Puisi-puisi I Made Astika | Segurat Senja Perjalanan

I Made Astika
by I Made Astika — Februari 11, 2023 in Puisi

Tatkala.co

SENJA BURUNG TUALANG

Hujan kali ini tak ‘kan menghentikan apa pun
apalagi rindu yang terlanjur jadi bentang kabut
di bukit-bukit tandus diri
mendingin tulang di batu-batu penantian

Selalu saja ada harapan merima-rima
di liuk lembahnya bersajak senja merah
sejenak melereng jadi belalang dedaunan

Melirik hati yang kadang menyendiri
jadi nyanyian syahdu memandu segala rindu

Jika diamku adalah asa ingin bertemu
aku masih yakin harapmu adalah sua yang tertunda sekaligus tertuju padaku
menjelma jadi merpati tualang kembali pulang
membawa segenap cerita ke beranda pinta
hendak bertandang lagi saban waktu
di ketuk pintu semesta yang paling terkunci;
hatimu

SENJA KOTA LAMA

Pada akhirnya, kita kembali ke kota yang sama
tempat segala macam senja tumpah
di haru waktu
menderaskan segala macam kata
yang dikirim pada butiran hujan kemarin
entah akan jadi genang telaga di beranda
atau jadi sungai-sungai pastu kepergian
menghanyutkan segala luka ke baruna

Di sampan itu kita coba babarkan layar
mencari sisa rona langit doa-doa usia
pada siasat cakrawala pengharapan
sebelum turun di genggam tanganmu
jadi remas jiwa yang selalu saja melemahkanku
di beriak ombak kedatangan
jika deburnya adalah debar yang menghindar
aku rela hanyut, asal menuju arah yang sama
ke sambut jiwa cintamu

SENJA KECEMASAN

Sepagi ini, hujan melerai embun kerinduan
pada bening gelayut dedaunan
dan batu-batu peradaban
ada semu wajahmu di butirnya paling ranum
memantulkan sekian kecemasan
tentang senja yang tiada datang kembali nanti
merestu sua sejuta harapan

Pada gigil capung hijau, ada tangkap cinta
memantrakan segala waktu
jika nanti akan tetap ada senja
beradu padu genggam jiwa
mengilham bias warna asmara
juga puncak renung: ke mana pertalian ini
akan menari-nari?

Pada akar-akar pohon hutan hujan
kita tambatkan segala rangkul keinginan
menjadi lebih ikhlas

WANGI SENJA KASTALA

Alkamar memancar di atas ancala
jadi serat cinta di ketinggian parwata raja-raja

Di gemulai cemara muda itulah
kurawat-rawat selancar wajah penuh binar
meninggalkan senja sewangi kastala
di relung bisik jiwamu
pertanda malam semakin dewasa
melepas sejuta kunang-kunang
lahir dari persemedian kamar lelahmu
sebelum hinggap di gerai rambutmu
jadi cahaya semesta

Adalah bayangku yang kemudian membekas
pada tembok yang retak
menyelinapkan desah gurau hati
di bintik pori imaji

Adalah inginku kemudian meruangkan
segala peluk yang merelakan segalanya
jadi rangkul paling hangat di kesendirianmu

SENJA SEMAYAM HATI

Kupu-kupu merajam putaran hari
jadi bentang senja
menuruni lekuk sempurna tubuhmu
mewarna diri, semayam hati
lirihnya kadang jadi bait lagu
lebih sering jelma rindu

Di satu kepak sayapnya kemudian ada cerita
tentang gugur kembang saptarupa
mengalasi setiap juntai mimpi yang kautawarkan
pada ikat senyum di lentik putik tarianmu
meliu-liuk kidang kencana di bawah cakrawala
selincah itukah godamu atas cintaku?

Di bulir pasir putih, senjaku adalah isak kelabu mengapung di ruas pecah ombak
di titik kesedihan paling melayar
adalah sampan cintamu yang paling ingin kukayuh

SENJA SUMBERKIMA

Kugenggam tanganmu pada turunan senja
bukan di bentang pasir yang melandai
sebab kali ini kupinta rebahanmu di pundakku
melihat rona yang kedatangannya sementara
seperti katamu saban malam
sepemulang arakan awan di langit Sumberkima
tubuhku hanyalah isak tangis kegelisahan
telah kudayung-dayung sampan perihnya
ke laut mahaluas yang kita ratapi muaranya
di biru legam ganggang tua

Sedang dengan kata tak berbatas
susah kudengar riak riuh angin di dadamu
apalagi hanya sebatas laut
yang tepinya sejarak mata
tak ada gugah diri mengombak bicara
sebab di kepak bangau putih itu
kepulangannya senantiasa berkabar
kesunyianmu adalah ragu yang sesungguhnya

BELANTARA SENJA

Di tasik itu, sebelum hari melepas senja
kurangkul senyummu dalam satu peluk tangan
merambah ke tengah-tengah belantaraku
jadi pohon-pohon eram matahari
sedikit pun tak kuberi waktu
kepada angin yang menerpa lapang pipimu
sebab segalanya adalah kepunyaanku

Sekalipun aku tahu
pada tepian biak riak itu, selalu ada dermaga menunggumu
tempat segala kepastian akan tertambat
sedang di sela-sela jemarimu
adalah aku kabut itu, melepas dalam genggam
mendingin di batu-batu humus
sebentar menyelinap di hujan pegunungan
meresap ke ritus jiwa paling kultus
mengalirkan sejuta cinta paling hening
di bahu lelahmu

LINGKAR SENJA CINTA

Lihat sejenak bulan di pekarangan
hendak bertamu di ketuk pintumu
berkabar tentang senja yang lewat
tanpa ada aku di ujung cakrawalanya

Di temaramnya, wajahmu adalah benderang
menuju puja terang purnama
di sinar raya akasa paling cinta

Kubayangkan di salah satu lingkarnya
diam-diam mengelus jejak sepi di rambutku
jadi kata paling syahdu; merindukanmu
kubiarkan hangat bulan di telapak tanganmu
mengusap selalu lapang dadaku
mengantarkan setiap curah mimpi di bujur malamku,
sekalipun aku tahu
susah jadi tebaran bintang abadi atas langitku

Namun,
bukankah aku masih punya bulat matamu itu?

Catatan: Puisi-puisi ini diambil dari buku kumpulan puisi "Historia Senja" karya I Made Astika, terbitan Mahima Institute Indonesia, 2020

[][][]

https://tatkala.co/2023/02/04/puisi-puisi-iga-maya-kurnia-rindu-cinta-matiku/
https://tatkala.co/2023/01/28/puisi-puisi-abed-ilyas-ombak-pasang-di-timur-pulau/
https://tatkala.co/2023/01/15/puisi-puisi-wayan-esa-bhaskara-menari-menarilah-kau/
Tag: Puisi
Avatar

I Made Astika

Related Posts