Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, I Wayan Naka lahir dari pasangan Almarhum I Tanja dengan almarhumah Ni Monolan pada tanggal 31 Desember 1958 di Br. Pekandelan, Desa Batuan, Gianyar. Lahir di lingkungan desa seni secara tidak langsung mempengaruhi kehidupannya untuk berkecimpung di dunia olah seni.
I Wayan Naka semasih kecil, selain berkesenian dalam kesehariannya, beliau sudah terbiasa mengikuti orang tuanya untuk menggarap sawah dekat rumahnya. Menginjak remaja beliau lebih intens mengasah dirinya untuk belajar dan menggeluti beberapa kesenian yang berkembang di desanya secara berkelanjutan.
Kematangan dan memegang predikat guru, tidaklah mudah karena beliau melewati proses penempaan yang cukup panjang. Kecakapannya hasil dari berguru kepada sesepuh-sesepuh seni desa Batuan, diantaranya kepada Alm. Dewa Kompyang Pasek dan Alm. I Made Budi belajar tentang gamelan Gambuh, belajar melukis kepada Alm. I Made Budi dan Alm. I Made Bukel. Berkat didikkan guru-gurunya sehingga beliau dapat menguasai seni karawitan, seni lukis, yang ditekunninya sampai sekarang.
Menapaki proses 'ma-sisya' tentu hambatan, rintangan pernah dialaminya, namun tidak menyurutkan niatnya untuk belajar di dalam wadah Sekaa Gambuh Mayasari Banjar Pekandelan Batuan, maupun dengan cara mendatangi rumah gurunya. Berkat ketekunannya sehingga mampu menguasai keseluruhan gending-gending Gambuh gaya Batuan. Selain itu, bidang seni karawitan Genggong, gong kebyar, seni sastra, seni lukis, menjadi bagian nafas kesenimannya.
Kini para generasi muda khususnya yang berkecimpung dalam pagambuhan gaya Batuan, selalu diberikan motivasi, tuntunan olehnya dalam hal teknik permainan gamelan Gambuh. Bagi beliau, regenerasi sangatlah penting untuk menjaga kelestarian kesenian Gambuh khususnya, sembari mengingatkan bahwa Dramatari Gambuh telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh badan dunia Unesco beserta beberapa kesenian lainnya di Bali (Indonesia), seperti tari Rejang, tari Baris Gede,Wayang Wong, Topeng, Joged Pingitan, dan lainnya.
I Wayan Naka menjaga pakem-pakem lagu-lagu, “gegedig” Gambuh Batuan sebagai identitas yang membedakan dengan kesenian Gambuh lainnya di Bali. Jika tidak ada kegiatan pementasan Gambuh, kegiatannya sehari-hari diisi dengan melukis.
Perjalanannya sebagai seniman telah diakui baik dari tingkat daerah, Nasional, maupun internasional. Belahan negara Asia, Eropa, Amerika, Amerika Latin telah dikunjunginya dalam misi kesenian Bali, mengharumkan nama bangsa dan negara. Beliau memiliki banyak murid, serta beberapa kali telah mengikuti pameran lukisan bersama seniman lukis Batuan lainnya. Beberapa kali terlibat sebagai penabuh Sekaa Gong Kebyar Dewasa (GKD) Duta. Kab. Gianyar, diawali dari Duta GKD Gianyar oleh Desa Adat Batuan tahun 1990 silam (Fragmentari Guling).
Kini, dedikasi I Wayan Naka sebagai pembina bidang dramatari Gambuh (gamelan) Desa Batuan Gianyar bersama para sesepuh lainnya. Sekaa-sekaa sebagai tempat beliau mendedikasikan ilmunya diantaranya Sekaa Gambuh Mayasari, Sekaa Gambuh Satriya Lelana, Sekaa Gambuh Sunari Wakya. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...