Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Generasi pembaca lontar di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja, Denpasar, masih berjalan baik. Meski baru pada tahap membaca saja, namun tahapan itu adalah awal dari upaya pelestarian sekaligus membuat lontar tetap terawatt baik.
“Untuk anak-anak penerus di geria ini, tetap melestarikan dan baru tahap membaca saja, regenerasi berjalan baik,“ kata Ida Bagus Putu Dirga, salah satu pemilik lontar yang juga penglingsir di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja.
Serangkaian Bulan Bahasa Bali IV, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melibatkan Tim Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar, pada Minggu (6/2/2022) memang menggelar festival konservasi lontar milik warga di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja.
Di sela-sela konservasi itu, Ida Bagus Putu Dirga menuturkan perawatan lontar memang sangat penting. Terlebih, sekarang ini banyak lontar-lontar yang dibaca saja jarang, apalagi dirawat. “ Lontar -lontar ini harus dirawat, karena sangat penting bagi ilmu pengatahuan, bagu generasi penerus,” ucap IB Dirga.
Dijelaskan, koleksi naskah lontar di gerianya cukup banyak, warisan naskah ini dari kakek buyutnya tersimpan rapi hingga sekarang “ Ada beberapa lontar yang hilang, karena dipinjam, namun tak kembali lagi, yang parah saya mendengar ada beberapa lontar diperjual belikan, ini patut menjadi perhatian semua pihak, “ tuturnya.
Di Geria Dauh buruan terdapat sebanyak 70 cakepan lontar milik geria yang dirawat diantaranya terdapat lontar kekawin, usadha, arjuna wiwaha, dan beberapa lontar usadha yang dibersihkan dengan menggunakan obat khusus seperti alkohol, minyak sereh dan buah kemiri.
Kondisi lontar cukup terawat di geria tersebut. Terutama lontar-lontar kekawin, karena tak lepas dari lingkup geria sering dibaca mengiringi pelaksanaan upacara yadnya dan sebagainya.
“ Lontar milik Geria Dauh Buruan ini yang dirawat sebagian besar berupa naskah lontar kekawin, usadha, jumlahnya sekitar 70 cakepan,” kata Wayan Yogik Aditya Urdhahana Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar.

Tim penyuluh terdiri dari 15 bertugas membersihkan debu, kemudian diolesi minyak sereh yang dicampur dengan alkohol, apabila huruf atau aksara kurang jelas, maka diolesi cairan kemiri agar lebih hitam.
Secara keseluruhan di Denpasar, kata Yogi, selama konservasi lontar tim berhasil mendata sebanyak 791 cakepan naskah lontar yang tersebar di berbagai lokasi di Kota Denpasar. Keberadaan lontar sebagian besar di wilayah Sanur, Denpasar selatan dan Denpasar Timur dan Utara.
“Terbanyak koleksi lontar berada di wilayah Sanur, berbagai lontar milik warga atau kelompok, seperti dadya, geria, balian sejatinya banyak yang mengantre untuk dilakukan perawatan, hanya saja kendala yang kita hadapi adalah ketersediaan bahan obat yang diguanakan, karena cukup mahal harganya, terkadang bagi masyarakat kebanyakan belum siap,” ucap pria asal Sidakarya itu.
Ratusan cakep naskah lontar di Kota Denpasar berhasil diselamatkan melalui perawatan atau konservasi yang dilaksanakan Tim Penyuluh Bahasa Bali. Berdasarkan data Tim Penyuluh Bahasa Bali sejak 2016 hingga 2022, sebanyak 791 cakepan naskah lontar dengan berbagai judul milik kelompok warga di Kota Denpasar telah dikonservasi.
Bulan Bahasa Bali IV berlangsung selama satu bulan (1-28) Februari 2022. Bulan Bahasa Bali Tahun 2022 mengusung tema “Danu Kerthi: Gitaning Toya Ening”, Air Sumber Pengetahuan, bermakna Bulan Bahasa Bali sebagai representasi pengetahuan yang mengalir tiada henti memancarkan kebajikan, kesejahteraan, dan kemuliaan dunia.
Untuk kegiatan festival konservasi lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali IV, digelar di seluruh kabupaten/kota se-Bali.” Masing-masing kota /kabupaten dihelat perawatan lontar yang digerakan oleh para penyuluh bahasa Bali, kegiatan ini bertujuan untuk menjaga warisan leluhur, agar naskah-naskah lontar tidak punah,” kata A.A Ngurah Bagawinata, Kabid Sejarah dan Dokumentasi Disbud Bali. [T][Ado/*]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...