Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Ada berbagai macam jenis durian di Indonesia. Begitu juga di sebuah desa yang berada di Kabupaten Buleleng, yakni di Desa Tajun di Kecamatan Kubutambahan.
Di desa itu ada sebuah perkebunan yang di dalamnya berisi pohon durian emas. Yaitu, inti buah durian itu berwarna emas atau orange. Tumben dengar kan? Atau sudah ada yang tahu?
Perkebunan ini dikelola Komang Buda. Ia memang petani tekun dari Desa Tajun. Di kebunnya ini terdapat tiga pohon durian emas yang menjulang tinggi.

Komang Buda bercerita, saat itu belum banyak yang mengetahui durian emas. Mungkin karena jarangnya buah durian emas ini ada di Desa Tajun, dan mungkin juga di desa-desa lain di Buleleng atau Bali. Orang-orang juga jarang menemui durian emas di tempat-tempat penjual durian di pinggir jalan.
Di daerah lain mungkin saja durian ini sudah lumrah. Tapi di Bali, durian ini bisa dicoba rasanya, karena belum banyak yang mengembangkannya.
Nah, durian emas ini memiliki rasa yang unik, atau mungkin juga aneh di lidah orang-orang yang belum terbiasa makan durian emas, Biasanya durian ini dibilang seperti jajanan yang kenyal dan memiliki aroma unik yang lain dari durian pada umumnya.
Aromanya menyengat dan rasanya manis. Selain itu durian emas ini sangat mudah kita bedakan dengan durian dengan warna buah yang lain. Bentuk buah durian emas ini lonjong dengan duri yang berukuran sedang dan berwarna kuning.
Tetapi soal penampilan siapa yang peduli. Yang penting uniknya durian emas ini menjadi daya tarik untuk dinikmati. Jadi datanglah sesekali ke Desa Tajun, ke perkebunan milik Komang Buda.
***
Komang Buda berusuia sekitar 45 tahun. Ia memang petani yang teguh. Dari hasil perkebunan ia bisa menghidupi keluarga, termasuk tiga anaknya. Ia punya sejumlah kebun, yang selain berisi durian emas, juga berisi jenis tanaman durian yang lain. Ada sekitar 30 lebih pohon durian di kebunnya yang dirawat sejak bertahun-tahun lalu.
Pada hari-hari yang sibuk, ketika musim durian telah tiba, seperti biasa Komang Buda selalu bergegas pagi-pagi ke kebunnya untuk memantau perkembangan durian miliknya.
Untuk mencapai titik lokasi ke perkebunan ia harus melewati beberapa langkah jalan yang licin. Jika musim hujan telah tiba, Komang Buda tetap akan ke kebun. Hujan bukanlah halangan bagi dia.

Tentu saja, di musim panen, ia harus ke kebun setiap pagi karena setiap pagi ada saja durian matang yang jatuh dari pohon. Apalagi, selain durian, di kebunnya juga terdapat tanaman lain yang juga perlu diurus, seperti pepaya da manggis.
“Sesekali ada juga durian yang sudah matang dimakan hama tupai,” kata Komang Buda.
Menurut Komang Buda, setiap hari itu ada sekitar 2 atau 3 buah durian dimakan hama tupai di pohon. Ruginya tidak seberapa, tetapi hama tupai ini akan membuat resah petani durian jika setiap hari sebanyak 2 atau 3 buah durian tidak layak dijual akibat sudah “dirusak” tupai.
Untuk itu, Komang Buda mempersiapakn sejumlah peralatan dan punya strategi khusus ketika musim panen telah tiba. Ia akan mengambil durian yang sudah dirasa sudah bisa diambil sebelum dimakan hama tupai.
Ia memilah buah yang lebih besar untuk diambil terlebih dahulu sebelum tupai menggerogotinya. Ia memetik buah durian dengan menggunakan bambu yang berisi pisau kecil, yang disertai dengan sebuah tali untuk menjerat buah durian itu.
Bersamaan dengan itu, ia menjulurkan sebuah keranjang untuk menampung buah yang sudah lepas dari tangkainya. Keranjang yang sudah berisi buah itu kemudian diulur ke bawah dengan menggunakan tali.
Untuk pengambilan buah ini dibutuhkan kurang lebih 2-3 orang yang setia membantu Komang Buda, terutama ketika musim panen telah tiba.

Komang Buda menceritakan, khusus untuk pohon durian emas, rata-rata setiap pohon durian emas di kebunnya itu berisi 20-30 butir buah. Jika dihitung-hitung dengan tiga pohon durian emas yang rata-rata berisi 20-30 butir, maka Komang Buda akan mendapatkan 90 butir buah durian di setiap musim panen.
Harga rata-rata durian ini sekitaran Rp 20.000 sampai dengan Rp.30.000. Buah durian yang bagus atau besar-besar akan dibeli oleh pemasok seharga Rp 30.000 per-butir. Buah durian ukuran kecil atau sedang dihargai Rp 20.000 per-butir.
Jadi, menanam durian emas, mungkin bisa disamakan dengan menyimpan emas. Nilai dan harganya bisa membuat pemiliknya senang dan sejahtera. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...