Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
BURUNG juga punya nasibnya sendiri. Memangnya hanya manusia saja yang boleh mempunyai nasib? Jangan ke-ge-eran! Semua makhluk punya nasibnya sendiri, termasuk burung-burung. Nasib baik dan nasib buruk barangkali juga berlaku untuk burung.
Ada burung yang bernasib baik, ada pula burung yang bernasib buruk, sial, malang, dst. Tetapi kita cukupkan saja sampai di sini soal nasib-nasib unggas ini. Selain karena saya bukan ahli burung, tentu saja saya juga tidak tahu-menahu soal nasib burung secara ilmiah atau akademik─itu pun jika ada ahli yang meneliti tentang nasib burung.
Saya menulis tentang burung hanya karena kejadian malam itu. Malam yang, mungkin bagi beberapa orang sepakat, bahwa waktu ini memang paling pas untuk merehatkan tubuh, menjulurkan segala penat, meluruskan semua kusut, atau menidurkan segala risau.
Bayangkan saja, bagaimana nikmatnya menyeruput kopi, mengisap rokok, sebatang demi sebatang, mengembuskan asap yang dengan itu seakan-akan semua masalah terselesaikan dengan sendirinya. Memandang taburan bintang yang seolah seperti mata-mata malaikat, atau layaknya seorang ibu yang menidurkan anaknya dengan nyanyian-nyanyian kataknya. Benar-benar waktu yang sudah yang menenangkan.
Meskipun tak semua orang begitu─tak semua orang dapat menikmati malam dengan leha-leha, ongkang-ongkang kaki sambil menyeruput kopi. Ada juga mereka yang menjadikan malam sebagai ruang untuk menyambung kehidupan. Saya salut dengan orang yang tak kenal waktu itu. Siang sampai malam mereka lewati dengan keberanian. Lantas, sebenarnya apa yang memupuk keberanian mereka?
Menurut saya, harapan dan keyakinanlah yang menjadi pondasi mereka untuk melangkah. Ya, apalagi jika bukan harapan dan keyakinan? Andai saja kedua hal itu tak pernah menemani mereka, betapa terpuruknya mereka menjalani hidup ini. Karena kedua pasang kaki saja tak cukup untuk melangkah di gelapnya malam.
***
Kembali pada pembahasa tentang burung. Malam itu, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, saat sedang berlangsung pemutaran dan diskusi film mengenal Sumatera Selatan lewat platform Singaraja Menonton yang dikelola Bli Kardian─akrab dipanggil Cotecx. Saat sedang asik-asiknya menikmati obrolan teman-teman yang sedang mengutarakan pendapatnya setelah menonton beberapa film, kami dikagetkan dengan seekor burung yang tiba-tiba jatuh dari atap.
Kami sempat mengira burung itu mati, karena beberapa saat setelah jatuh, burung itu tak bergerak sedikit pun─bahkan seinci pun tidak. Tetapi, aneh bin ajaib, setelah saya pegang dan saya elus-elus bulunya, ia terbangun─ia hanya pingsan. Waktu itu saya merasa tangan saya memiliki sentuhan magis.
Entah apa motif burung itu, saya tak tahu─memangnya orang macam apa yang kepikiran untuk bertanya, “Kamu kenapa, Burung?”. Entah disengaja atau nasib sial sedang menimpanya, yang jelas burung itu terbang tak terkendali, mungkin tanpa sadar, menukik dari atas kemudian menabrakkan diri ke atap hingga tersungkur ke tanah. Darrrr! Bunyi itu membuat kami kaget.
Untuk memastikan burung itu masih mempunyai harapan hidup atau tidak, saya dengan sukarela, tanpa motif apa pun, menimangnya dengan telapak tangan, sembari saya elus secara perlahan.
Bahkan saking nekatnya, saya sempat mempunyai niatan untuk meminta doa kepada semua pengunjung untuk kesembuhan si burung. Tapi untungnya, sebelum kekonyolan itu terjadi, burung itu sudah sadarkan diri kemudian terbang kedalam rumah dan hinggap di sertifikat Parama Patram Budaya milik Komunitas Mahima.
Sebelum ia benar-benar pergi, dan ini yang akan terus saya ingat, burung itu meninggalkan kotoran yang cair dan luber di telapak tangan kiri saya. Meskipun itu menjijikan, tetap saya apresiasi--mungkin itu cara dia berterimakasih kepada saya yang sudah menjaganya sampai siuman. Tentang kotoran burung yang menempel di telapak tangan itu, tak ada satu pun yang menyadarinya.
Barang sial sepertinya memang sudah digariskan di jidat si burung. Atau barangkali si burung memang lahir pas pada hari Rabu Wekasan. Keesokan harinya, Pak Ole—pemilik rumah sekaligus pimred tatkala.co─memberikan kabar. Bahwa, semalam setelah semua pengunjung pulang, burung itu ternyata diterkam seekor kucing. Naas. Benar-benar malang sekali nasibnya.
***
Melihat kejadian burung jatuh secara tiba-tiba di Mahima itu, saya teringat satu fenomena yang aneh di India. Saya sempat membaca beberapa artikel tentang adanya ribuan burung yang melakukan bunuh diri masal dengan cara menabrakkan tubuhnya ke tiang. Itu terjadi di Desa Jatinga, Dima Hasao di sebelah timur laut India.
Menurut tulisan Afif Farhanyang bejudul Misteri Burung Bunuh Diri Massal Di India (detikTravel, 24/02/16), menyebutkan bahwa fenomena tersebut terjadi setiap tahun pada bulan September – November.
Bahwasannya di desa Jatinga, lembah Pegunungan Haflong, pada sekitar pukul 19.00 – 22.00 malam, jalanan di setiap sudut desa itu akan dipenuhi oleh ribuan burung yang mati atau masih sekarat karena menabrakkan diri ke rumah, bangunan-bangunan lain atau pepohonan. Fenomena Bird Deaths itu sudah berlangsung sejak 1900-an.
Menurut kepercayaan setempat, penyebabnya adalah roh-roh yang berada di atas langit “memukul” burung-burung itu hingga jatuh ke tanah. Kemudian dijadikan santapan oleh masyarakat.
Meskipun belum ada jawaban yang pasti tentang fenomena itu, ahli biologi dan ilmuwan setempat memberikan jawaban mengenai hal tersebut. Pertama, burung-burung tersebut terjebak kabut sehingga penglihatannya terganggu; dan yang kedua,burung-burung itu tertarik pada sorot lampu dari rumah-rumah warga, sehingga mereka mengikuti arah lampu tersebut. Meskipun, pada akhirnya malah menabrak rumah, bangunan atau pepohonan.
Nah, apakah burung yang menabrakkan diri ke atap rumah Pak Ole itu terinspirasi oleh burung-burung di India? Meskipun, di Singaraja tidak ada kepercayaan tentang roh yang memukul burung-burung.
Atau jangan-jangan burung itu sedang sedih, karena sudah tidak mempunyai teman karena teman-temannya sudah habis ditangkap. Atau sedih karena anaknya telah dicuri oleh “pecinta burung”, atau bisa jadi dia sedang ketakutan karena melihat teman-temannya ditembak para pemburu. Sehingga harapan dan keyakinan burung itu untuk tetap hidup lenyap dengan kemudian nekat menabrakkan dirinya. Jika benar seperti itu, sungguh saya benar-benar merasa bersalah. Karena dari semua hal itu, saya pernah melakukannya.
Seandainya semua burung mengalami kesedihan, dan nekat melakukan bunuh diri masal, betapa meruginya kita sebagai manusia. Saya tak bisa membayangkan betapa minornya suara alam tanpa kicuan burung. Betapa ganjilnya pagi tanpa adanya obrolan para burung. Sungguh, sesuatu yang tak mungkin saya untuk amini.
Meskipun ada juga faktor yang mungkin menyebabkan populasi burung menghilang selain ulah para pemburu. Seperti, misalnya penggunaan pestisida dalam budaya tanam menanam.
Saya pernah membaca status Facebook Mas Jaswanto tentang cerita dia selama berada di Rumah Intaran. Dia bercerita, setiap pagi ia mengamati burung-burung yang hinggap di pohon-pohon pekarangan Rumah Intaran. Tetapi aneh, pohon mangga di sebelah Rumah Intaran tak disambangi burung-burung. Ternyata, setelah ia bertanya kepada pemilik rumah, pohon itu disemprot pestisida sedangkan pohon-pohon di Rumah Intaran tidak.
Dengan demikian, bisa jadi, penggunaan pestisida menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi burung. Bayangkan saja, jika satu desa, semua tanamannya dirawat dengan pestisida yang notabene berbahan baku kimia.
Apa yang terjadi? Sudah jelas, burung akan enggan untuk hinggap di tanaman-tanaman itu dan menyebabkan melimpahnya populasi ulat. Ini sudah pasti karena akan mengubah siklus rantai makanan, karena tidak ada burung yang memakan ulat-ulat itu. Lantas siapa yang rugi?
***
Kita masih mempunyai harapan, kelak anak cucu kita akan merasakan betapa harunya bangun pagi disambut dengan aneka kicauan burung, tanaman tumbuh subur, karena nutrisi yang ia serap alami, dan segarnya embun yang jatuh di sudut rumah.
Harapan itu akan terwujud kalau kita mau dan sadar untuk menjaga kelestarian alam. Meskipun, kita tak bisa merawat alam dengan sepenuhnya, setidaknya jangan merusak tatanan alam yang sudah ada.
Bukankah sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya kita menjaga alam? Jika nasib semua burung apes, maka nasib kita juga akan tidak baik-baik saja.
Hubungan yang terbangun tidak hanya sekadar Hablum Minallah, dan Hablum minannas saja, tetapi, Hablum minal alam juga sebagai cerminan Islam yang Rahmatan lil alamin. [T]
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...