Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Senja itu terlihat begitu pekat dan gelap. Sepi. Pohon tua di Pura desa kami seperti bertapa di punjak keheningan. Guruh, petir, kilat menggodanya. Pertahanannya mulai goyah. Angin guruh, petir, kilat bersepakat menerjang keheningan pohon tertua di desa kami.
“Braaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Duaaaaaaaaaaaaaar!”
Lambung pohon tua diserangnya. Ia menahan perih. Jantung kehidupannya satu demi satu digerogoti. Tetes-tetes getahnya yang kulihat bagai darah itu tak mau terhenti. Aku merasakan betapa perihnya saat seperti itu.
Pohon tua yang tumbuh di Pura kami tak bisa menghindarkan dirinya dari gempuran petir. Daun-daunnya mulai layu dan segera akan luruh. Pohon itu seusia dengan perjalanan desa kami. Ia ditanam tetua kami sebagai pengingat awal membuka tempat suci. Sedari kecil sudah diupacarai semakin lama semakin indah kelihatannya.
Kami bersepakat untuk memberi saput poleng, kain putih hitam sebagai pertanda bahwa pohon itu patut dijaga. Menjaga pohon sama dengan menjaga kehidupan di desa kami. Satupun warga di desa kami tak berani mengusiknya. Kami percaya bahwa pohon yang sudah diberi selendang putih hitam ada yang penjaganya.
Sebelum kejadian, beberapa tetua memimpikan ada api besar yang menyala-nyala di pohon itu. Katanya itu banaspatiraja sebagai penunggu pohon tua itu. Aku sendiri bertanya-tanya apa hubungannya antara mimpi dengan kejadian itu. Apa itu hanya kebetulan saja? Ah, itu tak perlu bagiku. Yang kuhadapi sekarang adalah pohon tua di Pura kami mulai meranggas daunnya.
Sangkepan segera digelar. Kami bersepakat untuk melakukan upacara pembersihan. Pohon itu akan segera diganti. Penggantinya ini yang susah diperoleh. Pohon sejenis itu sudah tak ada lagi. Beragam tafsir bermunculan. Ada yang mengatakan karena desa kami ada masalah dengan keuangan yang pelaporannya tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh yang dipercayai sudah menyimpang kesuciannya. Namanya tafsir boleh-boleh saja. Tapi, aku hanya yakin, pohon itu mati disambar petir.
Kusampaikan kepada teman-teman bahwa pohon tertua di desa kami tersambar petir dan perlu pohon yang sejenis. Satupun tak ada yang tahu nama pohonnya. Aku share di FB maupun instagram agar dapat informasi mengenai pohon itu.
Hasilnya nihil. Aku tak mau menyerah. Bukan sifatku menyerah sebelum berusaha. Usaha niskala kulakukan. Kucoba mencari paranormal. Ceritanya semakin tak jelas. Ia katakan bahwa ada leteh di Pura hingga terjadi kejadian pohon tua berumur ratusan tahun tersambar petir. Ah, aku tak percaya dengan alur bicaranya. Bukannya jalan keluar kudapatkan justru masalah baru yang bisa memperkeruh keadaan.
Malam itu, aku sendirian ke Pura. aku membawa canang sekar. Semua pelinggih kusembahkan canang sekar. Bau dupa menyengat di hidungku. Aku khusuk memuja kebesaran-Nya. Tak ada tempat yang lebih mulia sebagai tempat bertanya selain kepada-Nya. Puja-puja dalam hatiku mengiringi persembahanku yang sederhana ini. Alam kulihat semakin terang. Secercah kebeningan menghampiri rasa hatiku. Ia sepertinya mengatakan sesuatu.
“Pohon itu sudah waktunya meninggalkan semesta ini. Ia telah ratusan tahun menghidupi desa ini. Berikan ia menyatu bersama semesta. Tak ada yang abadi di bumi ini. Kau juga tak akan hidup selamanya. Ada waktu untuk kembali pada-Nya. Belajarlah dari pohon itu. Ia pergi setelah memberikan energi kehidupan. Hidupnya tak sia-sia.”
Aku bertanya-tanya dalam hati. Ini artinya. Aku selama ini telah menyia-nyiakan hidup. Ini artinya yang selama ini kulakukan belum seirama dengan alam. Ah, ternyata pohon itu masih mengajari kami tentang kemanfaatan hidup. Aku menjadi malu pada pohon.
“Tak perlu risau dengan kematiannya. Di sisa kematiannya akan ada kehidupan baru. Ambillah rantingnya yang berada di timur laut itu. Tanam kembali dan rawatlah ia dengan cinta. Semesta pasti mendengar harapan-harapan pemujanya. Ada menyatu bersama semesta ada juga yang kembali lagi pada kehidupan.”
Mataku tersentak saat kilat berkelebat di sampingku. Mataku tertuju pada arah yang kurasakan tadi. Kulihat ranting pohon itu masih menyisakan kehidupannya, ia belum layu. Aku cepat-cepat memotongnya. Aku tanam kembali di samping pohon tua itu. “Tuhan berikan kami kesempatan menjaga pohon ini,” doaku saat menancapkannya.
Aku pulang. Orang tuaku tak banyak bertanya. Ia sudah tahu kebiasaanku yang terkadang sampai beberapa hari tak pulang. Hanya ibu yang sedikit khawatir. “Kau ke mana saja selama ini. Sepertinya kau gelisah setelah pohon tua di Pura tersambar petir?”
Aku tak segera menjawabnya. Aku ambil sisa buah yang dipersembahkan waktu odalan. Buah mangga kesukaanku kukupas. Satu demi satu kulitnya kubuang. Pohon memberikan buah. Bunga memberikan sari wangi, sedangkan aku memberikan apa pada semesta? Duh, kenapa pikiranku aneh-aneh begini sekarang. Aku telah banyak meminta, tapi lupa memberi pada alam.
“Nak, yang ada akan tetap ada, yang tidak ada akan selamanya tidak ada. Hidupmu masih panjang. Gunakan waktumu jangan sia-siakan hanya memikirkan satu masalah.”
“Sudahlah Bu. Aku mau mandi dulu.”
“Ckckckckck! Kau tetap tak menerima nasihat dari ibumu. Ibu ini yang memberimu ar susu dulu, Nak. Hidupmu mulai dari puting ini.”
Aku menghela napas. Aku merasa bersalah. Mulut ini kurang terkontrol. Aku peluk tubuh ibuku yang semakin ringkih. Ia tersenyum. “Gimana dengan pohon tua di Pura kita?”
Aku terkaget. Ibuku tahu segalanya yang kulakukan. “Pohon itu sudah waktunya mengakhiri pengabdiannya pada semesta. Ia sudah terlalu tua. Begitu juga dengan kami, sudah terlalu tua. Kaulah yang menggantikan kami.”
“Tidak boleh, Bu. Ibu tetap bersamaku. Pohon itu sudah kuganti dengan rantingnya, Bu.”
“Terus apa bedanya dengan kami?”
Aku tak bisa menjawab. Hanya satu permintaanku pada-Nya. Tolong jangan ambil orang tuaku, Tuhan. Berikan kami merawatnya di sisa usianya. Ibu memelukku erat sekali. Ia merasakan kegundahanku. Aku seperti dalam balutan ibu bumi.[T]
[][][]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...