Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Seorang rekan membagi ulasan tentang dashyatnya kekuatan uang mempengaruhi totalitas relung-relung kehidupan manusia. Di tingkat makro disampaikan, ambisi menguasai uang bisa meluluh-lantakkan patriotisme dan nasionalisme seorang warga negara. Nyaris secara total mengubah kerangka pikir, "code of conduct" dari kekuatan kerja “power of money”. Teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi teman, runtuhnya persahabatan dan bahkan sendi-sendi kehidupan keluarga. Ada " dasa muka " dari kekuatan uang, dalam masyarakat dengan ukuran serba benda, yang memerosotkan: etika, moralitas, solidaritas dan bahkan peradaban serta kebudayaan.
Dampaknya komersialisasi kehidupan terjadi di mana-mana, tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu, dan dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah " kenormalan". Termasuk, di ruang-ruang kebijakan publik, yang semestinya tabu untuk dilakukan.
Dalam lanskap politik, kekuatan modal baca uang begitu berkuasa, sehingga kita teringat ucapan pemimpin ternama China Mao Tse Tung: kekuasaan berasal dari ujung laras senapan dan juga kekuatan dari uang, the power of money.
Dalam fenomena kehidupan seperti ini, kita dapat diingatkan oleh pemikiran tercerahkan dari negarawan, bapak pendiri India Mahatma Gandhi, kehidupan yang serba benda adalah kehidupan yang tidak bermoral, karena mengingkari sisi moralitas dan spiritualitas manusia. Akan melahirkan perbudaan (slavery) yang berasal dari keinginan yang tanpa batas, limitless wants. Perbudakan yang distimulasi oleh keinginan kebendaan ini, oleh insan-insan manusia yang pada dasarnya utama, adalah sebuah kehinaan kehidupan. Insan-insan manusia dalam menjalankan kewajibannya semestinya tidak terikat, vairagya, justru mengikatkan dirinya pada keinginan kebendaan yang tanpa batas itu. Kondisi ini dalam pandangan Mahatma Gandhi, melahirkan penderitaan (misery) bagi insan-insan manusia.
Penderitaan yang lahir dari keterikatan kehidupan yang serba benda, uang, kekuasaan dan bentuk "dasa muka" lainnya. Penderitaan yang anehnya "dinikmati", "dirayakan" bahkan dengan simbol dan wacana agama. "Penderitaan" yang dirayakan ini, merujuk pendapat Romo Mangunwijaya, rohaniwan cum sastrawan, insan-insan manusia yang dimaksud adalah pengikut atheis praktis, secara teori percaya pada Tuhan, tetapi dalam prakteknya mengabaikan secara total rujukan agama yang dianutnya. Tantangan kemanusiaan yang tidak ringan, dalam pengembangan karakter bangsa, pembangunan insan-insan manusia berbudi pekerti luhur dan kuat secara spiritual, stitha prajna.
Dalam fenomena di atas, sejarah "mengetuk" pintu kita, apakah kekuatan uang di atas akan memerosotkan peradaban, atau ancang-ancang melakukan perlawanan bersama, menyongsong era baru kebangkitan. [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...