Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua atau orang terdekat untuk mengetahui keadaan orang. Saking sederhananya pertanyaan itu, saya sering menjawabnya dengan sekenanya saja. Kadang malah bukan dengan kata, melainkan hanya dengan vokal tanpa konsonan. Dalam pergaulan, pertanyaan “sudah makan?” juga berarti ada orang yang ingin mengintip orang lain yang diajak bicara itu masih waras atau tidak.
Kadang bila ada orang yang belum makan, maka aksi/reaksi yang muncul adalah sering kelupaan, mendadak marah-marah, kesulitan menjaga tempramennya. Orang – Bali khususnya – suka menggunakan pertanyaan itu sebagai lelucon. Normalnya, orang akan lebih tenang dan rileks sehabis makan. Maksud dari pertanyaan itu adalah agar meminta lawan bicaranya untuk stay calm.
Tentu saja, saya tidak menampikkan arti dan makna harfiah pertanyaan itu. Dan ketika saya ditanya dengan pertanyaan itu – apalagi lewat telepon – saya sering berbohong. Bagi orang tercinta, jawaban dari kita atas pertanyaan itu akan berdampak kepada mereka. Kadang dampaknya melebihi ekspektasi kita.
Rasa cemas, khawatir, juga perasaan was-was muncul dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jangankan bilang “belum makan” atau “nanti saja setelah menelpon”, mengatakan bahwa “saya makan dengan nasi jingo 5000-an” seolah menandakan bahwa saya akan masuk dalam ruang kemelaratan. Apalagi mengatakan “makan nasi putih dengan garam saja”? Lebih parah lagi!
Tapi bukan berarti hidup hanya untuk makan “saja”. Tidak. Saya percaya bahwa pengalaman hidup yang lainnya penting untuk diperjuangkan. Tapi perlu disadari bahwa pada dasarnya kita tidak abadi. Makan adalah cara – saya – untuk sadar bahwa tidak ada yang kekal. Saya tidak lebih tinggi dari hewan/tanaman yang juga sama-sama membutuhkan makanan. Kita semua sama-sama berjuang, juga kadang sama-sama mempunyai kesempatan kalah yang sama.
Mengapa topik makan ini penting untuk saya sampaikan? Bagi saya, makanan – juga tata cara dan tempatnya – adalah budaya: ritual. Persepsi saya terhadap makanan sejak lama ternyata bermasalah pada satu sisi. Dari dulu saya heran mengapa orang-orang mau memakan salah satu jenis hidangan. Misalnya, saya beranggapan bahwa nasi dengan ayam goreng – dan saus yang seuprit – bukanlah suatu makanan yang ideal (maafkan saya atas pernyataan itu, tapi itulah yang sebenarnya terjadi dulu).
Dengan lidah desa yang masih memerlukan sayur sebagai penunjang rasa, saya agak kurang menerima kenyataan yang terjadi. Selain itu, juga ada masalah harga. Saya masih memiliki perasaan bahwa nasi campur seharga 10.000 adalah nasi yang mahal. Meski kadang sudah dapat saya kompromikan, hal itu masih melekat sampai detik ini.
Tentang orang yang menyisakan makanan misalnya, saya kadang masih belum bisa lepas. Sebagai bayangan untuk pembaca, saya berusaha pantang untuk menyisakan makanan. Latar belakang sebagai anak pedagang bubur membuat saya – sedikit – kesal dengan orang-orang yang dengan maksud yang tidak jelas masih menyisakan makanan yang dipesannya. Apalagi bubur buatan ibu saya.
Dengan cara pandang bahwa makanan harus habis itu akhirnya membentuk saya untuk selalu mau mengambil potongan makanan terakhir tanpa malu.
Dalam konteks makan, tinggal satu tahun lebih di Denpasar menjadi alasan penting bagi saya untuk melihat ulang bagaimana “saya memberi nilai suatu makanan/benda”. Saya sadar persepsi kita terhadap sesuatu didasarkan atas pengalaman hidup. Menu makanan, tempat makan, seberapa lama makan, juga kadang banyaknya porsi makan. Semua akhirnya berdampak pada cara berteman, praktik hidup – percintaan –, dan menggali pengetahuan.
Maka akhirnya, saya mulai terbiasa untuk akrab dengan “sesuatu dan hal” yang saya ingin coba memberi jarak sebelumnya. Penting untuk mendekati hal-hal yang sebelumnya asing dan “terlupakan” untuk dijelajahi. Kadang, hal itu akhirnya memberikan pengalaman antara gelisah senang dan gusar pada saat bersamaan, misalnya antara rasa yang nikmat dan harga yang mahal. Terima kasih karena pembaca sudah meluangkan diri untuk membaca tulisan ini. Sudah makan? [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...