Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Upaya penyelamatan literasi warisan leluhur berupa lontar kembali digemakan dalam ajang Bulan Bahasa Bali IV . Kali ini, ratusan cakepan lontar di bumi makepung, Jembrana berhasil dirawat atau dikonservasi melibatkan penyuluh bahasa Bali dan warga pemilik lontar.
Bertempat di Merajan Dadia Kayu Selem Desa Budeng Kecamatan Jembrana Jumat (4/2/2022), puluhan cakep lontar dibersihkan dan dirawat dengan menggunakan minyak sereh dan bubuk kemiri.
Terdapat sejumlah cakep lontar yang dijumpai di Dadia Pasek Kayu Selem ini, sebagian kondisinya rusak, termasuk cakepan lembaran lontar yang tak beraturan.
Lontar warisan tetua keluarga Pasek Kayu Selem, yang dikonservasi berupa lontar kewisesan, usada termasuk pipil serta pengayam-ayaman.
Diawali prosesi matur piuning dan nedunan lontar dari gedong penyimpananya, lontar- lontar tersebut satu per satu dibersihan, tentu dengan kehati-hatian. Pasalnya, bila salah merawat dikhawatirkan lontar akan hancur.
Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Jembrana Wahyu Wirayuda, menjelaskan bahwa di Jembrana sejak pelaksanaan konservasi berjalan hingga saat ini ada 600 cakep lontar yang diselamatkan.” Untuk di Merajan Dadia Kayu Selem ini, selain lontar cakepan kewisesan, usada, juga yang dikonservasi terdapat lontar tentang pipil dan pengayam ayaman,” terangnya.
Ia mengakui, kondisi lontar sebagian dalam keadaan rusak, dan sebagian halaman tak beraturan lepas dari cakepanya.
Wahyu menambahkan, di Jembrana ratusan cakep lontar yang dikonservasi, merupakan kepemilikan desa, pemerajan, kelompok keluarga atau dadya , dan banyak pula perorangan.
“Dominasi lontar yang dikonservasi berupa lontar kawisesan,usada, kekawin, geguritan termasuk pula lontar pengiwa, penghujan dan penerang,” ungkapnya
Diakui Wahyu kendala yang ditemukan terkait perawatan, beberapa lontar, karena jarang dibuka dari tempat penyimpanan, bahkan ada yang sudah menjadi debu termakan usia maka sulit diselamatkan. Beberapa lontar, susunan terpisah-pisah, bahkan hilang. “Kondisi seperti Ini memerlukan waktu untuk rekontruksi pengumpulannya cukup lama,” tandasnya.
Menariknya, lanjut Wahyu, dari sekian banyak lontar usada yang telah dikonservasi, di Jembrana terdapat lontar unik, salah satu lontar ditemukan di Desa Dangin Tukad Aya yang mengupas soal pengobatan rare (bayi) Lontar. Pada umumnya, usada memuat pengobatan usia dewasa, namun untuk usada rare, khusus memuat cara pengobatan sejak dari bayi dalam kandungan hingga tumbuh besar. “Lontar usada rare itu tergolong khusus, dibanding lontar usada pada umumnya,” akunya.
Sementara Koordinator Konservasi dari Dinas Kebudayaan Propinsi Bali I Nyoman Suralaksana menambahkan, konservasi merupakan bagian dari upaya melestarikan keberadaan lontar, sekaligus agar tidak punah. “ Serangkaian Bulan Bahasa Bali ke IV 2022, kegiatan konservasi lontar ini sangat penting, sehingga dengan melakukan pembersihan, perawatan lontar termasuk pendataan, kita harapkan agar warisan ini tidak punah,” katanya. [T][Ado/*]
_____
BACA ARTIKEL BULAN BAHASA BALI YANG LAIN:

Aksara Bali di Ruang Publik | Yang Ditulis Suaranya, Bukan Menyalin Hurufnya

Sandyagita “Ranu Murti”, Kisah Perjalanan Air dalam Nyanyian, Musik dan Tari

Bulan Bahasa Bali: Momen Tingkatkan Sikap Positif Terhadap Bahasa Bali

Gubernur Koster: Dengan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Kita Bisa Paham Inti Kebudayaan Bali
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...