Nobel sastra tahun ini dimenangkan oleh Annie Ernaux, penulis perempuan asal Prancis. Annie lahir pada tahun 1940 di Normandy, di sebuah kota kecil Yvetot dengan latar belakang keluarga yang menjalankan toko sayur dan kafe.
Ia berjuang dari keluarga proletarian menjadi kalangan menengah dan memiliki trauma atas kelas sosial. Ia menempuh pendidikan di Rouen University dan memulai karir sebagai guru SMA. Dari tahun 1977 hingga 2000 dia adalah professor di The Centre National d’Enseignement par Correspondance.
Buku-bukunya, terutama A Man’s Place dan A Woman’s Story, menjadi sastra klasik kontemporer di Pranics. Dia memenangkan penghargaan bergengsi Prix Renaudot untuk karyanya A Man's Place ketika pertama kali terbit dalam bahasa Prancis pada tahun 1984.
Sementara edisi Bahasa Inggrisnya meraih New York Times Notable Book dan finalis untuk Los Angeles Times Book Prize. Sementara A Woman’s Story juga mendapat New York Times Notable Book.
Karya-karya Annie mengangkat cerita-cerita personal yang traumatis. Ia menelisik pengalaman dirinya sebagai inspirasi karya. Ia lebih suka disebut sebagai ethnologist bagi dirinya sendiri, alih-alih sebagai seorang sastrawan.
Sepanjang hidupnya ia telah menulis lebih dari 30 karya sastra. Karyanya L’Occupation membahas soal mitos sosial dan stereotip yang dia bongkar dari perspektif personal.
Baginya sastra adalah jalan untuk menyuarakan kebenaran dengan pisau bedah bahasa, kata-kata. Dengan kata-kata ia menelanjangi kisah-kisahnya sendiri, sebuah pendekatan personal yang mewakili dunia. Sebuah kisah yang hanya dia yang tahu untuk kemudian menjadi dunia yang diketahui bersama.
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...