Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Detik berganti
seiring waktu bergulir menyemai satu satu harapan
entah mekar
entah luluh lantak
musim ini tak lagi tentang dongeng
yang mengharu biru
ia hanya sederetan cerita tentang penghabisan waktu
menjemput renta
dan usia tergerus pasti
hanya ada geliat sinar
yang diam-diam menukik sudut mata di pagi hari
dan gelimang bintang beringsut
di antara gumpalan awan yang samar
ah, mengapa diriku laksana sejajar dengan rimbunnya pohon gersang
yang meranggas tua?
tiada melahirkan tunas apalagi memekarkan kelopak
pandang mata seperti tak elok menatap satu-satu,
hanya buram tanpa terjemah
terkadang menggelikan memoles raga dengan impian masa kini
sedangkan laju kakiku tak lagi seganas bara
nikmati saja,
mungkin kini atau nanti akan lebih mengerti
Maret 2023, menjelang 53
Seperti apa rasanya menimbun kemarau
di antara kerinduan akan hujan?
seperti apa rasanya mendendangkan lagu
di antara suara yang parau?
Adakah rintik itu telah menguap menjadi bayang semu,
yang diam diam pergi bersama sayap para malaikat?
Ada riak tak terangkai kata di sudut mata
ada denyut nadi tak terbaca arah mengaliri pembuluh darah
hingga lupa cara bernapas
bahkan cara memandang isyarat Ilahi
ke mana perginya tangan-tangan
yang bersiap mengangkatmu dari gulita ?
apakah Ia lelah menunggu tanganmu tercakup meyebut-Nya?
sedangkan Ia tetap memberimu tabir yang harus kau jawab
Maret 2023, menjelang Nyepi
Terkadang wajahmu bersemburat merah
Tiba-tiba kau tercekat
apa yang kau rasa, kawan?
sejauh ini kau kosong dari hiruk pikuk duniawi
juga tak terendus gelimang tahta semu mendongakkan rupa
ini hanya halusinasi
semua yang berawal pasti kan menuju akhir
terkulum lingkaran karma
seperti bulir padi yang luruh meninggalkan benih
seperti debu yang berserakan melahirkan perih
Ketika angan itu tak lagi milikmu,
ia tetap menjadi rahasiamu.
Ada kalanya kehidupan tetaplah teka-teki
Maret 2023
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...