“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Seorang rekan membagi ulasan tentang dashyatnya kekuatan uang mempengaruhi totalitas relung-relung kehidupan manusia. Di tingkat makro disampaikan, ambisi menguasai uang bisa meluluh-lantakkan patriotisme dan nasionalisme seorang warga negara. Nyaris secara total mengubah kerangka pikir, "code of conduct" dari kekuatan kerja “power of money”. Teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi teman, runtuhnya persahabatan dan bahkan sendi-sendi kehidupan keluarga. Ada " dasa muka " dari kekuatan uang, dalam masyarakat dengan ukuran serba benda, yang memerosotkan: etika, moralitas, solidaritas dan bahkan peradaban serta kebudayaan.
Dampaknya komersialisasi kehidupan terjadi di mana-mana, tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu, dan dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah " kenormalan". Termasuk, di ruang-ruang kebijakan publik, yang semestinya tabu untuk dilakukan.
Dalam lanskap politik, kekuatan modal baca uang begitu berkuasa, sehingga kita teringat ucapan pemimpin ternama China Mao Tse Tung: kekuasaan berasal dari ujung laras senapan dan juga kekuatan dari uang, the power of money.
Dalam fenomena kehidupan seperti ini, kita dapat diingatkan oleh pemikiran tercerahkan dari negarawan, bapak pendiri India Mahatma Gandhi, kehidupan yang serba benda adalah kehidupan yang tidak bermoral, karena mengingkari sisi moralitas dan spiritualitas manusia. Akan melahirkan perbudaan (slavery) yang berasal dari keinginan yang tanpa batas, limitless wants. Perbudakan yang distimulasi oleh keinginan kebendaan ini, oleh insan-insan manusia yang pada dasarnya utama, adalah sebuah kehinaan kehidupan. Insan-insan manusia dalam menjalankan kewajibannya semestinya tidak terikat, vairagya, justru mengikatkan dirinya pada keinginan kebendaan yang tanpa batas itu. Kondisi ini dalam pandangan Mahatma Gandhi, melahirkan penderitaan (misery) bagi insan-insan manusia.
Penderitaan yang lahir dari keterikatan kehidupan yang serba benda, uang, kekuasaan dan bentuk "dasa muka" lainnya. Penderitaan yang anehnya "dinikmati", "dirayakan" bahkan dengan simbol dan wacana agama. "Penderitaan" yang dirayakan ini, merujuk pendapat Romo Mangunwijaya, rohaniwan cum sastrawan, insan-insan manusia yang dimaksud adalah pengikut atheis praktis, secara teori percaya pada Tuhan, tetapi dalam prakteknya mengabaikan secara total rujukan agama yang dianutnya. Tantangan kemanusiaan yang tidak ringan, dalam pengembangan karakter bangsa, pembangunan insan-insan manusia berbudi pekerti luhur dan kuat secara spiritual, stitha prajna.
Dalam fenomena di atas, sejarah "mengetuk" pintu kita, apakah kekuatan uang di atas akan memerosotkan peradaban, atau ancang-ancang melakukan perlawanan bersama, menyongsong era baru kebangkitan. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...