Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Hanya karena profesi dan tata cara berpakaian yang terbuka membuat Salma (23 tahun) kerap dipandang sama seperti wanita tuna susila. Ia biasa mendapat perlakuan tak layak, seperti “ditawar” di pinggir jalan. Salma kemudian berjuang untuk menegakkan keadilan untuk perempaun, terutama untuk dirinya sendiri.
Kisah Salma itu tertuang dalam film “Bukan Kupu-Kupu Malam”. Film berdurasi 22 menit memang lahir dari sebuah ide, yakni pemartabatan perempuan. Film ini adalah karya mahasiswa Program Studi (Prodi) Produksi Film dan Televisi (FTV) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Film itu dibuat untuk tugas akhir (TA) sebagai salah satu syarat setelah menempuh berbagai kuliah. Meski berstatus TA, film ini tampaknya tak dibuat untuk sekadar lulus. Tampak film ini begitu serius dibuat agar layak ditonton untuk khlayak umum, dan tidak kalah dengan film-film lain yang dibuat para sineas professional.
Film ini melibatkan tim produksi Madde Studio), I Kadek Agus Ari Wirawan (Sutradara), I Wayan Febi Putra Pradnyan (Penata Suara), Putu Theja Budiana (Penata Kamera), Putu Sathyana Rayana (Penulis Naskah), Rizky Achmad Fadil (Penyunting Gambar), serta tim produksi dilakukan oleh Dreamhouse Production.
Film “Bukan Kupu-Kupu Malam” telah diputar di Bioskop Cinepolis Plaza Renon sejak beberapa waktu lalu. Selain “Bukan Kupu-Kupu Malam”, film lain yang diputar adalah “Kambing Hitam”

“Bukan Kupu-Kupu Malam” dan “Kambing Hitam”, keduanya merupaakan film karya mahasiswa Program Studi (Prodi) Produksi Film dan Televisi (FTV) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk keperluan yang sama.
Film-film itu memang mengambil gagasan yang tak jauh-jauh dari kehidupan sosial di masyarakat, lalu digarap secara serius tanpa meninggalkan pakem yang didapat selama mengikuti pendidikan di kampus seni itu.
Selain sarat pesan, pada mahasiswa FTV ISI Denpasar ini juga cerdas mengangkat potensi Bali yang memang unggul sebagai lokasi syuting. Dengan memadukan ilmu-ilmu film yang diasah di kampus seni milik masyarakat Bali itu, kedua karya film ini menawarkan sesuatu yang baru sebagai bukti mahasiswa ISI Denpasar mampu memproduksi dan menyajikan film secara detil dan menarik.
Film “Kambing Hitam” karya tugas akhir dengan durasi waktu 20 menit. Idenya terkait dengan kehidupan di masyarakat sehari-hari, yaitu fitnah dan balas dendam. Film ini menceritakan tentang balas dendam seorang pemuda yang hidupnya dihancurkan oleh keluarga kekasihnya. Film ini disutradarai Ahmad Ramdan yang juga bertindak sebagai Penyunting Gambar, dan Kadek Sruja Pegiyanti selaku produser.
Dua film tersebut disajikan dalam Mahatma Week 2022, sebuah ajang diseminasi karya mahasiswa FTV ISI Denpasar yang pada tahun ini melaksanakan Tugas Akhir (TA), dan merupakan karya dari mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah tugas akhir dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Koordinator Prodi Produksi Film dan Televisi FTV I Kadek Puriartha, S.Sn., M.Sn mengatakan, Mahatma Week pada tahun ini melaksanakan tugas akhir, baik itu reguler maupun program MBKM. Bersama dengan Mahatma Pictures, rumah produksi yang merupakan mitra MBKM, mahasiswa Prodi Produksi Film dan Televisi ISI Denpasar menyajikan dua buah film, yaitu "Kambing Hitam" dan "Bukan Kupu-kupu Malam".
“Kedua film ini memiliki genre yang berbeda, tetapi sama-sama terinspirasi dari fenomena sosial yang ada di masyarakat,” katanya.
Film "Kambing Hitam" bercerita tentang kesenjangan sosial yang berujung pada pembunuhan tragis berlandaskan dendam dan ilmu hitam. Sementara "Bukan Kupu-Kupu Malam" mengangkat fenomena pelecehan seksual dan pemerkosaan, dimana korban sulit untuk mendapatkan keadilan.
Pada saat Gala Premierre Mahatma Week yang diadakan pada tanggal 10 Februari 2022 dihadiri oleh tamu undangan terdiri dari mitra MBKM, sponsor, kru, pemain, dan pendukung. “Untuk masyarakat umum, kedua film ini bisa disaksikan pada tanggal 14-17 februari di bioskop Cinepolis Plaza Renon,” ucapnya.
Pria berdarah seni asal Gianyar ini menegaskan, tujuan dari kegiatan ini untuk mengenalkan film karya-karya mahasiswa Prodi Produksi Film dan Televisi ISI Denpasar kepada masyarakat luas. Dengan melaksanakan diseminasi karya ini, maka diharapkan para mahasiswa bisa mendapatkan apresiasi terhadap filmnya, sehingga bisa mendorong penciptaan-penciptaan karya selanjutnya.
Selama kegiatan berlangsung, panitia melakukan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara jetat, karena berlangsung dalam masa pandemi dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3. [T][Ole/*]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...