Hey, Ndul, sudah lama tidak berkabar, gimana kabarnya, Ndul? Semoga senantiasa diberi kelancaran ya, Ndul. Akhir-akhir ini aku ada kegiatan, Ndul. Ya biasa, ini dan itu, kadang begini, kadang begitu, udah biasa, Ndul, namanya juga manusia, penuh kesibukan, apapun itu.
O, iya, Ndul, kalo ada orang yang tidak bisa menghadiri acara karena kesibukan, menurutmu bagaimana, apakah relevan, Ndul? Ya kan semua orang punya kesibukan.
Ya kalo menurut ku, hanya soal prioritas, Ndul. Diantara kesibukan yang ada, manusia punya hak untuk memilih, mana yang perlu diprioritaskan, yang ini atau yang itu. Kalo yang ini, berarti yang itu tidak bisa diikuti, atau mengikuti itu dilain waktu, kan begitu to, Ndul?
Baiklah, jika dirimu multitalenta, mungkin bisa saja mengambil semua pilihan yang ada. Tapi hasilnya bagaimana, apakah bisa maksimal? Perlu diingat, di antara pilihan yang ada, tentu masing-masing mempunyai konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan, Ndul. Artinya ada usaha lebih keras yang perlu diperhitungkan, misalnya, dirimu akan memerlukan waktu, pikiran dan mungkin biaya tambahan.
Kalo kata orang pintar ya, Ndul, selesaikan dulu satu urusan, jika satu urusan selesai, lanjutkan urusan yang lain. Nah kalo dirimu ambil lebih dari satu pilihan, bagaimana dirimu mengatur tanggung jawab atas konsekuensi pilihan yang dirimu ambil.
Coba renungkan dulu, Ndul, mana yang menjadi prioritas. Apa yang menjadi landasan dasar dirimu mengambil pilihan tersebut.
Pikirkan, konsultasikan dengan orang tua, ceritakan kepada orang yang pernah mengalami hal serupa, atau bila perlu mendeklarasikan seseorang untuk bersedia menjadi gurumu atau mentor mu malah lebih bagus, Ndul. Karena referensi mu dalam pengambilan keputusan tentu masih terlalu sedikit, takutnya salah langkah.
Ya meskipun, salah langkah pun, menjadi pembelajaran proses tumbuh mu, tapi kalo bisa diantisipasi, mengapa harus mencoba gagal?
Toh, tanpa harus gagal pun, dirimu bisa mengevaluasi dari orang tua atau mentor mu yang pernah ga gagal kan lebih baik. Bukankah begitu, Ndul? [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...