Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
BULELENG | TATKALA.CO -- Ni Putu Intan Satriadiningrat, krama istri dari Paiketan Krama Istri (Pakis) Desa Adat Sinalud, Desa Kayu Putih Melaka, Kecamatan Sukasada, berhsil meraih juara satu dalam lomba mesatua (bercerita) Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali V Tingkat Kabupaten Buleleng di Sasana Budaya Singaraja, Kamis, 9 Februari 2023.
Sementara juara kedua dan ketiga dalam lomba masing-masing Luh Putu Artaningsih dari Kecamatan Buleleng dan Kadek Ayu Restiti dari Kecamatan Sawan.
Sebagai jura pertama, Intan Satriadiningrat berhak mewakili Kabupaten Buleleng untuk mengikuti lomba di tingkat Provinsi Bali yang direncanakan tanggal 21 Februari 2023 mendatang
“Perasaan campur aduk, pastinya bersyukur sekali dalam juara,” kata Intan usai penyerahan hadiah.
Keberhasilan Intan Satriadiningrat untuk meraih juara dimulai dari tingkat desa. Pertama-tama ia menjadi juara lomba di tingkat desa, lalu ditunjuk mewakili kecamatan untuk bertanding di tingkat kabupaten.
”Ini berkat bimbingan prajuru Desa Adat Sinalud dan penyuluh Bahasa Bali dikecamatan selain terus belajar di rumah,” ujar Intan.
Lomba Nyurat Aksara
Sementara itu, untuk kategori lomba Nyurat Aksara Bali, juara satu diraih Kadek Selly Utami Erliana, siswi kelas enam SDN Bestala, Kecamatan Seririt. Juara kedua dan ketiga masing-masing diraih Ni Kadek Ary Setiyani dari Kecamatan Gerokgak dan Ni Rastri Kapat Raksakaru dari Kecamatan Buleleng.

Foto: Kadek Selly Utami Erliana, Ni Kadek Ary Setiyani dan Ni Rastri Kapat Raksakaru
Selly Utami Erliana mengatakan, selama ini belajar nyurat aksara Bali di sekolah. Jika gurunya tak sempat mengajarinya, ia tetap belajar sendiri.
Ia mengaku belajar nyurat aksara sejak kelas empat SD. Dan ia mengaku sangat senang mendapat juara, dan hadiahnya akan dibelikan keperluan sekolah. Ia berpesan kepada teman-teman untuk selalu belajar agar bisa melestarikan budaya Bali. [T][Ado]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...