Hujan kali ini tak ‘kan menghentikan apa pun apalagi rindu yang terlanjur jadi bentang kabut di bukit-bukit tandus diri mendingin tulang di batu-batu penantian
Selalu saja ada harapan merima-rima di liuk lembahnya bersajak senja merah sejenak melereng jadi belalang dedaunan
Melirik hati yang kadang menyendiri jadi nyanyian syahdu memandu segala rindu
Jika diamku adalah asa ingin bertemu aku masih yakin harapmu adalah sua yang tertunda sekaligus tertuju padaku menjelma jadi merpati tualang kembali pulang membawa segenap cerita ke beranda pinta hendak bertandang lagi saban waktu di ketuk pintu semesta yang paling terkunci; hatimu
SENJA KOTA LAMA
Pada akhirnya, kita kembali ke kota yang sama tempat segala macam senja tumpah di haru waktu menderaskan segala macam kata yang dikirim pada butiran hujan kemarin entah akan jadi genang telaga di beranda atau jadi sungai-sungai pastu kepergian menghanyutkan segala luka ke baruna
Di sampan itu kita coba babarkan layar mencari sisa rona langit doa-doa usia pada siasat cakrawala pengharapan sebelum turun di genggam tanganmu jadi remas jiwa yang selalu saja melemahkanku di beriak ombak kedatangan jika deburnya adalah debar yang menghindar aku rela hanyut, asal menuju arah yang sama ke sambut jiwa cintamu
SENJA KECEMASAN
Sepagi ini, hujan melerai embun kerinduan pada bening gelayut dedaunan dan batu-batu peradaban ada semu wajahmu di butirnya paling ranum memantulkan sekian kecemasan tentang senja yang tiada datang kembali nanti merestu sua sejuta harapan
Pada gigil capung hijau, ada tangkap cinta memantrakan segala waktu jika nanti akan tetap ada senja beradu padu genggam jiwa mengilham bias warna asmara juga puncak renung: ke mana pertalian ini akan menari-nari?
Pada akar-akar pohon hutan hujan kita tambatkan segala rangkul keinginan menjadi lebih ikhlas
WANGI SENJA KASTALA
Alkamar memancar di atas ancala jadi serat cinta di ketinggian parwata raja-raja
Di gemulai cemara muda itulah kurawat-rawat selancar wajah penuh binar meninggalkan senja sewangi kastala di relung bisik jiwamu pertanda malam semakin dewasa melepas sejuta kunang-kunang lahir dari persemedian kamar lelahmu sebelum hinggap di gerai rambutmu jadi cahaya semesta
Adalah bayangku yang kemudian membekas pada tembok yang retak menyelinapkan desah gurau hati di bintik pori imaji
Adalah inginku kemudian meruangkan segala peluk yang merelakan segalanya jadi rangkul paling hangat di kesendirianmu
SENJA SEMAYAM HATI
Kupu-kupu merajam putaran hari jadi bentang senja menuruni lekuk sempurna tubuhmu mewarna diri, semayam hati lirihnya kadang jadi bait lagu lebih sering jelma rindu
Di satu kepak sayapnya kemudian ada cerita tentang gugur kembang saptarupa mengalasi setiap juntai mimpi yang kautawarkan pada ikat senyum di lentik putik tarianmu meliu-liuk kidang kencana di bawah cakrawala selincah itukah godamu atas cintaku?
Di bulir pasir putih, senjaku adalah isak kelabu mengapung di ruas pecah ombak di titik kesedihan paling melayar adalah sampan cintamu yang paling ingin kukayuh
SENJA SUMBERKIMA
Kugenggam tanganmu pada turunan senja bukan di bentang pasir yang melandai sebab kali ini kupinta rebahanmu di pundakku melihat rona yang kedatangannya sementara seperti katamu saban malam sepemulang arakan awan di langit Sumberkima tubuhku hanyalah isak tangis kegelisahan telah kudayung-dayung sampan perihnya ke laut mahaluas yang kita ratapi muaranya di biru legam ganggang tua
Sedang dengan kata tak berbatas susah kudengar riak riuh angin di dadamu apalagi hanya sebatas laut yang tepinya sejarak mata tak ada gugah diri mengombak bicara sebab di kepak bangau putih itu kepulangannya senantiasa berkabar kesunyianmu adalah ragu yang sesungguhnya
BELANTARA SENJA
Di tasik itu, sebelum hari melepas senja kurangkul senyummu dalam satu peluk tangan merambah ke tengah-tengah belantaraku jadi pohon-pohon eram matahari sedikit pun tak kuberi waktu kepada angin yang menerpa lapang pipimu sebab segalanya adalah kepunyaanku
Sekalipun aku tahu pada tepian biak riak itu, selalu ada dermaga menunggumu tempat segala kepastian akan tertambat sedang di sela-sela jemarimu adalah aku kabut itu, melepas dalam genggam mendingin di batu-batu humus sebentar menyelinap di hujan pegunungan meresap ke ritus jiwa paling kultus mengalirkan sejuta cinta paling hening di bahu lelahmu
LINGKAR SENJA CINTA
Lihat sejenak bulan di pekarangan hendak bertamu di ketuk pintumu berkabar tentang senja yang lewat tanpa ada aku di ujung cakrawalanya
Di temaramnya, wajahmu adalah benderang menuju puja terang purnama di sinar raya akasa paling cinta
Kubayangkan di salah satu lingkarnya diam-diam mengelus jejak sepi di rambutku jadi kata paling syahdu; merindukanmu kubiarkan hangat bulan di telapak tanganmu mengusap selalu lapang dadaku mengantarkan setiap curah mimpi di bujur malamku, sekalipun aku tahu susah jadi tebaran bintang abadi atas langitku
Namun, bukankah aku masih punya bulat matamu itu?
Catatan: Puisi-puisi ini diambil dari buku kumpulan puisi "Historia Senja" karya I Made Astika, terbitan Mahima Institute Indonesia, 2020
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...