Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
BULELENG | TATKALA.CO -- Ni Putu Intan Satriadiningrat, krama istri dari Paiketan Krama Istri (Pakis) Desa Adat Sinalud, Desa Kayu Putih Melaka, Kecamatan Sukasada, berhsil meraih juara satu dalam lomba mesatua (bercerita) Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali V Tingkat Kabupaten Buleleng di Sasana Budaya Singaraja, Kamis, 9 Februari 2023.
Sementara juara kedua dan ketiga dalam lomba masing-masing Luh Putu Artaningsih dari Kecamatan Buleleng dan Kadek Ayu Restiti dari Kecamatan Sawan.
Sebagai jura pertama, Intan Satriadiningrat berhak mewakili Kabupaten Buleleng untuk mengikuti lomba di tingkat Provinsi Bali yang direncanakan tanggal 21 Februari 2023 mendatang
“Perasaan campur aduk, pastinya bersyukur sekali dalam juara,” kata Intan usai penyerahan hadiah.
Keberhasilan Intan Satriadiningrat untuk meraih juara dimulai dari tingkat desa. Pertama-tama ia menjadi juara lomba di tingkat desa, lalu ditunjuk mewakili kecamatan untuk bertanding di tingkat kabupaten.
”Ini berkat bimbingan prajuru Desa Adat Sinalud dan penyuluh Bahasa Bali dikecamatan selain terus belajar di rumah,” ujar Intan.
Lomba Nyurat Aksara
Sementara itu, untuk kategori lomba Nyurat Aksara Bali, juara satu diraih Kadek Selly Utami Erliana, siswi kelas enam SDN Bestala, Kecamatan Seririt. Juara kedua dan ketiga masing-masing diraih Ni Kadek Ary Setiyani dari Kecamatan Gerokgak dan Ni Rastri Kapat Raksakaru dari Kecamatan Buleleng.

Foto: Kadek Selly Utami Erliana, Ni Kadek Ary Setiyani dan Ni Rastri Kapat Raksakaru
Selly Utami Erliana mengatakan, selama ini belajar nyurat aksara Bali di sekolah. Jika gurunya tak sempat mengajarinya, ia tetap belajar sendiri.
Ia mengaku belajar nyurat aksara sejak kelas empat SD. Dan ia mengaku sangat senang mendapat juara, dan hadiahnya akan dibelikan keperluan sekolah. Ia berpesan kepada teman-teman untuk selalu belajar agar bisa melestarikan budaya Bali. [T][Ado]
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...