Ada berbagai macam jenis durian di Indonesia. Begitu juga di sebuah desa yang berada di Kabupaten Buleleng, yakni di Desa Tajun di Kecamatan Kubutambahan.
Di desa itu ada sebuah perkebunan yang di dalamnya berisi pohon durian emas. Yaitu, inti buah durian itu berwarna emas atau orange. Tumben dengar kan? Atau sudah ada yang tahu?
Perkebunan ini dikelola Komang Buda. Ia memang petani tekun dari Desa Tajun. Di kebunnya ini terdapat tiga pohon durian emas yang menjulang tinggi.
Pohon durian emas di kebun Komang buda di Desa Tajun
Komang Buda bercerita, saat itu belum banyak yang mengetahui durian emas. Mungkin karena jarangnya buah durian emas ini ada di Desa Tajun, dan mungkin juga di desa-desa lain di Buleleng atau Bali. Orang-orang juga jarang menemui durian emas di tempat-tempat penjual durian di pinggir jalan.
Di daerah lain mungkin saja durian ini sudah lumrah. Tapi di Bali, durian ini bisa dicoba rasanya, karena belum banyak yang mengembangkannya.
Nah, durian emas ini memiliki rasa yang unik, atau mungkin juga aneh di lidah orang-orang yang belum terbiasa makan durian emas, Biasanya durian ini dibilang seperti jajanan yang kenyal dan memiliki aroma unik yang lain dari durian pada umumnya.
Aromanya menyengat dan rasanya manis. Selain itu durian emas ini sangat mudah kita bedakan dengan durian dengan warna buah yang lain. Bentuk buah durian emas ini lonjong dengan duri yang berukuran sedang dan berwarna kuning.
Tetapi soal penampilan siapa yang peduli. Yang penting uniknya durian emas ini menjadi daya tarik untuk dinikmati. Jadi datanglah sesekali ke Desa Tajun, ke perkebunan milik Komang Buda.
***
Komang Buda berusuia sekitar 45 tahun. Ia memang petani yang teguh. Dari hasil perkebunan ia bisa menghidupi keluarga, termasuk tiga anaknya. Ia punya sejumlah kebun, yang selain berisi durian emas, juga berisi jenis tanaman durian yang lain. Ada sekitar 30 lebih pohon durian di kebunnya yang dirawat sejak bertahun-tahun lalu.
Pada hari-hari yang sibuk, ketika musim durian telah tiba, seperti biasa Komang Buda selalu bergegas pagi-pagi ke kebunnya untuk memantau perkembangan durian miliknya.
Untuk mencapai titik lokasi ke perkebunan ia harus melewati beberapa langkah jalan yang licin. Jika musim hujan telah tiba, Komang Buda tetap akan ke kebun. Hujan bukanlah halangan bagi dia.
Komang Buda
Tentu saja, di musim panen, ia harus ke kebun setiap pagi karena setiap pagi ada saja durian matang yang jatuh dari pohon. Apalagi, selain durian, di kebunnya juga terdapat tanaman lain yang juga perlu diurus, seperti pepaya da manggis.
“Sesekali ada juga durian yang sudah matang dimakan hama tupai,” kata Komang Buda.
Menurut Komang Buda, setiap hari itu ada sekitar 2 atau 3 buah durian dimakan hama tupai di pohon. Ruginya tidak seberapa, tetapi hama tupai ini akan membuat resah petani durian jika setiap hari sebanyak 2 atau 3 buah durian tidak layak dijual akibat sudah “dirusak” tupai.
Untuk itu, Komang Buda mempersiapakn sejumlah peralatan dan punya strategi khusus ketika musim panen telah tiba. Ia akan mengambil durian yang sudah dirasa sudah bisa diambil sebelum dimakan hama tupai.
Ia memilah buah yang lebih besar untuk diambil terlebih dahulu sebelum tupai menggerogotinya. Ia memetik buah durian dengan menggunakan bambu yang berisi pisau kecil, yang disertai dengan sebuah tali untuk menjerat buah durian itu.
Bersamaan dengan itu, ia menjulurkan sebuah keranjang untuk menampung buah yang sudah lepas dari tangkainya. Keranjang yang sudah berisi buah itu kemudian diulur ke bawah dengan menggunakan tali.
Untuk pengambilan buah ini dibutuhkan kurang lebih 2-3 orang yang setia membantu Komang Buda, terutama ketika musim panen telah tiba.
Buah durian emas di kebun Komang Buda
Komang Buda menceritakan, khusus untuk pohon durian emas, rata-rata setiap pohon durian emas di kebunnya itu berisi 20-30 butir buah. Jika dihitung-hitung dengan tiga pohon durian emas yang rata-rata berisi 20-30 butir, maka Komang Buda akan mendapatkan 90 butir buah durian di setiap musim panen.
Harga rata-rata durian ini sekitaran Rp 20.000 sampai dengan Rp.30.000. Buah durian yang bagus atau besar-besar akan dibeli oleh pemasok seharga Rp 30.000 per-butir. Buah durian ukuran kecil atau sedang dihargai Rp 20.000 per-butir.
Jadi, menanam durian emas, mungkin bisa disamakan dengan menyimpan emas. Nilai dan harganya bisa membuat pemiliknya senang dan sejahtera. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...