Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Senja itu terlihat begitu pekat dan gelap. Sepi. Pohon tua di Pura desa kami seperti bertapa di punjak keheningan. Guruh, petir, kilat menggodanya. Pertahanannya mulai goyah. Angin guruh, petir, kilat bersepakat menerjang keheningan pohon tertua di desa kami.
“Braaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Duaaaaaaaaaaaaaar!”
Lambung pohon tua diserangnya. Ia menahan perih. Jantung kehidupannya satu demi satu digerogoti. Tetes-tetes getahnya yang kulihat bagai darah itu tak mau terhenti. Aku merasakan betapa perihnya saat seperti itu.
Pohon tua yang tumbuh di Pura kami tak bisa menghindarkan dirinya dari gempuran petir. Daun-daunnya mulai layu dan segera akan luruh. Pohon itu seusia dengan perjalanan desa kami. Ia ditanam tetua kami sebagai pengingat awal membuka tempat suci. Sedari kecil sudah diupacarai semakin lama semakin indah kelihatannya.
Kami bersepakat untuk memberi saput poleng, kain putih hitam sebagai pertanda bahwa pohon itu patut dijaga. Menjaga pohon sama dengan menjaga kehidupan di desa kami. Satupun warga di desa kami tak berani mengusiknya. Kami percaya bahwa pohon yang sudah diberi selendang putih hitam ada yang penjaganya.
Sebelum kejadian, beberapa tetua memimpikan ada api besar yang menyala-nyala di pohon itu. Katanya itu banaspatiraja sebagai penunggu pohon tua itu. Aku sendiri bertanya-tanya apa hubungannya antara mimpi dengan kejadian itu. Apa itu hanya kebetulan saja? Ah, itu tak perlu bagiku. Yang kuhadapi sekarang adalah pohon tua di Pura kami mulai meranggas daunnya.
Sangkepan segera digelar. Kami bersepakat untuk melakukan upacara pembersihan. Pohon itu akan segera diganti. Penggantinya ini yang susah diperoleh. Pohon sejenis itu sudah tak ada lagi. Beragam tafsir bermunculan. Ada yang mengatakan karena desa kami ada masalah dengan keuangan yang pelaporannya tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh yang dipercayai sudah menyimpang kesuciannya. Namanya tafsir boleh-boleh saja. Tapi, aku hanya yakin, pohon itu mati disambar petir.
Kusampaikan kepada teman-teman bahwa pohon tertua di desa kami tersambar petir dan perlu pohon yang sejenis. Satupun tak ada yang tahu nama pohonnya. Aku share di FB maupun instagram agar dapat informasi mengenai pohon itu.
Hasilnya nihil. Aku tak mau menyerah. Bukan sifatku menyerah sebelum berusaha. Usaha niskala kulakukan. Kucoba mencari paranormal. Ceritanya semakin tak jelas. Ia katakan bahwa ada leteh di Pura hingga terjadi kejadian pohon tua berumur ratusan tahun tersambar petir. Ah, aku tak percaya dengan alur bicaranya. Bukannya jalan keluar kudapatkan justru masalah baru yang bisa memperkeruh keadaan.
Malam itu, aku sendirian ke Pura. aku membawa canang sekar. Semua pelinggih kusembahkan canang sekar. Bau dupa menyengat di hidungku. Aku khusuk memuja kebesaran-Nya. Tak ada tempat yang lebih mulia sebagai tempat bertanya selain kepada-Nya. Puja-puja dalam hatiku mengiringi persembahanku yang sederhana ini. Alam kulihat semakin terang. Secercah kebeningan menghampiri rasa hatiku. Ia sepertinya mengatakan sesuatu.
“Pohon itu sudah waktunya meninggalkan semesta ini. Ia telah ratusan tahun menghidupi desa ini. Berikan ia menyatu bersama semesta. Tak ada yang abadi di bumi ini. Kau juga tak akan hidup selamanya. Ada waktu untuk kembali pada-Nya. Belajarlah dari pohon itu. Ia pergi setelah memberikan energi kehidupan. Hidupnya tak sia-sia.”
Aku bertanya-tanya dalam hati. Ini artinya. Aku selama ini telah menyia-nyiakan hidup. Ini artinya yang selama ini kulakukan belum seirama dengan alam. Ah, ternyata pohon itu masih mengajari kami tentang kemanfaatan hidup. Aku menjadi malu pada pohon.
“Tak perlu risau dengan kematiannya. Di sisa kematiannya akan ada kehidupan baru. Ambillah rantingnya yang berada di timur laut itu. Tanam kembali dan rawatlah ia dengan cinta. Semesta pasti mendengar harapan-harapan pemujanya. Ada menyatu bersama semesta ada juga yang kembali lagi pada kehidupan.”
Mataku tersentak saat kilat berkelebat di sampingku. Mataku tertuju pada arah yang kurasakan tadi. Kulihat ranting pohon itu masih menyisakan kehidupannya, ia belum layu. Aku cepat-cepat memotongnya. Aku tanam kembali di samping pohon tua itu. “Tuhan berikan kami kesempatan menjaga pohon ini,” doaku saat menancapkannya.
Aku pulang. Orang tuaku tak banyak bertanya. Ia sudah tahu kebiasaanku yang terkadang sampai beberapa hari tak pulang. Hanya ibu yang sedikit khawatir. “Kau ke mana saja selama ini. Sepertinya kau gelisah setelah pohon tua di Pura tersambar petir?”
Aku tak segera menjawabnya. Aku ambil sisa buah yang dipersembahkan waktu odalan. Buah mangga kesukaanku kukupas. Satu demi satu kulitnya kubuang. Pohon memberikan buah. Bunga memberikan sari wangi, sedangkan aku memberikan apa pada semesta? Duh, kenapa pikiranku aneh-aneh begini sekarang. Aku telah banyak meminta, tapi lupa memberi pada alam.
“Nak, yang ada akan tetap ada, yang tidak ada akan selamanya tidak ada. Hidupmu masih panjang. Gunakan waktumu jangan sia-siakan hanya memikirkan satu masalah.”
“Sudahlah Bu. Aku mau mandi dulu.”
“Ckckckckck! Kau tetap tak menerima nasihat dari ibumu. Ibu ini yang memberimu ar susu dulu, Nak. Hidupmu mulai dari puting ini.”
Aku menghela napas. Aku merasa bersalah. Mulut ini kurang terkontrol. Aku peluk tubuh ibuku yang semakin ringkih. Ia tersenyum. “Gimana dengan pohon tua di Pura kita?”
Aku terkaget. Ibuku tahu segalanya yang kulakukan. “Pohon itu sudah waktunya mengakhiri pengabdiannya pada semesta. Ia sudah terlalu tua. Begitu juga dengan kami, sudah terlalu tua. Kaulah yang menggantikan kami.”
“Tidak boleh, Bu. Ibu tetap bersamaku. Pohon itu sudah kuganti dengan rantingnya, Bu.”
“Terus apa bedanya dengan kami?”
Aku tak bisa menjawab. Hanya satu permintaanku pada-Nya. Tolong jangan ambil orang tuaku, Tuhan. Berikan kami merawatnya di sisa usianya. Ibu memelukku erat sekali. Ia merasakan kegundahanku. Aku seperti dalam balutan ibu bumi.[T]
[][][]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...