Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
DI JAGAT MEDIA SOSIAL, ramai-ramai orang bicara tentang beberapa 'orang atas' yang berbondong-bondong memamerkan barang-barang mahal dan bermerk di media sosial, lho, Ndul. Di sisi lain, ramai juga, barang di Trifting yang disita oleh 'orang atas' otoritas tertentu, Ndul.
Katanya, karena mengganggu Usaha Menengah Kecil dan Menengah (UMKM), Bagaimana, Ndul, menurutmu?
Dirimu sering cari barang di Trifting kan, Ndul. Itu lhoo, toko yang jual barang bekas import dengan harga murah meriah. Dirimu tidak memandang barang itu bekas, tapi masih layak dipakai atau tidak, murah atau tidak, itu saja kan Ndul?
Dirimu memilih barang di Trifting karena bisa menghemat beberapa rupiah, yang penting kebutuhan primer dan sekunder aman. Itu saja, dirimu kembang kempis, ngos ngosan, cari uangnya. Udah, Ndul, ngaku aja.
Tapi 'orang atas' berbeda dengan dirimu, Ndul. Dirimu paham kan, yang dimaksud 'orang atas' disini? Itu lhooo, orang yang bekerja di instansi negara, penghasilannya sesuai golongan kepegawaian, katanya mengabdi untuk negara, gajinya jauh untuk memenuhi kebutuhan tersier.
Artinya, untuk memenuhi kebutuhan tersier tersebut, mereka membutuhkan manajemen keuangan sedemikian rupa, atau membutuhkan waktu yang lama untuk memenuhinya. Tapi, Ndul, mereka kok bisa memenuhi kebutuhan tersier tersebut dengan gaji sejumlah itu. Tapi mereka mampu memenuhinya dalam waktu singkat, lhoo, Ndul.
Mereka beli ini, beli itu, mau ini mau itu, main ke sini, main ke situ, suka suka mereka. Apa yang mereka dapatkan, diunggah di media sosial lhoo, Ndul. Eh, lho kok, apa yang mereka mau, terwujud semua.
Mereka punya gaji tambahan dari mana ya, kok mereka bisa mendapatkan semua itu? Banyak netizen yang mempertanyakan itu lhoo, Ndul, di kolom komentar.
Ya begitulah, Ndul, mungkin netizen menganggap perilaku 'orang atas' seperti itu menjadi masalah, karena netizen tidak merasakan menjadi 'orang atas' ya, Ndul? Seolah jadi 'sok bijak' begitu. Atau netizen sedang waras, sehingga hal baik senantiasa disampaikan untuk menjaga keseimbangan dalam dimensi rasa antar manusia, menjaga rasa sesama manusia.
Tapi tenang saja, Ndul, sudah ada otoritas yang punya kewenangan mengurusi itu kok, menjawab pertanyaan netizen. Percayakan kepada mereka untuk menjalankan tugas, kita bantu dengan mengawasi dan mengawal prosesnya.
Tetapi sebelum 'orang atas' tertangkap oleh otoritas tersebut, apakah baiknya mereka mawas diri dulu, Ndul? Misalnya dengan mengingat pepatah yang mengatakan "jadilah seperti padi, semakin berisi semakin menunduk".
Manusia tidak layak untuk angkuh dan sombong atas kemampuan yang dimilikinya. Daripada menyesal di kemudian hari, ya kan, Ndul? Tapi ya, namanya juga manusia, meskipun ada peringatan, ya tetap aja, masih ada yang 'pamer kekayaan' seperti itu.
O iya, Ndul, dirimu akan seperti apa, jika dirimu jadi 'orang atas'? Tentu, dirimu akan lebih baik dari mereka kan, Ndul? Yaitu, menerapkan ilmu padi. Sepakat, Ndul? [T]
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika sa...
APA yang kalian pikirkan setelah mendengar kata perempuan? Lemah? Cengeng? Orang yang membuat lelaki selalu merasa susah? Penakut? Manja? Atau kalian punya pikiran lain tentang per...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) tentu berkesan bagi semua mahasiswa yang mengikutinya. Bagi mahasiswa dari kampus pendidikan Hindu, seperti Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), tentu juga...
BAPAK Nyoman Serengen (almarhum), seorang guru meditasi dan pendiri Perguruan Tenaga Dalam Bambu Kuning, suatu hari bertutur bahwa YOGA dan UGA berakar dari akar kata yang sama. Ke...
PADA 18 Agustus 2016, saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Mutiara Harapan Islamic School, Tangerang. Seminar ini terasa istimewa bagi saya karena bertepatan den...
BELAKANGAN ada sebuah fenomena baru muncul di Buleleng. Yaitu, munculnya berbagai festival di berbagai tempat. Seperti wabah, seperti virus menular, festival terus muncul sambung-m...
KETIKA dramawan Putu Satria Kusuma dengan penuh semangat melakukan transformasi atau alihwahana novel “Sukreni Gadis Bali” ke dalam bentuk drama gong, saya termasuk orang yang sang...
HALO MAHASISA! Sudahkah wisuda tahun ini? Kalau belum, dengan segala rasa iba dan duka yang teramat sangat dari lubuk hati yang paling dalam, saya sarankan tak usah melanjutkan mem...
PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahi...