Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
DENPASAR | TATKALA.CO – Ratusan pelajar dan mahasiswa dengan rona wajah begitu bersih dan gembira berama-ramai nyurat lontar atau menggurat tulisan di atas daun lontar dan mengetik aksara Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu, 1 Februari 2022.
Pelajar dan mahasiswa itu berasal dari perwakilan SMK/SMA di Bali. Kegiatan nyurat lontar dan ngetik aksara Bali secara bersama-sama itu merupakan serangkaian pembukaan Bulan Bahasa Bali (BBB) ke-5 tahun 2023.
Nyurat lontar adalah kegiatan yang dilakukan secara tradisional, sementara menulis aksara Bali dilakukan melalui media digital. Dua kegiatan itu merupakan kombinasi yang pas dan menarik sehingga menjadi ikon baru dalam pelaksanaan Bulan Bahasa Bali tahun ini.
“Ikon yang menarik dalam ajang BBB kali ini adalah penyajian cara nyurat lontar di masa lalu dan kekinian yaitu ngetik di komputer,” kata Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali, Drs. AA Ngurah Bagawinata,MM.
Ngurah Bagawinata menjelaskan, topik yang menarik itu, yakni masa lalu yang menghadirkan nyurat lontar dengan pengrupak di atas lontar. Sedangkan yang baru, yakni lompatan teknologi dengan keyboard aksara Bali. Masa lalu dan masa kini ini ditampilkan secara berdampingan.
“Kegiatan masa lalu yang diterapkan oleh lelangit leluhur kita berkaitan dengan penglimbakan bahasa dan aksara Bali, begitu juga dengan teknik teknologi. Ini sudah dibuat oleh anak-anak bangsa, anak-anak krama Bali berupa keyboard aksara Bali,” ujarnya.
Festival nyurat lontar dan mengetik Bahasa Bali ini memang menjadi hal baru.dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Tjok. Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace turut menyaksikan festival nyurat lontar dengan pengrupak setelah pembukaan BBB ke-5 itu berlangsung. Kemudian meninjau pengetikan Bahasa Bali dengan keyboard, yang dilanjutkan mengunjungi Reka Aksara (Pemeran) BBB ke 5.
Bulan Bahasa Bali tahun 2023 mengusung tema “Segara Kerthi: Campuhan Urip Sarwa Prani” yang dimaknai sebagai altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali untuk memaknai laut sebagai awal dan akhir kehidupan segenap makhluk. Selama sebulan penuh menyajikan 6 kegiatan pokok, yaitu Krialoka (Workshop), Widya Tula (Seminar), Wimbakara (Lomba), Sesolahan (Pergelaran), Reka Aksara (Pameran), dan Penganugrahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama kepada dua tokoh khususnya dibidang sastra Bali. “Tema ini terejawantahkan dalam setiap tampilan materi,” ungkap Bagawinata.
Selaku Kurator BBB I Putu Eka Gunayasa menambahkan kepesertaan nyurat lontar dan ngetik aksara Bali diikuti oleh mahasiswa dari Faklutas Ilmu Budaya Universitas Udayana, serta perwakilan masing -masing sekolah baik tingkat SMP maupun SMA/SMK di Bali. “ Sebanyak 50 mahasiswa terlibat dan ratusan siswa SMP, SMA/SMK ikut serta dalam acara ini, kegiatan ini sekaligus menunjukan sebuah pengenalan,pengembangan aksara, sastra Bali di kalangan pelajar,” kata Gunayasa yang juga dosen FIB Unud tersebut.
Sementara, saat pembukaan BBB ke-5, dimeriahkan penampilan apik anak -anak Kokar Bali yang menyajikan prosesi sesolahan Sandhya Githa yang mengangkat judul “Nawa Ruci”. Sesolahan Sandya Githa ini dikemas lebih atraktif dan menarik dengan memadukan kombinasi visual. Konsepnya sandya githa, tetapi dalam pengkemasannya mirip dengan sendratari.
Meski demikian, porsi gerak tari lebih sedikit, karena harus menggunakan vocal atau suara dan menonjolkan sastra. Pola gerak dikembangkan pada posisi diam, lalu diikuti dengan bernyanyi. “Sandya Githa ini lebih banyak dikreasikan, namun tetap berpedoman pada tema “Segara Kerthi”,” ucap Ketua Sanggar Seni Kokar Bali, Ketut Darya.

Dalam garapan ini, Kokar menggangkat kehidupan sarwa prani, semua kehidupan di laut karena di sana tempat peleburan juga penyucian. Terbentuknya alam dan manusia dari unsur panca maha buta, sehingga pesan yang disampaikan manusia hendaknya menyayangi laut, karena berkontri besar pada manusia. “Laut, tempat pemarisuda dan amerta itu ada di laut, maka sayangi laut,” katanya.
Tonggak Peradaban
Gubernur Bali Wayan Koster membuka Bulan bahasa Bali ke-5 ditandai dengan meletakan “benawa”, sekar perahu bunga di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali.
Koster mengatakan, Bulan Bahasa Bali merupakan salah satu Tonggak Peradaban Penanda Bali Era Baru yang merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi (Pemrov) Bali untuk memposisikan Bahasa Bali sebagai inti dari kebudayaan Bali.
“Ini bukti, Pemprov Bali benar-benar komitmen melestarikan, mengembangkan dan memuliakan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali,” katanya.
Gubernur Koster menyampaikan rasa syukur kehadapan Hyang Widhi Wasa, Leluhur, dan Guru - Guru Suci di Bali, karena telah diberi kesempatan melaksanakan Bulan Bahasa Bali sesuai pelaksanaan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali
Untuk pelaksanaan BBB tahun ini “Segara Kerthi: Campuhan Urip Sarwa Prani”, Gubernur Koster mengharapkan agar betul-betul dipahami oleh masyarakat Bali untuk melestarikan segara (laut) sebagai awal dan akhir dari kehidupan.
Hal itu sesuai dengan visi Nangun Sat Kerti Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, yang mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, niskala-sakala.
Gubernur Koster meminta, BBB ke-V Tahun 2023 dapat dijalankan dengan baik oleh seluruh elemen, seperti Desa Adat, Desa Dinas, Lembaga Pendidikan dari PAUD hingga Perguruan Tinggi, Lembaga Swasta, Perbankan, dan lain sebagainya sebagai sarana untuk membumikan Bahasa Bali menjadi pedoman dan panduan oleh masyarakat untuk menjalankan kehidupan, salah satunya menjaga kelestarian laut sebagai sumber penghidupan.
Gubernur Koster lalu mengajak masyarakat untuk melestarikan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali sebagai warisan leluhur untuk menuju kehidupan yang sejahtera.
“Saya minta agar pelaksanaan Bulan Bahasa Bali berjalan dengan tertib. Astungkara, Bulan Bahasa Bali ke-V Tahun 2023 berjalan dengan lancar. Muliakan-lah Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, karena negara-negara di dunia yang mempunyai Aksara adalah negara yang mempunyai peradaban kuat, dan negara yang memiliki peradaban, dia akan menjadi negara yang kuat dibidang budaya, ekonomi, dan kuat membangun tata kehidupan, seperti China, Jepang, Korea, Thailand, India, sampai Arab,” katanya.

Gubernur Bali I Wayan Koster pada pembukaan Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali
Bali harus bersyukur kepada leluhur yang telah mampu menciptakan dan mewariskan Aksara Bali sampai saat ini dan menjadikan Bali sebagai Pulau yang memiliki peradaban budaya yang kuat.
“Di jaman dahulu tidak ada kuliah, jangankan kuliah Sekolah Dasar pun belum. Tetapi leluhur kita bisa menciptakan Aksara Bali, jadi kita bisa menarik kesimpulan bahwa Leluhur Bali jauh lebih pintar, cerdas, dan visioner dari kita. Untuk itu, kita harus wajib melindungi dan menggunakan Aksara, Bahasa, dan Sastra Bali dalam tatanan kehidupan di Bali,” tegas Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini yang disambut tepuk tangan.
Gubernur Koster secara khusus mengajak generasi muda di Bali untuk melestarikan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Karena itulah, Pempro Bali mengeluarkan kebijakan mengadaptasikan perkembangan teknologi dengan Aksara Bali berupa keyboard Aksara Bali.
“Keyboard Aksara Bali ini adalah yang pertama di Bali dan di Indonesia, sampai mendapat apresiasi dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, karena Bali dinilai lebih cepat memajukan kearifan lokalnya berbasis digital, sehingga teknologi digital yang berkembang pesat ini tidak mematikan kearifan lokal di Bali, namun justru sebaliknya kearifan lokal kita digunakan untuk memperkuat kehidupan,” tutup Gubernur Koster.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan, I Gede Arya Sugiartha melaporkan BBB ke-V Tahun 2023 ini berlangsung dari tanggal 1 – 28 Februari 2023 dengan melaksanakan acara, Utsawa (Festival) berupa nyurat lontar serta mengetik di keyboard Aksara Bali oleh siswa SMP, SMA/SMK serta mahasiswa se-Bali, Wimbakara (lomba) yang secara total terdapat 18 jenis lomba, Krialoka (workshop) mengetik di keyboard Aksara Bali serta menulis Aksara Bali, dan Reka Aksara (pameran) buku.
Ada juga tari-tarian dengan judul Nawa Ruci yang dipentaskan dalam pembukaan. Selain itu digelar Widyatula (seminar) yang mengangkat tema Segara Kerthi dalam kaitannya dengan Kebudayaan Bali, Konservasi Lontar yang bertujuan untuk melestarikan lontar-lontar milik Krama Bali oleh Para Penyuluh Bahasa Bali dan Penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama sebagai penghargaan utama bagi tokoh yang berjasa di bidang Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, kali ini akan diberikan kepada dua orang tokoh saat penutupan Bulan Bahasa Bali Ke-V Tahun 2023.
Pelaksanaan BBB ke-5 tidak hanya dilaksanakan di tingkat Provinsi, namun juga terselenggara di tingkat Kabupaten/Kota, Kelurahan, Desa Adat hingga tingkat Sekolah Se-Bali. Untuk itu, Kami dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali meminta para Penyuluh Bahasa Bali yang berjumlah 663 orang agar membantu membumikan Bulan Bahasa Bali di seluruh lapisan masyarakat Bali.
“Saya juga berharap Bapak Bupati, Walikota, Perbekel, Bendesa Adat, Kepala Sekolah serta pimpinan Perguruan Tinggi Se-bali untuk guyub menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali Ke-V Tahun 2023,” katanya. [T][Ado/Rls/*]
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...