Hantu Itu Bernama Ateisme
Tak banyak yang mau berdiskusi soal ateisme. Sebab, di negeri yang agamis ini, ateisme jelas menakutkan, ibarat hantu. Maka, menjadi ateis sama saja memuja hantu. Walau demikian,...
Kematian datang menjemput tanpa undangan, kadang tanpa tanda-tanda. Seperti roda, kehidupan terus berputar hingga menemukan batasnya. Jika bisa memilih, manusia akan merencanakan kapan hari kematian itu tiba. Jika bisa memilih, manusia akan semakin semena-mena, apalagi jika bisa memutuskan kapan berhentinya kehidupan seseorang. Beruntunglah manusia tak tahu kapan hari kematian itu tiba. Walaupun begitu, ada kalanya, manusia mempunyai ego untuk mengatur kematian orang-orang termasuk dirinya sendiri.
***
Anak perempuan sepertiku tentu menyukai boneka beruang. Si beruang cokelat pemberian mama itu kunamakan Bobo, seperti nama majalah kesukaanku. Bobo menjadi pelipur lara bagiku. Ranty yang kesepian, Ranty yang selalu ditinggal bekerja, dan Ranty yang tak tahu kapan mama dan papa bisa mengajaknya bermain lagi. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, begitulah hal yang aku tahu setiap kali aku mengajak bermain walau hanya sebentar. Kadang aku lelah menunggu mereka pulang, ingin rasanya aku bisa menghilang dan mereka bingung mencariku.
Bobo menjadi temanku selama di rumah. Aku melakukan apa saja bersamanya. Kadang aku hanya diam dan menghayal jika Bobo bisa berbicara dan mengajakku bercerita apa saja. Aku ingin mengeluhkan bagaimana mama dan papa yang tak pernah peduli lagi denganku semenjak kesibukan mereka semakin banyak. Aku ingin Bobo menceritakan bagaimana enaknya menjadi boneka yang memiliki banyak teman karena mama membelikanku banyak boneka.
Aku ingin mengatakan betapa bosannya menjadi orang yang kesepian, kenapa mama dan papa selalu sibuk? Aku benci mereka! Bahkan untuk bermain denganku saja mereka tidak bisa. Apa gunanya aku buat mereka? Kenapa mereka melakukan ini padaku? Apakah aku bukan anak mereka?
Suatu hari pembantuku mengatakan bahwa ia berhenti bekerja menjadi pembantu di rumahku. Ibunya sakit keras, ia memerlukan perhatian yang lebih banyak sehingga pembantuku memilih untuk kembali ke kampungnya. Mama sudah menemukan pengganti, namanya Minah. Dia lebih muda dan cantik.
Dia sepertinya sangat akrab dengan mama, mereka terlihat seperti teman yang tak terpisahkan. Mereka mengobrol tentang banyak hal saat Minah baru sampai rumah. Minah tersenyum ramah padaku dan langsung mengajakku bermain. Dia berkata akan bekerja besok namun hari ini sudah pindah ke rumahku. Hari-hariku yang menyebalkan mulai terisi karena Minah selalu mau diajak bermain, entah di halaman atau hanya di kamar bermain boneka.
Suatu hari Minah tidak mau diganggu, katanya dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Aku pun hanya bisa diam bersama Bobo di dalam kamar. Hari itu aku mendengar suara mobil mama. Jarang sekali mama pulang secepat ini, pikirku. Aku pun menghampiri mama di pintu masuk, berharap ia akan mengajakku membeli boneka atau sekedar bermain di kamar.
Sayangnya, mama berkata dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Aku disuruh kembali masuk ke kamarku dan bermain dengan Bobo. Aku hanya bisa mendengus kesal dan mengiyakan perkataan mama. Tak berselang berapa lama, mama kembali memacu mobilnya ke jalan. Aku bergegas keluar, ingin melihat apakah benar mama pergi dengan mobilnya. Di tengah ruang tamu berbentuk persegi ini Minah berada di dekat jendela yang menghadap jalanan yang dilewati mobil mama.
“Minah, ngapain?” tanyaku yang sontak membuatnya terkejut. Muka Minah pucat tapi segera dia menyuruhku makan siang. Badan Minah terlihat sangat lelah seperti habis mengerjakan sebuah pekerjaan yang berat.
Beberapa hari setelahnya, mama sempat pulang siang hari tapi tak lama setelahnya ia kembali memacu mobilnya ke jalanan. Sepertinya mama makan siang di rumah, pikirku. Tapi kenapa dia tidak mengajakku? Apa masalahnya untuk makan siang bersama anaknya sendiri?
Aku pun bertanya pada Minah apa yang mama lakukan saat dia berada di rumah. Minah hanya berkata mama ingin makan siang sendiri dan mengambil dokumen yang ketinggalan. Ah, baiklah mama memang jahat padaku dan aku malas sekali mempermasalahkan hal ini.
Suatu hari papa pulang lebih cepat dari hari biasanya. Aku bergegas menyambutnya dan papa ternyata membelikan boneka baru untukku. Ini akan menjadi teman baru kamu, katanya. Boneka baru ini mirip sekali dengan bobo, boneka kesayanganku. Papa menyuruhku untuk bermain di dalam kamar dan tidak mengganggunya karena dia akan mengerjakan pekerjaan di rumah.
Aku hanya bisa mendengus kesal dan kembali masuk ke kamarku. Ternyata papa juga terlalu sibuk walaupun bisa pulang lebih cepat, tak ada bedanya dengan mama.
Papa mengetuk pintu kamarku dan mengajakku makan siang. Aku mengiyakan dan segera mengikuti papa ke meja makan. Di meja makan hanya ada nugget dan nasi putih dengan jus jeruk yang papa ambil di kulkas.
Cerita tentang mama yang sempat pulang tapi kembali memacu mobilnya ke jalanan aku ungkapkan ke papa. Ia mendengarkan dengan seksama dan aku mulai bercerita kemana-mana. Aku senang papa mau makan siang bersamaku, aku sangat jarang bertemu dengannya.
Aku melihat ada bercak merah di beberapa bagian kemeja papa.
“Papa kok kemejanya merah? Papa buka sambal sampai muncrat?” Papa melihat kemejanya.
“Iya sayang tadi botol sambelnya susah banget dibuka, Papa jadi ngga sengaja muncratin deh.”
“Oh trus mana botolnya, Pa? Kok ngga dibawa kesini?” Muka Papa yang terlihat kelelahan itu segera mengambil botol sambal ke dapur.
“Ini sayang, kamu mau?”
“Mau, Pa, eh tapi kok ini keliatannya belum pernah dikeluarin sih, Pa?”
“Nih papa tuangin ke makananmu, udah ya, papa capek mending makan makanannya biar ngga cepet dingin.” Aku hanya mengiyakan dan melanjutkan ritual makanku yang sempat tertunda.
Sampai malam aku tak melihat keberadaan Minah. Papa menemaniku bermain seharian dan aku benar-benar senang hari itu. Suara mobil mama terdengar dan aku mengajak papa untuk melihat mama. Papa mengiyakan dan berjalan bersamaku.
Aku ingin mengajak mama bermain, segera aku pergi ke pintu dan menyambut mama. Muka mama sangat lelah dan tanpa melihat ke arah papa, ia bergegas menuju kamarnya. Papa menyusul mama dan menyuruhku untuk masuk ke kamarku dan segera tidur. Aku kesal, lagi (dan lagi) mengiyakan perkataan mama karena mataku juga sudah mengantuk.
Di kamarku yang besar ini aku tidur bersama Bobo dan boneka baru yang belum kuberi nama. Tak berselang berapa lama, aku mendengar mama dan papa beradu mulut, entah apa yang mereka ributkan. Aku berusaha tak peduli dengan urusan orang-orang dewasa itu. Tubuhku sudah terlalu lelah karena main kejar-kejaran bersama papa sore tadi. Sebenarnya aku masih bertanya-tanya, di mana Minah?
***
Tubuhku terasa sedikit bergoyang, entah ini mimpi atau tidak. Aku merasa berada di tempat yang bukan kasur empukku. Mataku mulai sedikit terbuka, dan aku tidur di dalam mobil bersama Bobo dan boneka baru yang belum aku beri nama.
“Udah bangun, Sayang?” sebuah suara datang dari kursi pengemudi.
“Papa,” kataku lemah.
“Iya, ini Papa. Kamu tidur lagi sana, ini udah malam.”
“Papa mau ngajak aku ke mana?”
“Ngga ke mana-mana kok sayang, Kamu tidur aja lagi.”
“Ngga mau, Udah nggak ngantuk.”
“Yaudah kalau ngga mau tidur, kamu diem aja di sana.”
Aku menegakkan badan dan duduk sambil melepaskan selimut yang melapisi tubuhku. Aku duduk di kursi penumpang dan aku melihat di bagasi belakang ada dua plastik hitam besar.
“Itu plastik apa, Pa?” tanyaku pada papa yang masih fokus mengemudikan mobilnya.
“Itu Mama sama Minah sayang,” jawab papa singkat. Ketakutan seketika menyelimutiku.
“Kenapa, Pa?” tanyaku gemetar.
“Karena mereka saling menyukai,” kata papa. Aku diam, tak berani mengungkapkan apa-apa. Papa tak berbicara sepatah kata pun. Aku memberanikan untuk bertanya lagi
“Lalu kita akan kemana, Pa?”
“Ke neraka,” katanya singkat.
Aku bisa merasakan mobil papa tak lagi menyentuh tanah. Aku merasakan sensasi ketakutan yang menjadi-jadi di sekitar angin yang tak mampu menahan laju mobil ini. Suara terakhir yang aku dengar adalah deburan ombak yang keras, lalu air masuk dari sela-sela mobil dan menenggelamkan kami di tengah kegelapan malam. [T]
__________
__________
Tak banyak yang mau berdiskusi soal ateisme. Sebab, di negeri yang agamis ini, ateisme jelas menakutkan, ibarat hantu. Maka, menjadi ateis sama saja memuja hantu. Walau demikian,...
Anak-anak muda dan mahasiswa pegiat literasi di Singaraja, Bali, kian bertambah. Kini diwadahi oleh Omah Laras, berlokasi di Jalan Kutilang Gang Walet di kawasan Jalan Dewi Sartik...
Hari itu, 7 Februari 2019, tepat ketika kuhabiskan waktu liburan semesterku di kampung halaman, aku melanjutkan perjalananku kembali ke rantauku untuk kembali menimba ilmu. Men...
Terlahir sebagai seorang anak petani tambak yang dari kecil lebih akrab dengan bubu, sau, anco, titi, udang, ikan, kepiting, air asin, air payau dan kawan-kawannya, kadang s...
Saya mengenal Kambali Zutas dengan panggilan Ali ketika sama-sama bertugas menjadi wartawan di Singaraja, Buleleng. Sejak bertemu kami merasa serasi, setidaknya serasi sebagai tem...
Pernah ga kamu ngrasa tujuan hidupmu apa sih? Ngrasa kariermu gini-gini aja plus gajinya? Bakal jadi apa sih 5 tahun dari sekarang? Kehidupan asmara gimana? Jika pernah, selamat,...
Beberapa hari lalu saya dikagetkan oleh aksi seorang rektor yang memecat seluruh pengurus pers mahasiswanya karena persoalan cerpen yang disinyalir mengandung dukungan terhadap LG...
Bersepeda bukan sekadar olah raga kardio untuk melatih jantung. Dia adalah jenis olah raga yang kompleks. Dengan bersepeda kita bisa mencintai alam. Bisa untuk rekreasi. Itulah ke...
Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta seluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah i...
Baru kusadari. Ternyata saya punya tempat untuk bercerita. Mencurahkan isi hatiku. Berbagi pengalaman, berbagi kesederhanaan. Semua saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Salah satun...