Baru
kusadari. Ternyata saya punya tempat untuk bercerita. Mencurahkan isi hatiku.
Berbagi pengalaman, berbagi kesederhanaan. Semua saya tuangkan dalam bentuk
tulisan. Salah satunya tulisan amatiranku ini. Entah kapan saya mulai tertarik
dengan dunia menulis. Dan terkadang saya bingung. Saya suka menulis tapi tidak tahu
dimana genre menulisku. Kemudian
setelah saya membaca salah satu buku yang ku pinjam dari teman tetangga kost, saya
mempunyai gairah untuk menulis.
Buku itu berjudul “TE-WE (Travel Writer)” karya Gol A Gong. Buku yang sederhana, namun mampu membawa pembaca mengikuti alur cerita. Seakan pembaca perlahan digiring bagaimana mudahnya untuk menulis. Tidak usah bingung-bingung, ketika kamu berpergian itupun bisa kamu ceritakan dalam bentuk tulisan. Luar biasa. Sangat mudah bukan? Itu yang bisa saya petik dari buku itu.
Itulah
salah satu alasan kenapa saya tertarik menceritakan perjalananku di liburan
Nyepi yaitu Kamis, 8 Maret 2019.
Ini
adalah kali ketiga saya merasakan suasana Nyepi selama tinggal di Bali. Bagiku
itu adalah pengalaman yang luar biasa, karena dapat merasakan dan menikmati
suasana Nyepi. Namun Nyepi kali ini saya memilih untuk meninggalkan Bali
sejenak. Bukan karena saya terasa kesepian, yang jelas karena ada suatu alasan.
Dua
hari sebelum menjelang Nyepi, saya dan beberapa temanku memutuskan untuk melakukan
perjalanan ke sebuah kota yang ada di Jawa Timur. Tepatnya di kota Bodowoso.
Selasa, sekitar pukul 17.00 WITA, saya, Jaswanto, dan Zainul Fikri, Alaudin,
Achmad Chalim, dan Faruq Hasan berangkat menuju pelabuhan Gilimanuk. Mereka
semua berpasang-pasangan kecuali saya dan Faruq menyetir motor sendiri.
Beberapa
jam kemudian kami memutuskan untuk makan malam di warteg dekat pelabuhan
Ketapang, Banyuwangi. Nasi pecel dicampur sambel lalapan. Nikmat sekali.
Setelah makan malam, kami berpisah dengan ketiga teman yaitu Achmad Chalim,
Alaudin, dan Faruq. Mereka memang bertujuan untuk pulang ke Banyuwangi.
Sedangkan saya, Zainul Fikri, dan Jaswanto melanjutkan perjalanan kami menuju
Bondowoso.
Malam itu pengalaman pertamaku
menyusuri jalan di sepanjang Alas Baluran. Sangat panjang ternyata. Namun saya
tidak tahu persis berapa panjangnya, sebab saya tak pernah mengukurnya. Hahaha.
Sepanjang perjalanan itu kami saling
bergantian nyetir. Apabila salah satu dari kami bertiga merasa lelah, maka kami
mau tidak mau harus ganti posisi nyetir motornya. Memang itu sudah kesepakatan
kami di awal.
Apa
yang kamu pikirkan jika mendengar kota Bondowoso? Tape Bondowoso? Ya, benar
sekali. Namun selain terkenal dengan kota tape, Bondowos juga memiliki segudang
cerita tentunya. Penasaran? Baca tulisan ini sampai tuntas!
Desa
Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso adalah tujuan kami. Saya
menghela nafas panjang. Karena Jaswanto mengatakan bahwa rumah Taufik sudah
dekat lagi. Karena saya sudah tidak sabar untuk meluruskan badanku. Masak badan
diluruskan? Apalah itu namanya, saya kira kamu tahu maksdunya. Pantatku panas. Saya
juga sudah benar-benar tidak bisa menahan mataku. Seakan terdapat lem yang
merekat.
Iya,
itulah alasanku pergi ke Bondowoso. Yaitu bersilaturahmi ke rumah Taufik
tetangga kostku.
Sepanjang
perjalanan menuju kampung, banyak terdapat pemakaman. Itu hal biasa. Justru yang
membuatku bertanya-tanya, mengapa banyak orang malam-malam di kuburan? Itu saya
temui tidak hanya dalam satu tempat saja. Kalau tidak salah sekitar tiga
pemakaman terdapat orang-orang berkumpul dan terdapat lampu sebagai
penerangnya. Ada apakah itu?
Rabu,
sekitar pukul 02.00 WIB, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kedatangan kami
disambut hangat oleh keluarga Taufik. Kami dipersilahkan untuk masuk.
Bersalaman sekaligus berkenalan dengan keluarga baru. Ada mbak Titin kakak
perempuan, dan ada Cak Yasit suami mbak Titin, jadi sebagai kakak iparnya
Taufik.
Kami
berbincang-bincang sejenak sembari menunggu Taufik pulang. Kemudian saya
bertanya kepada mbak Titin, “kemana Taufik pergi, Mbak?”
Mbak
Titin menjawab, “Oh… anu, ada tetangga habis meninggal dan Taufik sepertinya
sedang di kuburan sekarang, Dik”
“Baru
dikuburkan sekarang Mbak?” Zainul Fikri menimbrung.
“Ndak… kemarin, cuma orang sini kalau ada
orang meninggal kuburannya harus dijagain sampai lima belas hari,” mbak Titin
menjelaskan.
Okkay fix, saya sekarang paham. Jadi saya dapat menyimpulkan
bahwa sepanjang perjalanan memasuki kampung ini terdapat banyak orang di
pemakaman, ternyata mereka sedang menjaga kuburan tersebut. Itu pertanda bahwa
ada orang yang baru meninggal.
Kepercayaan
warga setempat bahwa jika orang yang baru meninggal lalu dikuburkan, kemudian
jika kuburannya tidak dijagain hingga lima belas hari akan terjadi sesuatu pada
kuburan tersebut. Sebuah makhluk halus bernama godong akan mencari dan menggali kuburan jenazah yang baru
dikuburkan sebelum lewat limabelas hari. Katanya makhluk tersebut sejenis hewan
setengah manusia. Ah, agak sedikit susah dijelaskan.
Namun
warga sekitar menyakini bahwa mahkluk tersebut benar adanya, dan sukanya
mencari jenazah yang baru dikuburkan sebelum lewat limabelas hari. Oleh sebab
itu, orang-orang bersedia menjaga menjaga kuburan malam-malam sampai lima belas
hari. Bahkan beberapa orang tersebut ada yang dibayar oleh keluarga yang
bersangkutan, tapi tidak tahu berapa. Yang jelas penjaga kuburan limabelas hari
ini tidak gratis. Mungkin barangkali juga ada yang ikhlas membantu tanpa harus
dibayar.
Tak
lama kemudian Taufik datang bersama seorang teman. Kehebohan pun terjadi.
Padahal kalau tidak salah hari itu sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Kami berbincang-bincang
ngalor ngidul. Tapi saya sudah tak sanggup lagi melawan kantukku. Ku putuskan
untuk berbaring dan kemudian tidur.
Saya tidur sangat nyenyak, begitupun teman-teman yang lain. Ternyata setelah ku lirik jam di gawaiku jam menunjukkan sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Sontak saya terbangun.
Saya merasakan suasana desa yang benar-benar masih alami. Suara kicau burung dipagi hari, sumur yang masih tradisional, kran air yang masih agak langka kebanyakan hanya di masjid saya menemukan banyak kran air. Sisanya hanya warga tertentu yang memiliki kran air sendiri. Selain itu masih banyak orang-orang yang mencuci baju di sungai, mandi di sungai, bahkan orang sekitar masih jarang yang memiliki kamar mandi di dalam. Mereka masih banyak menggunakan jamban. Benar-benar masih suasana desa. Ini mengingatkanku pada jaman sebelum saya sekolah TK dulu.
Bukit Arak-Arak, memiliki udara yang sejuk dengan pemandangan yang sangat indah. (Dokumentasi: Mochamad Rifa’i)
Dan yang paling saya suka dari desa ini adalah udaranya. Sejuk. Karena desa ini terbilang daerah pegunungan. Ya, seperti ala-ala Bedugul gitu. Hehehe. Tapi benar, kok, udaranya sangat sejuk. Bahkan matahari jarang menampakkan diri.
Tak
hanya itu saja. Ternyata di desa Glingseran ini terdapat sesuatu yang luar
biasa. Sebuah peninggalan sejarah, yaitu sarkofagus terpampang nyata di desa
ini. Bahkan tempat ini dijaga oleh juru pelihara Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala (BP3) Jawa Timur, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.
Untuk
menuju ke sana harus jalan kaki melewati sebuah ladang-ladang sekitar lebih
kurang 200 meter. Karena memang peninggalan sejarah ini terdapat di tengah ladang
masyarakat.
Benar.
Sebuah situs sarkofagus dari peninggalan jaman megalitikhum terdapat di Desa
Glingseran. Kami memasuki ladang jagung. Batu-batu tersebut terdapat di tengah ladang
jagung. Karena pas kami berkunjung di sana, warga sekitar lagi musim menanam
jagung.
Batu
petama terlihat setengah permukaan saja. Masih belum memperlihatkan ciri-ciri
peninggalan sejarah. Hanya terlihat seperti bongkahan batu besar hitam yang
sudah lapuk dimakan usia.
Sarkofagus yang pertama yang terdapat tidak jauh dari jalan akses menuju ke Situs Bersejarah Glingseran (Dokumentasi: Taufikur Rahman)
Baru
setelah beberapa meter dari batu pertama terdapat batu yang besar. Panjangnya
sekitar 3 meteran. Batu yang kedua ini sepertinya terbelah. Karena terlihat
kedua sisi batu ditengahnya terdapat jarak yang sedikit terpisah. Namun dalam
batu itu dalamnya terdapat seperti bidang ruang. Sarkofagus ini fungsinya
sebagai keranda yang terbuat dari batu besar berbentuk lesung atau palung yang
terdapat tutup di atasnya.
Saya
membayangkan, orang jaman dulu ternyata sudah memiliki pemikiran dan teknologi
yang hebat. Bayangkan saja, peralatan apa yang mereka gunakan untuk memahat
batu sebesar itu? Hebat bukan? Jelas, luar biasa.
Menginjak
batu yang ketiga. Hampir sama bentuknya. Seperti batu yang ke dua. Namun batu
yang ketiga ini ukurannya yang agak sedikit kecil dibandingkan batu yang kedua.
Dari ketiga batu tersebut yang memiliki ukuran paling kecil adalah batu yang
pertama.
Zainul Fikri mengabadikan momen di Sarkofagus yang kedua (Dokumentasi: Taufikur Rahman)
Jadi,
dari batu-batu inilah saya bisa menemukan hal baru. Bahwa Indonesia kaya akan
sejarah. Tapi sayang, ketika kami ke sana tidak terdapat sebuah papan informasi
yang menandakan tulisan singkat batu ini. Namun kata salah satu teman kami asal
Desa Glingseran, dulunya pernah terdapat papan informmasi yang berisikan
deskripsi dari masung-masing batu. Namun kini sudah tidak ada jejaknya. Rusak
ataukah bagaimana, ia mengatakan juga kurang tahu.
Kabupaten Bondowoso menjadikan Desa
Glingseran sebagi objek tujuan wisata sejarah purbakala. Meskipun mengandalkan
situs sejarah sarkofagus sebagai daya tarik wisata, pada kenyataanya pemerintah
setempat masih kurang memerhatikan akses jalan menuju ke tempat tersebut.
Situs ini sangat cocok sebagai sarana edukasi. Selain itu bagi anak Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) sangat cocok sebagai objek tujuan jelajah. Karena melewati ladang-ladang yang berundak. Penasaran dan tertantang ingin tahu seperti apa situs sejarahnya? Datang langsung ke Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...