Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
barangkali kejatuhan sunyi menjelma
pasir pesisir. berulang kali
dimurnikan matahari
memilih jadi tawanan air
melihat cahaya dari kedalaman
laut atau maut
di sana hanya ada gema
yang telah lama berlepasan
dari bibir penyair
di timur pulau. malam
meringkuk di jantung bayang
menebak letak segumpal mineral
di jalur pendar. biru agar-agar
tak sebulat mata purnama
memantul pada butir-butir garam
menafsir laut pasang-surut
di ujung dermaga yang kaki-kakinya keriput
mata suar memerah di jantung bayang
tiap kali tangan angin menyeret sampan
menuju hilang
aku menghitung dalam keremangan bintang
berapa banyak burung: terpisah dari kawanan
terlambat pulang
desis nokturna. lembar ombak robek
di taring tebing serta bunyi tepuk daun-daun
mataku memutih terperangkap dalam sinar bulan
entah bagaimana menjelaskan
perasaan air, sejak datang dan berakhir
di sini. salah satu kelokan linang
tubuh batu lumut beludru: samadi
menafsir mosaik daun-daun, serta desis
hutan tenggelam-timbul sepanjang musim
di pangkuan batu, meredam
lembar air: menyala warna marun
bekas lengan ilalang cakar belukar
sebuah sepeda menyeret penunggangnya
melintasi selimut hujan
beku sendi mencair di ujung pedal
sebatang bunyi menjulang, merah nyala warna gula
dari lubang bambu, merupa sebilah pedang: tebas
musik dan raung mesin
terapung-apung dalam cahaya. lampu-lampu kota
melelehkan tubuhnya, setetes demi setetes. mengalir
garis dilukis sepasang roda
[][][]
BACA puisi-puisi lain dari penyair Indonesia
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...