pelan tapi pasti, para guru akan tampil percaya diri.
Sekolah juga perlu bekerja sama dengan beberapa komunitas belajar untuk melakukan proses riset dengan melibatkan anak-anak dan para guru. Dengan demikian, laporan dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2022 tentang kesadaran pelajar Indonesia pada lingkungan belum cukup baik akan mulai terkikis.
Sebuah Pemantik
Program Sembari ini dapat mendorong siswa tidak hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga peduli kepada lingkungan, dan menjadi awal entry point (titik masuk) mengembangkan sekolah berbasis riset.
Oleh karenanya, upaya menumbuhkan semangat riset dan inovasi di kalangan siswa tidak akan optimal bila sistem pembelajaran kita masih menggunakan pola hafalan. Bagaimana meningkatkan kemampuan yang tidak sekadar mengajar, tetapi juga harus bisa menggali daya imajinasi siswa, tidak memasung dan membunuh daya kreativitas siswa.
Guru harus memegang titik sentral dalam proses pembelajaran di sekolah dan memainkan peran secara profesional dan cukup inovatif---inovatif karena mampu mengintegrasikan konsep-konsep pembelajaran dengan fakta-fakta nyata yang ada di alam semesta.
Hal ini sangat sejalan dengan filosofi kontruktivisme bahwa strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Sekolah berinovasi dengan lebih banyak melakukan penelitian ilmiah yang melibatkan siswa. Dalam tatanan lebih lanjut, diharapkan proses pembelajaran di kelas, tidak mengkerucut pada satu disiplin keilmuan, melainkan terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain.
Mewujudkan sekolah berbasis riset dan inovasi sejalan dengan ungkapan alam merupakan guru terbaik, karena setiap adegan petualangan pasti akan mengajarkan ilmu yang sangat berharga untuk kita.
Layaknya seorang anak, alam adalah hal yang perlu selalu kita jaga keindahannya, agar anak dan cucu kita kelak tetap dapat menikmati keindahan yang telah dikreasi oleh Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam.
Program Sembari yang digagas oleh BRIN dapat menjadi pemantik bagi sekolah untuk mengembangkan suasana akademis yang berdasarkan penalaran dan berpikir kritis. Berharap budaya riset dan inovasi dengan pemikiran yang tajam tumbuh dari anak-anak sejak dini.[T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...